
Pagi menjelang, apa yang di khawatirkan oleh Yesi benar-benar terjadi. Saat dia keluar rumah, baik di pusat perbelanjaan, di pom bensin, atau di jalan-jalan, semua orang mencibirnya.
Tidak ada satupun yang menyukainya, semua mencemooh tindakan konyolnya.
"Baru kali ini, aku merasakan yang namanya malu. Sebelumnya aku tak pernah merasakan semalu ini," gerutunya seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Temanku semuanya menjauhiku, tidak ada satupun yang mau bergaul denganku," kembali lagi Yesi menggerutu kali ini menungkupkan wajahnya di kemudi mobil.
"Bagaimana aku menghadapi semua orang, bagaimana aku menghadapi dunia ini? aku terbiasa dengan suasan hiruk pikuk, dan kebersamaan bersama teman-teman. Sekarang aku sama sekali tak memiliki teman satupun," gerutunya kembali.
Berkali-kali Yesi berkeluh kesah, tapi tak sekalipun merasakan penyesalan. Dia malah selalu menyalahkan Sendy dan Irwan. Bukannya mengoreksi kesalahannya sendiri.
Sementara saat ini Alberto telah melaporkan Sendy ke aparat hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Aparat polisi menerima laporan dari Alberto, apa lagi dia orang ternama di kota tersebut. Polisi segera menindaklanjuti Sendy. Mereka segera berangkat ke rumah Sendy.
"Selamat pagi, bisa kami bertemu dengan Saudara Sendy?" salah satu aparat polisi bertanya pada Elsa.
Karena kebetulan Elsa sedang menyirami pepohonan kesukaannya.
"Aduh, bagaimana ini? apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi juga," batin Elsa mendadak gemetaran panik gelisah dan takut.
"Nyonya, kenapa anda diam saja. Kami ingin bertemu dengan Saudara Sendy," kembali lagi aparat polisi berkata.
"I-iya, pak. Sebentar saya panggilkan." Elsa melangkah masuk mencari keberadaan Sendy.
"Sendy, cepat bangun." Elsa mengguncang tubuh Sendy yang masih ternyenyak dalam tidurnya.
Sendy tak jua bangun, kembali lagi Elsa membangunkannya. Kali ini Elsa mengambil air di dalam gayung, dan membasuh muka Sendy dengan air, barulah dia terbangun.
"Mah, ada apa sih? aku lagi mimpi indah bertemu bidadari cantik sekali, malah di bangunin!" celetuk Sendy mengacak-acak rambut sendiri.
Dia bukanya lekas bangun, malah melanjutkan tidurnya kembali. Membuat Elsa menjadi semakin kesal, akhirnya Elsa menyiram air dalam gayung kekepala Sendy. Sontak Sendy kaget dan akhirnya terbangun.
__ADS_1
"Mah, kejam banget sih! perilaku sudah seperti ibu tiri saja!" Sendy mengusap wajahnya yang basah karena air.
"Mah, biasa kan jam segini aku masih tidur! untuk apa pula di bangunkan?" Sendy menguap seraya menghela napas panjang.
"Hari ini sedang tidak biasa, jadi cepat bangun. Karena di pelataran sudah ada beberapa polisi mencarimu," Elsa berkata dengan lantangnya.
"Apa, yang benar saja!" Sendy membola seraya terperangah serasa tak percaya.
"Cepat bangun, para polisi sudah terlalu lama menunggu!" bentak Elsa.
"Tapi, mah." Sendy ketakutan dan panik.
"Kenapa, takut? bukannya kamu pernah bilang, nggak akan ada polisi yang mencarimu? dan bila ada kamu nggak akan takut?" Elsa berkata mengejek.
"Mah, apa nggak bisa mengatakan pada polisi jika aku tidak ada di rumah," Sendy masih saja ketakutan.
"Enak saja, mamah juga takut! nggak berani menentang mereka, apa lagi yang datang nggak cuma satu orang. Mukanya serem-serem pula," Yesi semakin menakuti Sendy.
"Mah, please. Katakan pada polisi, kalau aku nggak ada di rumah," kembali lagi Sendy membujuk Elsa.
"Mah, tunggu! aduh, bagaimana ini? kenapa pula polisi mencariku? aku pikir Albert tidak akan berani melaporkanku!" Sendy bangkit lekas ke kamar mandi.
