Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Perubahan Pada Yesi


__ADS_3

Yesi turut serta mengikuti Irwan ke kantor karena penasaran dengan klien baru papahnya yang selalu di banggakan olehnya.


Irwan berangkat ke kantor bersama Yesi. Hanya berapa menit saja telah sampai di kantor.


"Duduklah dulu, sebentar lagi klien papah datang."


"Baiklah, pah."


"Tok tok tok." Pintu ruang kerja Irwan di ketuk.


"Masuklah."


Masuklah Kristina bersama Rere.


"Selamat datang di kantorku, Nona. Silahkan duduk." Irwan bangkit berdiri dan mempersilahkan duduk Rere dan Kristina.


"Nak, ini rekan bisnis papah yang sering papah ceritakan." Irwan tersenyum pada Yesi.


Yesi pun menoleh ingin mengetahui wajah rekan bisnis papahnya.


"Hay, namaku Kristin dan ini asistenku Rere." Kristin bangkit berdiri menghampiru Yesi seraya tersenyum dan mengulurkan tangan.


Sejenak Yesi terpaku terdiam menatap Kristina.


"Oh my God, ternyata rekan bisnis papah adalah wanita yang sangat aku benci!" batinnya menahan geram.


"Nak, kenapa kamu diam saja. Nona Kristin menyapamu." Irwan menepuk bahu Yesi, yang membuat Yesi terhenyak kaget dari lamunannya.


"Eh, maaf. Namaku Yesi, senang berkenalan denganmu." Yesi menerima jabatan tangan Kristina dan Rere.


"Mimpi apa aku semalam, pagi ini harus bertemu dengan musuh terbesarku ini!" batinnya geram.


"Hem, mungkin aku harus dengan cara halus dalam menyingkirkan Kristin. Yakni berpura-pura bersahabat dengannya." Batinnya kembali.


"Inilah wanita muda yang sering papah ceritakan padamu, masih muda tapi sudah sukses." Irwan memuji Kristina.


"Masih muda tapi sudah jadi jand," ucap Kristina terkekeh.


"Itu bukan masalah, Nona. Saya yakin suatu saat Nona akan mendapatkan pria yang lebih baik dari mantan Nona," Irwan menimpali.


"Oh iya, sebaiknya kamu panggilku Kristin saja karena kita sepertinya seumuran." Kristina tersenyum pada Yesi.

__ADS_1


"Baiklah, Kristin. Panggilku Yesi saja ya." Yesi mencoba tersenyum walaupun hatinya ingin mencabik-cabik Kristina.


"Hem, disinlah aku sedang di uji kesabaranku. Dimana aku harus bersikap manis dengan wanita yang sangat aku benci ini," batin Yesi.


Namun kepura-puraan Yesi bisa di baca oleh Rere.


"Sepertinya Yesi tidak menyukai Kristin, terlihat dari sikap dan tutur katanya seperti di paksakan dan di buat-buat," batin Rere.


"Aku harus waspada, aku nggak ingin Kristin di tikam dari belakang lagi seperti waktu itu oleh Sherlyn," batin Rere.


Mereka berempat bercengkrama selama beberapa menit, dan setelah itu Kristina dan Rere berpamitan.


Seperginya Rere dan Kristina, Yesi menghampiri Irwan.


"Pah, Yesi telah memutuskan akan mulai mengurus kantor sesuai kemauan papah." Yesi mencoba meyakinkan Irwan.


"Baguslah, memang ini yang telah lama papah harapkan darimu. Ini baru anak papah yang cantik," Irwan mencubit hidung Yesi.


"Maaf ya, pah. Aku ingin mempelajari tentang kantor supaya aku mudah menghancurkan Kristin dengan cara halus," batin Yesi.


Setelah pertemuan itu, Yesi mulai aktif berada di kantor. Perlahan tapi pasti, Yesi mulai bisa memahami semua urusan kantor.


Karena selama ini Alberto melihat Yesi hanyalah seorang gadis manja yang hanya bisa shopping dan menghabiskan uang orang tua saja.


Waktu berlalu begitu cepat, kini Yesi telah bisa menguasai semua tentang perusahaan. Bahkan kini telah menjadi direktur di salah satu perusahaan milik papahnya.


"Papah bangga sama kamu, Yes. Hanya dalam waktu singkat kamu belajar tapi telah bisa menguasai semua data-data dan berkas serta segala urusan perusahaan." Irwan memuji Yesi.


