Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Hukuman Sherlyn


__ADS_3

Waktu persidangan pun di mulai, Kristina duduk di sebelah Alberto. Setelah melihat, menimbang, dan memutuskan. Sherlyn di hukum dengan tujuh tahun masa tahanan karena telah melakukan pencobaan pembunuhan.


Sherlyn tak bisa berkata apa-apa, dia telah pasrah dengan keputusan yang telah di berikan oleh hakim. Dia hanya diam saja nggak ada perlawanan saat di bawa ke dalam sel yang telah di siapkan untuknya.


"Ka, terima kasih karena telah mengungkap pelaku kejahatan terhadapku. Aku masih tak percaya dengan apa yang telah di lakukan oleh Sherlyn padaku. Padahal kita masih saudara tapi Sherlyn sampai sebegitu kejamnya ingin menghabisi nyawaku " Kristina menghela napas panjang.


"Sudahlah, Tin. Nggak usah terlalu di pikirkan, namanya sifat iri itu menggelapkan mata hati tidak peduli dia itu saudara. Ada banyak yang bukan sepupu tapi saudara kandung yang melakukan hal lebih parah dari Sherlyn." Alberto menyungingkan senyum.


"Sekarang lebih baik kita pulang, karena kamu masih harus banyak istirahat. Jangan membantah atau pun melanggar apa yang aku sarankan. Kalau aku belum mengijinkanmu bekerja, tolong patuh karena semua demi kesehatanmu." Alberto mengedipkan mata pada Kristina.


"Hem, memang dari dulu kakak suka banget ngatur." Kristina manyun.


"Tapi kan demi kebaikanmu, pikirkanlah Mila. Apa kamu mau selamanya sakit, terus Mila ntar bagaimana?" Alberto meyakinkan Kristina.


"Ya, pak dokter." Kristina terkekeh.


"Aku senang saat melihatmu tersenyum seperti ini, Titin. Sebenarnya aku ingin mengungkapkan isi hatiku sekarang juga. Tapi sepertinya bukan waktu yang tepat dan terlalu cepat," batin Alberto.


"Tapi aku tidak akan melepasmu lagi, Titin. Setiap saat aku akan selalu ada di dekatmu karena aku tak ingin ada pria lain lagi yang memilik dirimu, karena kamu hanyalah milikku seorang," batin Alberto seraya melirik Kristina.


Kristina menuruti perintah Alberto, dia pun pulang untuk istirahat.


"Titin, aku pulang ya. Jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku." Alberto tersenyum seraya mengusap kepala Kristina.


"Baik, ka. Sekali lagi terima kasih." Kristina lekas melangkah masuk dalam rumah.


Sementara sebelum Alberto masuk dalam mobil, mengumpulkan para anak buahnya yang berada di rumah Kristina. Semua di beri nasehat harus selalu waspada dalam menjaga Kristina dan anaknya.


Setelah selesai memberi instruksi pada semua anak buahnya, barulah Alberto melanjutkan perjalanannya menuju ke kantornya.


"Sepi banget rasanya nggak beraktifitas di rumah saja seperti ini," Kristina memencet nomor ponsel Rere.


📱" Hallo, Re. Bagaimana kondisi kantor?"


📱" Semua baik aman terkendali. Bagaimana kesehatanmu?"

__ADS_1


📱" Sebenarnya aku sudah sehat, ingin ke kantor hari ini. Tapi Alberto belum mengijinkan, tadi cuma menghadiri persidangan Sherlyn."


📱" Jadi orang yang telah meracunimu adalah Sherlyn? Hebat ya Alberto, dengan gerak cepat bisa mengerti kalau Sherlyn yang telah meracunimu."


📱" Ya, aku juga sampai sekarang masih belum percaya kalau Sherlyn yang melakukan hal ini padaku."


📱" Sudahlah, sekarang kamu fokus saja. Nggak usah memikirkan urusan kantor dulu, dengarkan saja apa yang Alberto sarankan."


📱" Baiklah, terima kasih sudah menghandle kantor."


📱" Baiklah, sama- sama. Aku tutup telponnya, karena sebentar lagi ada deadline."


📱" Ok, kabari saja jika butuh sesuatu."


Sesudah itu keduanya sama-sama mematikan telponnya.


"Syukurlah, setidaknya urusan kantor tidak sampai terbengkalai," batin Kristina.


Dirinya merebahkan tubuhnya di pembaringan. Dan perlahan matanya terpejam.


