
"Hari ini aku benar-benar sial, tahu begini aku berangkat dengan mobilku sendiri!" Yesi mendengus kesal seraya memainkan ponselnya memesan taxi on line.
Tak berapa lama, datanglah taxi on line pesanan Yesi. Segera dia masuk dalam taxi tersebut. Namun kesialan sedang berada di pihak Yesi, sopir taxi ini berniat jahat padanya.
"Loh, pak. Ini bukan arah jalan ke rumah saya, salah ini." Yesi protes dan terlihat sangat panik.
"Diam, nggak usah berisik." Sopir taxi membentak Yesi.
Yesi mendadak menjadi panik dan ketakutan sekali, dia gemetaran. Saat akan memencet nomor telpon Irwan, malah keburu sopir taxi menghentikn taxinya di jalan yang begitu sepi.
"Turun kamu, dan serahkan semua harta yang kamu punya!" Sopir taxi menodongkan pisau ke arah leher Yesi.
Sejenak Yesi melucuti sendiri semua perhiasan yang menempel di tubuhnya, seperti kalung, gelang, anting, dan cincin. Semuanya di serahkan pada sopir taxi tersebut.
"Serahkan dompet juga ponselmu!" Sopir taxi tersebut meminta dompet dan ponsel Yesi.
Yesi segera menyerahkan ponsel dan dompetnya. Namun hal itu belum membuat puas sopir taxi tersebut.
"Hem, ternyata kamu cantik sekali. Percuma kalau kecantikanmu di anggurin, sebaiknya kita bersenang-senang dulu sejenak. Yuk ikut aku ke gubug itu." Sopir taxi menarik paksa tangan Yesi.
"Nggak mau, tolong lepaskan aku. Bukankah aku sudah memberikan semuanya padamu!" Yesi menangis histeris dan menahan langkah kakinya saat di paksa melangkah ke sebuah gubug.
"Kamu harus menyerahkan mahkota yang paling berharga yang kamu miliki untukku nikmati sekarang juga!" Sopir taxi terus memaksa Yesi melangkah ke gubug.
Namun Yesi terus memberontak. Di saat seperti itu, dia ketakutan, panik, gemetar.
Sementara tak jauh dari lokasi, sedang melaju sebuah mobil.
"Eh, bukannya itu Yesi?" Rere menunjuk ke arah Yesi.
"Iya benar, Re. Tolong lajukan ke arah Yesi." Perintah Kristina.
"Untuk apa, Kristin? jangan bilang kamu ingin menolongnya, biarkan saja dia di jahati orang. Itu karma buatnya karena telah berbuat jahat padamu," Rere melarang Kristina menolong Yesi.
"Sudahlah, kamu diam saja. Cepat, Re. Aku nggak mau terjadi hal buruk padanya." Kristina memaksa Rere melajukan mobilnya dengan cepat ke arah dimana saat ini Yesi sedang di seret olih sopir taxi.
"Re, tugasmu catat nomor mobil taxi tersebut." Kristina turun dari mobil berlari kecil ke arah Yesi.
"Tapi, Kristin." Rere merasa khawatir.
"Kamu nggak perlu khawatir, aku yakin aku mampu menghadapi orang itu." Segera Kristin berlari.
"Aduh, bagaimana ini?" Rere panik akhirnya menelpon Alberto dengan panggilan vidio.
__ADS_1
"Aduh, angkat dong Tuan Albert." Rere semakin panik dan gelisah karena panggilan telponnya nggak di angkat-angkat.
Sementara saat ini Kristin telah mendekati sopir taxi gadungan yang sedang menyeret Yesi dengan paksa ke arah gubug.
"Heh, berhenti!" teriak Kristina.
Sejenak dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Yesi sempat terhenyak kaget saat melihat siapa yang datang.
"Kristin." Kata Yesi lirih.
"Hhaa, apa dia itu temanmu? cantik juga, boleh nech kalian berdua melayaniku sekarang juga." Sopir taxi tersebut menatap Kristin dengan tatapan tajam.
"Lepaskan temanku dan hadapi aku!" Kristina dengan lantang menantang sopir gadungan tersebut.
"Bisa apa kamu, hah! paling bisanya nangis doang!" sopir gadungan mengejek Kristin.
"Mau tahu, aku bisa apa? aku akan patahkan tanganmu!" Kristina segera menyerang sopir gadungan itu.