"Jelas dong, semua Yesi lakukan demi papah dan mamah. Supaya semua orang juga tak mencibir Yesi terus, dengan mengatakan Yesi anak manja yang hanya bisa menghabiskan uang papah saja " Yesi tersenyum bahagia.


"Bagaimana kerja samamu dengan Kristin?" tanya Irwan menyelidik.


"Sejauh ini nggak ada masalah, pah. Kerja sama kami baik-baik saja." Jawab Yesi singkat.


"Karena aku belum buat masalah jadi belum ada masalah, pah." Batin Yesi.


"Syukurlah, kalau kerjasama kita dengan perusahaan Kristin nggak ada masalah." Irwan menyeringai puas.


Hatinya berbunga-bunga karena perubahan drastis yang terjadi pada diri Yesi. Padahal Yesi melakukan itu semua demi bisa menyingkirkan Kristina dan untuk bisa mendapatkan Alberto.


"Tunggu saja Kristin, untuk saat ini aku memang belum melakukan apa pun padamu. Karena aku sedang mencari kelemahan darimu," batin Yesi.

__ADS_1


Sementara Rere sedang bercengkrama dengan Kristina di kantornya.


"Kristin, aku minta kamu jangan terlalu dekat dengan Yesi. Maksudku jangan terlalu percaya karena aku mempunyai firasat buruk tentangnya," Rere berusaha memperingati sahabat baiknya itu.


"Atas dasar apa kamu ngomong seperti itu?" Kristina mengernyitkan alis.


"Kamu tanya saja sama Alberto, dia kenal dengan Tuan Irwan dan Yesi. Aku telah menyelidiki tentang Yesi. Dia sempat di jodohkan dengan Alberto, tapi Alberto menolaknya. Dengan alasan tidak mencintai Yesi, tapi mencintai wanita lain. Aku rasa wanita yang di cintai Alberto adalah kamu. Aku khawatir Yesi akan mencelakaimu seperti yang di lakukan Sherlyn padamu." Ucap Rere panjang lebar.


"Dari mana kamu tahu semua itu, sedang aku malah nggak tahu sama sekali. Alberyi tidak pernah bercerita sedikitpun tentang Yesi." Kristin masih tidak percaya.


"Sumber yang aku dapat sangat akurat yakni dari asisten pribadi Tuan Alberto si Rony." Jawab Rere singkat.


"Hem, jangan-jangan kamu sedang dekat dengan Rony." Kristin menyelidik.


"Tidak, aku cuma sekilas iseng cerita tentang Yesi pada Rony. Saat kami tak sengaja bertemu di suatu tempat, beberapa waktu lalu," kata Rere sekenanya.


"Tanyakan saja pada Alberto apakah dia mengenal Yesi atau tidak." Saran Rere.


Hingga pada saat Kristina bersama Alberto, dia memberanikan diri bertanya padanya tentang Yesi dan Irwan.


"Ka, sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Tapi jangan tersinggung." Kata Kristina sedikit ragu.


"Tanya saja, aku nggak akan marah dan aku akan menjawabnya dengan jujur." Kata Alberto tersenyum.


"Apakah ka Albe kenal dengan Tuan Irwan dan Yesi?" tanya Kristina lirih.


"Ya kenal, memangnya ada apa dengan mereka? apakah mereka menyakitimu?" Alberti bertanya balik.


"Tidak, saat ini aku malah bekerja sama dengan Tuan Irwan dan Yesi." Jawab Kristina.


"Yesi kan anak manja yang hanya bisa shopping dan ke salon. Mana mungkin bisa mengurus urusan kantor Om Irwan, ngaco kamu," Alberto tak percaya dengan ucapan Kristina.


"Serius kok, ka. Saat ini Yesi memimpin sebuah perusahaan milik Tuan Irwan dan bekerja sama denganku pula." Kata Kristina.


"Ka, apa benar kaka sempat di jodohkan dengan Yesi?" tanya Kristina ragu.


"Ya benar, tapi aku nggak mau karena aku tak mencintainya. Aku juga tak mencintai wanita manapun. Dari dulu hanya Titin yang aku cinta sampai sekarang. Tapi aku nggak tahu apakah dia juga mencintaiku," Kata Alberto mengedipkan mata ke Kristina.


*********


Mohon dukungan like,vote,favoritnya..

__ADS_1


__ADS_2