"Maaf, Tuan Irwan. Deadline pagi ini saya yang memimpin, karena Bu Kristin sedang dalam pemulihan," Rere menangkupkan kedua tangannya seraya tersenyum ramah.


"Loh, memangnya Nona Kristin sedang sakit apakah?" Irwan merasa penasaran.


"Cuma kecapean saja, Tuan." Jawab Rere berbohong.


"Oh, syukurlah jika tidak ada suatu penyakit yang serius. Jangan lupa nitip sakam buatnya, semoga lekas di pulihkan kesehatannya agar bisa lekas kembali aktif di kantor," kata Tuan Irwan.


"Baiklah, Tuan. Nanti saya sampaikan salam dari Tuan pada Bu Kristin," kata Rere seraya tersenyum ramah.


Deadline pun di pimpin oleh Rere, dan semua berjalan lancar tidak ada halangan apa pun. Dan Tuan Irwan juga merasakan puas hingga akan terus melanjutkan kerja samanya dengan perusahaan Kristina.


Setelah selesai urusan kantor, Irwan berpamitan karena ada urusan lain yang juga harus segera di selesaikan.


Irwan merasakan sedikit pening setelah menghadiri deadline di kantor Kristina, hingga memutuskan untuk istirahat di rumah.

__ADS_1


"Loh, papah kok sudah pulang?" Yesi mengernyitkan alis.


"Iya, papah sedikit pening. Harusnya kamu sudah mulai bisa mengurus kantor. Mau sampai kapan hidupmu hanya memikirkan shopping dan traveling. Papah ini semakin hari semakin menua, kalau bukan kamu yang kelak mengurus kantor. Lalu siapa lagi?" Irwan mencoba menasehati Yesi.


"Gampang, pah. Ntar juga Yesi pasti bantu papah untuk mengurus kantor. Tapi untuk saat ini Yesi belum siap." Jawabnya singkat.


"Terus siapmu kapan? Kalau kamu seperti ini terus, nggak akan ada pri yang mendekatimu," Irwan menakut- nakuti Yesi.


"Ih, masalah kantor kok nyambungnya ke masalah jodoh. Nggak banget dech papah," Yesi mulai geram.


"Hem, ya sudahlah terserah kamu. Papah mau istirahat dulu, kepala pusing sekali," Irwan melangkah menuju ke kamarnya.


"Ah, sebel banget kalau kelak mengurus kantor papah. Kenapa pula aku nggak punya saudara, coba aku punya kakak. Kan setidaknya tidak seperti ini, sebentar-sebentar bilang masalah kantor padaku." Gerutu Yesi mendengus kesal.


****


Waktu berjalan begitu cepat, kini kondisi Kristina sudah benar-benar pulih. Hingga sudah bisa beraktifitas ke kantor kembali.


Hubungannya dengan Alberto juga semakin dekat saja. Namun kedekatannya juga tak di sukai oleh Yesi.


"Bagaimana caraku menyingkirkan si janda itu?" batin Yesi.


"Hem, jika papah tidak terus-terusan memojokkanku masalah perusahaan. Pasti otakku sudah menemukan jalan untuk menyingkirkan si janda genit itu," kembali Yesi menggerutu sendiri.


"Nak, ikut papah ke kantor sekarang. Karena mulai hari ini papah ingin memulai mengajarimu tentang urusan kantor. Kamu juga akan papah perkenalkan dengan klien papah yang seusiamu," Irwan berkata seraya bersemangat.


"Jangan bilang papah mau menjodohkanku dengan rekan bisnis papah?" Yesi sudah kesal duluan.


"Hhaa, kamu belum apa-apa sudah berprasangka buruk dulu dengan papah. Kelak kamu yang akan menggantikan papah, makanya papah akan perkenalkan klien papah satu persatu padamu. Klien yang mau papah kenalkan yang seumuranmu klien wanita. Masih muda tapi sudah sukses, papah ingin kamu bisa menjadi wanita mandiri seperti klien papah yang satu ini," Irwan menjelaskan panjang lebar.


"Hem, seperti apa sih? kok aku jadi penasaran, karena sepertinya papah sangat menyanjungnya," batin Yesi.


"Baiklah, pah. Aku akan berganti pakaian dulu." Yesi melangkah masuk menuju kamarnya.


*******

__ADS_1


Mohon dukungan like,vote,favorit..


__ADS_2