
Setelah begitu cukup lama di kantor polisi, Alberto segera pulang karena selalu teringat Kristina.
"Ron, antarku ke rumah sakit. Oh iya, sampai lupa. Aku bawa mobilnya Kristin." Alberto gundah gulana.
"Tuan, apakah ada yang bisa aku bantu? Tuan, sepertinya sedang banyak permasalahan?" Rony memberanikan diri bertanya.
"Kamu memang benar, Ron. Aku sedang pusing karena anak Kristin juga di celakai orang. Permasalahan satu belum selesai, datang lagi permasalahan yang lain." Alberto memijit pelipisnya.
"Saya akan mencoba bantu, Tuan. Semoga saja bisa menemukan jalan keluarnya untuk permasalahan, Tuan." Kata Rony menawarkan diri.
"Tapi pekerjaanmu sendiri juga telah banyak, karena perusahaan sedang banyak pekerjaan. Sebaiknya kamu fokus saja membantuku di perusahaan, biar aku cari cara lain." Alberto menghela napas panjang.
Rony hanya diam saja, namun di dalam hati dia akan tetap membantu majikannya dalam menyelesaikan permasalahan.
Tanpa di minta, Rony mengikuti laju mobil Alberto. Walaupun majikannya telah melarangnya.
Mereka melajukan mobil menuju kerumah sakit kusus anak. Dimana saat ini Mila sedang di rawat
"Sayang, bagaimana? apa kamu kenal ojek yang ada di CCTV?" tanya Alberto penasaran.
"Nggak ka, sama sekali aku nggak kenal. Kemungkinan ojek ini nggak bersalah, dia hanya menjalankan tugasnya sebagai tukang gojek." Jawab Kristina sekenanya.
"Ka, mending nggak usah di perpanjang karena hanya bikin pusing saja." Kristina menghela napas panjang.
"Tapi kalau tidak di selidiki, aku khawatir penjahat itu akan melakukan kejahatan yang lebih parah padamu ataupun pada Mila." Alberto meyakinkan Kristina.
"Si Nanang saja sudah di bunuh oleh orang, kemungkinan orang tersebut yang telah menyebarkan berita hoax tentangmu." Kata Alberto.
"Aku nggak bisa berpikir, kak. Kalau sedang seperti ini, kalau anak sedang sakit. Apa lagi ini karena ulah kejahatan orang."
"Aku nggak habis pikir, ka. Jika orang itu nggak suka sama aku, harusnya berurusan denganku saja jangan dengan anakku yang tak tahu apa-apa." Kristina menahan rasa sedihnya.
"Sudahlah, sayang. Jangan kamu bersedih, yang penting saat ini Mila sudah membaik. Semoga aku bisa mengungkap pelaku yang sebenarnya, baik pelaku berita hoax tentangmu juga pelaku yang racun Mila."
Alberto mencoba menenangkan hati Kristina.
"Sekarang yang paling utama kita harus berhati-hati dan lebih mawas diri. Rumahmu sudah aku kirim anak buahku untuk menjaganya kembali. Maafkan aku, sempat menghentikan penjagaan di rumahmu, pikirku sudah aman karena Yesi sudah ada di LA. Dan mantan suamimu juga sudah entah dimana." Alberto merengkuh Kristina dalam pelukannya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, ka. Janganlah merasa bersalah, mungkin memang aku sedang di uji oleh sang Kuasa." Kristina melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alberto.
"Maaf, Non Kristin. Boleh saya melihat sopir ojek yang mencurigakan itu?" tiba-tiba Rony berkata.
Membuat Kristina dan Alberti sama-sama terhenyak kaget. Karena mereka sama sekali tak melihat kedatangan Rony.
"Ron, kalau datang bisa ketuk pintu dulu kan? bikin orang jantungan saja!" Alberto melepaskan pelukannya dari Kristina.
"Sudah, Tuan. Saya sudah berkali-kali mengetuk pintu tapi Tuan maupun Nona Kristin tidak ada yang mendengar. Maafkan saya, Tuan." Rony menundukkan kepala.
"Bukannya sudah kubilang, biarlah ini menjadi urusanku saja." Alberto mengerucutkan bibirnya.
