
Yesi tak dapat berkutik dan tak dapat berkata apa-apa saat. Sementara Willdan juga diam membisu.
"Heh, tunggu apa lagi! kemasi barangku, dan kembalikan kontak mobil serta kunci apartement. Sekarang juga kamu kosongkan apartement." Kembali lagi Irwan berkata.
Barulah Willdan mengemasi barang-barangnya dan pergi begitu saja.
"Eh, mana kunci mobilnya?" Irwan menghampiri Willdan.
"Saya pinjam dulu, om,"Ucap Willdan.
"Ya sudah, kalau kamu sudah sampai apartement. Kunci apartement dan kontak mobil titipkan saja pada sepasang asisten rumsh tangga yang ada disana," perintah Irwan.
"Baik, om." Willdan berlalu pergi dengan muka kusut.
Sementara Yesi masih saja emosi.
"Pah, kenapa papah membela Albert bukan aku!" Yesi menghentakkan kakinya.
"Bukan masalah membela atau tidak, tapi papah nggak suka dengan kepicikanmu. Itu nggak baik, nak. Bukankah papah sudah tekankan berkali-kali, jika cinta tidak bisa di paksakan. Tapi kenapa kamu masih saja memaksa Albert untuk bisa cinta padamu, bahkan kamu nekad dengan mrnempuh jalan yang salah," Kata Irwan panjang lebar.
"Di dunia ini banyak lelaki, bukan cuma Albert. Jadi papah harap, ini yang terakhir kalinya kamu berbuat licik seperti ini. Jika ternyata kamu tidak bisa berubah, terpaksa papah cabut semua fasilitas yang papah berikan padamu!" Irwan menyeringai sinis.
"Nak Albert, om mau pulang dulu karena kepala pusing sekali " Irwan melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Om, tunggu. Biar asistenku yang mengantar om sampai ke rumah." Alberto lekas menelpon Rony.
Tak berapa lama, datanglah Rony dengan mobilnya. Segera Rony mengantarkan Irwan sampai ke rumahnya.
Sementara Alberto kembali ke ruangan Yesi dan mrnemuinya.
"Kamu lihat, setiap perbuatan buruk tidak akan berlangsung lama. Pasti akan terbongkar juga," Alberto menghardik Yesi.
"Tapi aku akan terus berusaha supaya hubunganmu dengan janda itu tak langgeng. Sampai kapanpun aku nggak akan rela kalau kamu sampai menikah dengannya!" Yesi menyeringai sinis.
"Silahkan saja, aku mau lihat seberapa kuatnya kamu untuk menghancurkan hubunganku dengan Kristin! yang ada kamu hancur sendiri dan dan semakin di benci papahmu!" Alberto mendengus kesal seraya berlalu pergi dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Sementara Willdan sedang kesal juga, karena baru merasakan hidup nyaman dan enak belum lama, sudah harus berakhir.
"Sialan, bagaimana bisa Om Irwan dan si brengsek Albert tiba-tiba ada di kantor! Bodohnya aku, harusnya dalam berkata tidak keras-keras sehingga tidak sampai ketahuan!" Willdan terus saja menggerutu seraya memukul-mukul kemudi.
Tak berapa lama kemudian, sampailah Willdan di apartement.
"Mah, mamah." Willdan mencari keberadaan Mamah Elsa.
"Ada apa, nak? loh, ini kan masih siang? kok kamu sudah pulang kerja, apa mau ajak mamah makan siang di luar?" Mamah Elsa mengedipkan matanya.
"Mau ajak mamah keluar dari apartement ini, sekarang juga kita kemasi barang-barang kita. Dan pergi dari apartement ini." Willdan melangkah ke kamarnya untuk segera berkemas.
Mamah Elsa masih bingung mau bertanya tapi sungkan. Mamah Elsa melangkah menuju kamarnya dan lekas mengemasi semua barangnya. Sejenak dia tersenyum sendiri.
"Ah, kenapa aku nggak terpikirkan. Mungkin saat ini Willdan telah punya perusahaan sendiri, dan memiliki rumah yang lebih mewah dari ini. Duh, senangnya mau pindah ke rumah yang lebih mewah dan megah. Memang anakku sangat hebat." Gerutunya seraya terus mengemasi barang-barangnya.
Setelah semua selesai, Mamah Elsa menemui Willdan.
"Nak, mamah sudah selesai berkemas." Ucapnya sumringah.