Dia sengaja bersembunyi di kamar mandi. Namun polisi tetap menemukannya, kareba Elsa yang mengatakan jika Sendy berada di dalam kamar dan tidak mau keluar.
"Saudara Sendy, lekas buka pintunya atau akan kami dobrag!" bentak aparat polisi.
"Aduh, bagaimana ini?" Sendy ketakutan di dalam kamar mandi.
"Saudara Sendy, cepat buka pintunya!"
Namun Sendy tetap tidak membukanya, hingga akhirnya polisi menembakkan pistol sebagai tanda peringatan.
"DOR!!!!" Bunyi sebuah tembakan sangat nyaring.
__ADS_1
"Sendy, cepat keluar." Elsa gemetar ketakutan saat mendengar suara tembakan.
"Saudara Sendy, jika sekali lagi anda tidak bersedia membuka pintu, terpaksa kami akan menembak ulang!" ancam aparat polisi.
"Aduh, jika mereka menembak kemari. Bisa saja mengenai tubuhku. Lebih baik aku menyerah saja." Sendy perlahan membuka pintu kamar mandinya.
Segera dua aparat polisi mencekal lengan kanan dan kiri Sendy. Membawa paksa pergi dari rumahnya.
Sendy merasa ketakutan sekali, saat di bawa oleh para aparat polisi. Dia tak bisa berkata apapun, hanya diam saja. Willdan dan Elsa yang melihat hal itu juga tak bisa berkata apapun.
Perlahan tapi pasti, mobil petugas polisi yang membawa Sendy semakin jauh melaju dan semakin tak terlihat.
"Willdan, kenapa kamu diam saja? apa kamu nggak berniat menolong Sendy?" Elsa mengernyitkan alis menatap sendu pada Willdan.
"Mau menolong bagaimana, mah? Kekuasaan Albert lebih besar, di banding aku yang bukan apa-apa. Aku nggak akan mampu melawannya," Willdan pasrah.
"Kok kamu bicara seperti itu, nggak ada usahanya sama sekali? padahal Sendy telah berkorban banyak untukmu," Elsa menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang.
"Pengorbanan? memangnya aku juga nggak berkorban untuk Sendy? lalu siapa yang membiayai pendidikannya dari SLTP hingga kuliah? dia mendapat beasiswa saat semester akhir kan? sebelumnya siapa yang menanggung semuanya, bukannya aku. Itu mamah anggap bukan sebuah pengorbanan?" Wildan sedang mengungkit semua kebaikan yang di lakukan untuk Sendy.
"Setidaknya kita ke sana, untuk melihat bagaimana polisi akan menindaklanjuti Sendy. Masa kamu sebagai kakak nggak punya rasa iba sedikitpun?" Elsa membujuk Willdan.
"Untuk apa kita ke kantor polisi, mah? aku malas kalau harus bertemu Albert " Willdan tetap menolak.
"Sebegitu teganya kamu pada adikmu? apa kamu sama sekali nggak ingat saat Sendy menolongmu mengangkatmu dari jurang kemiskinan? apa kamu lupa, jika tanpanya saat ini kita masih hidup susah. Kamu masih jadi pemulung di jalanan," Elsa terus saja membujuk Willdan.
"Mah, apa yang Sendy perbuat memang sudah sepantasnya. Semua sebagai balas budi, saat dulu aku mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuknya." Willdan bersikeras pada pendiriannya.
"Willdan, kenapa kamu perhitungan dengan adikmu sendiri? mamah saja tidak pernah memperhitungkan seberapa banyak biaya yang telah mamah keluarkan untukmu dan Sendy," Elsa menggelengkan kepala.
"Itu sudah kewajiban mamah sebagai orang tua untuk mengurus kami dan membiayai segala yang kami butuhkan," Willdan terus saja berkilah.
"Baiklah kalau begitu, biar mamah ke kantor polisi sendiri jika kamu tidak bersedia ikut dengan mamah." Elsa lekas bersiap-siap untuk segera berangkat ke kantor polisi.
__ADS_1
"Silahkan saja, mah. Biar mamah di antar sopir saja, jangan sendirian. Willdan minta maaf nggak bisa nemani mamah, karena banyak urusan pula di kantor yang nggak bisa di tinggalkan," Willdan berlalu pergi begitu saja.
*********