"Maafkan saya, Tuan. Kebetulan saya punya banyak sekali kenalan yang bekerja menjadi sopir ojek. Dan pemilik perusahaan pergojekan juga sahabat saya. Setidaknya saya ingin membantu menyelidiki identitas sopir ojek tersebut." Rony berusaha meyakinkan Alberto.
"Baiklah."
"Sayang, tunjukan rekaman CCTV di halaman rumah pada Rony." Perintah Alberto pada Kristina.
"Ka, aku tadi kan sudah bilang. Kalau akan menutup kasus ini, nggak usah di perpanjang kembali." Kristina mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, ini kamu lihatlah sendiri." Kristina membuka ponsel dan memperlihatkan rekaman CCTV di halaman apartement.
Rony melihat dengan seksama sopir gojeknya dan mencatat nomor kendaraan bermotornya.
"Ini, Nona. Terimakasih, semoga saya lekas bisa mengetahui identitas sopir ojek ini. Saya permisi, Tuan." Rony menundukkan kepala lalu melangkah pergi.
Dia segera ke kantor ojek temannya untuk menanyakan hal itu. Karena jarak tak begitu jauh, sebentar saja telah sampai.
"Hey, Ron. Ada angin apa kamu datang kemari?" tanya pemilik perusahan ojek.
Dia bernama Ronald, teman semasa kuliah. Dia mewarisi semua peninggalan papahnya yakni perusahaan ojek.
"Kangen sama kamu, makanya kemari." Rony menjatuhkan pantatnya di kursi di hadapan Ronald.
"Bro, aku butuh bantuamu. Coba lihatlah, apa sopir ojek ini bekerja padamu?" Rony memperlihatkan foto sopir ojek yang ada di CCTV halaman apartement Kristina.
"Memangnya ada apa dengan sopir ojek ini, apa dia buat masalah denganmu?" Ronald merasa penasaran.
__ADS_1
Rony menceritakan semuanya pada Ronald supaya dia tidak penasaran dan terus saja bertanya.
"Kalau aku nggak apal satu persatu pekerjaku. Karena mereka tak pernah berhadapan langsung denganku. Nanti aku tanyakan pada bagian personalia atau bagian marketing." Ronald menelpon dari ruang kerjanya ke bagian personalia.
Tak berapa lama, karyawati di bagian personalia segera datang. Ronald bertanya tentang sopir ojek tersebut.
"Maaf, Tuan Ronald. Ini Pak Dery, tapi dia telah mengundurkan diri pagi tadi. Dia telah mengembalikan semua fasilitas untuk mengojek." Kata bagian personalia.
"Masih menyimpan data tentangnya kan?" tanya Ronald pada karyawatinya.
"Masih, Tuan. Sebentar saya ambil di ruangan saya." Karyawati tersebut melangkah keluar dari ruang kerja Ronald.
Tak berapa lama, dia datang kembali dengan membawa stop map berisikan data dari Pak Dery. Dan menyerahkan stop map tersebut pada Ronald.
"Kembalilah ke ruang kerjamu." Perintah Ronald pada karyawatinya.
Karyawati tersebut melangkah keluar dari ruang kerja Ronald dan kembali ke ruangannya.
"Ini data sopir ojek yang kamu tanyakan." Ronald menyerahkan stop map tersebut pada Rony.
Rony tidak membacanya, melainkan mengabadikannya dengan hasil jepretan kameranya.
"Bro, terima kasih ya. Aku nggak berlama-lama karena akan langsung pergi ke rumah Pak Dery." Rony tersenyum pada Ronald.
"Nggak apa-apa, bro. Nex time kita bertemu lagi, semoga segera di temukan pelaku yang meracuni anak kecil itu." Ronal tersenyum.
Mereka sama-sama bangkit dari duduknya dan saling bersalaman. Ronald mengantar Rony sampai ke halaman kantornya.
Seperginya Rony, Ronald menggerutu sendiri di dalam ruangannya.
"Hem, ada-ada saja yang di alami oleh majikan Rony dan calon istrinya. Hari gini, masih ada orang jahat yang tega mengorbankan anak kecil yang tak berdosa." Gerutunya seraya menghela napas panjang.
Sementara saat ini Rony segera ke alamar rumahnya Pak Dery.
*******
Mohin dukungan like, vote, favorit..
__ADS_1