"Wah, ternyata kamu bisa bela diri juga? baiklah, aku ingin lihat seberapa hebat kemampuanmu!" sopir gadungan tersebut membalas serangan Kristina.
Namun setiap serangannya selalu saja meleset, karena gerakan Kristina sangat gesit.
Akhirnya panggilan telpon secara vidio tersambung juga dengan Alberto.
📱" Ada apa, Re? mana Kristin, dan suara gaduh apakah itu?"
Sejenak Rere mengarahkan panggilan via vidio ke arah dimana Kristina sedang melawan sopir taxi gadungan.
📱" Cepat kamu share lok padaku, aku segera kesana. Karena aku nggak mau terjadi apa-apa pada Kristin."
Setelah itu panggilan via vidio di matikan oleh Rere, dengan tangan gemetar dan panik Rere segera mengirim share lok pada notifikasi chat pesan ke Alberto.
Rere sampai lupa untuk menghubungi aparat polisi.
Sementara Alberto dengan sangat panik mengajak Rony menyusul ke lokasi dimana saat ini Kristina berada.
Rony melajukan mobilnya dengan cepat sesuai perintah Alberto. Rony sempat penasasaran karena melihat kepanikan majikannya.
"Sebenarnya ada apa di lokasi yang Tuan perintahkan aku kesana?" batin Rony.
Tak berapa lama mereka telah sampai di lokasi yang di tuju. Rony dan Alberto terperangah saat melihat Kristina melawan sopir taxi tersebut.
"Aku kok baru tahu kalau Titin bisa beladiri?" batin Alberto.
__ADS_1
"Wah, Nona Kristin keren." Rony mengambil ponsel dan merekam perkelahian antara Kristina dan sopir taci tersebut.
Tiba-tiba Yesi berlari ke arah Alberto dan langsung memeluknya.
"Albert, untung kamu segera datang. Aku takut sekali." Yesi memeluk Alberto begitu kencang.
"Lepas, jangan pernah menyentuh tubuhku!" Alberto melepas paksa pelukan Yesi.
Sementara Kristina berhasil membuat tangan sopir taxi terpelintir kesakitan.
"Auww, lepas! kamu bisa mematahkan tanganku." teriaknya kesakitan.
"Bukankah tadi aku bilang, akan mematahkan tanganmu. Dan kamu nggak percaya!" Kristina mengunci kedua tangan sopir taxi ke punggung sopir taxi sendiri.
"Sial, ternyata wanita ini nggak bisa di anggap remeh. Gesit juga gerakannya." batin sopir taxi dengan kewalahan menghadapi serangan dari Kristina.
Hingga akhirnya Kristina berhasil juga meringkus sopir taxi gadungan tersebut.
Alberto semakin membola dan terperangah melihat keberhasilan Kristina.
"Ya, ampun Titin. Kamu hebst sekali, baru saja aku ingin membantumu. Tapi kamu telah sanggup mengalahkan lawanmu sendiri, tanpa bantuan siapapun," batin Alberto.
Tak berselang lama, Kristina datang menghampiri Rere seraya tetap mengunci tangan sopir taxi tersebut.
"Re, kamu sudah menelpon polisi?" Kristina tersengal-sengal seraya mencekal dua tangan sopir taxi.
"Hah, belum. Maaf, aku terpukau melihat aksimu!" Segera Rere menelpon aparat polisi.
"Hadeh, dari tadi kamu ngapain saja?" Kristina mendengus kesal.
"Aku tadi menelpon Tuan Albert, karena aku mengkhawatirkanmu." Rere tersipu malu seraya menelpon polisi.
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" Alberto menghampiri Kristina seraya mengusap keringatnya dengan tisu.
"Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja." Kristina tersenyum.
Tak berapa lama, datang aparat polisi meringkus taxi gadungan tersebut. Dan membawanya ke kantor polisi.
"Terima kasih banyak, Nona. Anda telah membantu kami menangkap sopir taxi gadungan ini yang telah lama kami incar," ucap salah satu aparat polisi seraya tersenyum ramah.
"Iya, pak. Sama-sama." Jawab Kristina singkat.
Ktistina bersama Yesi menaiki mobil Kristina dengan di kemudikan oleh Rere. Alberto menaiki mobilnya dengan di kemudikan oleh Rony.
__ADS_1
*******
Mohon dukungan like, vote, favorit..