"Ya, mah. Tunggu sebentar, aku akan mengembalikan kunci apartement dan kontak mobil ini." Willdan melangkah ke paviliun belakang.
Willdan menyerahkan kunci apartement dan kontak mobil pada sepasang asisten rumah tangga di apartement tersebut.
Setelah itu dia mengajak Mamah Elsa pergi dari apartement tersebut.
"Kenapa wajah anakku murung, jika memang kita akan tinggal di rumah yang lebih mewah? aduh, jangan bilang kita akan ke kontrakan sempit dan panas lagi," batin Mamah Elsa.
Willdan memesan taxi on line, dan mencari kontrakan baru untuk ditempatinya bersama Mamah Elsa.
"Nak, kita tinggal di kontrakan lagi? kok bisa?" Mamah Elsa mengerutkan kening.
"Sudahlah, mah. Nggak usah banyak tanya, memang saat ini kondisi kita seperti ini." Willdan mendengus kesal.
"Tapi kenapa mendadak seperti ini, coba jelaskan pada mamah?" Mamah Elsa masih penasaran.
__ADS_1
"Mah, tolong nggak usah membuatku tambah pusing dengan segala pertanyaan mamah. Yang penting kita tidak tinggal di kolong jembatan itu sudah untung bukan?" Willdan berlalu pergi begitu saja.
Berbeda dengan Irwan yang saat ini sedang menuju ke kantor Kristina. Dia merasa nggak enak hati atas kelakuan Yesi dan ingin meminta maaf pada Kristina.
Hanya beberapa menit saja, Irwan telah sampai di kantor Kristina.
"Selamat siang, Tuan Irwan. Kok tidak memberi tahu terlebih dulu jika akan kemari?" Kristina menyalami Irwan seraya tersenyum ramah.
"Iya, Nona Kristin. Aku kemari bukan ingin membahas urusan kantor, tapi urusan pribadi." Irwan tertunduk lesu.
"Maaf, Tuan. Maksudnya urusan pribadi, apakah penyakit Tuan saat ini semakin parah atau bagaimana? maaf Tuan jika saya lancang." Kristina menangkupkan kedua tangannya.
"Saya ingin meminta maaf padamu, Nona Kristin." Irwan merasa berat untuk berkata dia terus saja menunduk.
"Tuan, jangan seperti ini. Bicara saja, sebenarnya ada apa? jika Tuan ingin meminta saya meninggalkan Alberto, saya bersedia asal Tuan sembuh dari sakitnya." Tiba-tiba Kristina berkata seperti itu.
"Ya Tuhan, wanita muda ini benar-benar baik. Ternyata Yesi benar-benar telah berdusta padanya," batin Irwan seraya menghela napas panjang.
"Tuan, apa anda sakit? mari saya antar ke dokter," Kristina menegur Irwan yang terdiam begitu saja.
"Tidak, Nona Kristin. Saya merasa tidak enak hati dan bersalah padamu karena saya tidak berhasil mendidik anak saya. Atas nama Yesi, saya mohon maaf yang sebesar- besarnya karena Yesi telah berdusta padamu tentang penyakit saya," Irwan mengalihkan pandangan ke penjuru lain.
Irwan menceritakan semua peristiwa di kantor baru Yesi. Saat dia dan Alberto ingin menyambangi kantor baru Yesi.
Irwan menceritakan jika dia tidak sengaja mendengar percakapan antara Yesi dan Willdan.
Sejenak Kristina terdiam, dan semakin tak menyangka jika mantan suaminya berniat buruk padanya.
"Oh, jadi waktu itu Mas Willdan hanya berpura-pura supaya bisa membuat Ka Albe cemburu dan salah paham padaku. Pantas Ka Albe sempat diam begitu lama padaku dan tak mau menghubungiku. Jadi Mas Willdan bekerja sama dengan Yesi ingin menghancurkan hubunganku dengan Ka Albe. Benar-benar sungguh keterlaluan mereka berdua," batin Kristina seraya menahan rada kesal.
"Tuan Irwan, tak perlu bersikap seperti ini. Saya telah memaafkan Yesi. Ya namanya orang kalau sudah cinta pasti buta, hingga melakukan apapun untuk meraih cintanya," kata Kristina mencoba menghibur Irwan.
Irwan merasa sedikit lega, namun dia akan berusaha membujuk Yesi untuk meminta maaf secara pribadi pada Kristina.
******
__ADS_1
Mohon dukungan like,vote,favorit..