
Tak berapa lama, Yesi pulang dengan wajah cemberut. Yesi menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Pah, katanya mau ke cafe juga? tapi aku menunggu sampai lama, ternyata papah nggak datang. Bahkan sampai Sendy pergi begitu saja," Yesi mengerecutksn bibirnya.
"Maaf, papah nggak sempat. Karena banyak yang papah bicarakan sama Albert," Irwan memberi kode pada Alberto dengan menyenggol kaki Alberto.
"Terus, kelanjutannya bagaimana?" Yesi mengerutkan alisnya.
"Gampang, nanti di bahas lagi lain waktu," jawab Irwan sekenanya.
"Om, saya pamit pulang ya." Alberto menyalami Irwan seraya tersenyum.
"Hati-hati, Nak Albert," Irwan menyunggingkan senyum.
"Pah, ini bagaimana?" Yesi merengek menghampiri Irwan.
"Kamu yang berulah, ya kamu yang selesaikan sendiri permasalahanmu. Kamu keterlaluan, tidak ada perubahan sama sekali! harusnya dengan apa yang pernah menimpamu dulu, kamu jadi sadar. Bukannya malah jadi tambah parah, memalukan saja!" Irwan bangkit dari duduknya berlalu pergi dari hadapan Yesi.
"Bagaimana sih, papah sama Albert. Katanya akan menyelesaikan permasalahan ini, malah tidak ada gerakannya sama sekali.
Irwan dan Alberto sengaja tidak memberitahu rencana mereka berdua, karena mereka tidak ingin Yesi mengacaukannya.
Sementara saat ini Sendy sedang tertawa ngakak di rumah beserta Willdan dan mamahnya.
"Kamu sangat cerdas, Sendy " Willdan mengacungkan ibu jarinya pada Sendy.
"Anak siapa dulu, Elsa." Mamah Elsa ikut berkelakar.
"Ka, sebentar lagi perusahaan Albert akan hancur dan pastinya seluruh klien bisa berpindah ke perusahaan baru kakak. Kejayaan akan berpindah pada Ka Willdan," Sendy sangat percaya diri.
Lain halnya Alberto, dia saat ini tengah sampai di halaman apartement Kristina. Dan lekas masuk mencari keberadaan Kristina untuk menunjukkan sebuah bukti jika apa yang dia katakan adalah benar.
Kristina merasa heran, dengan kedatangan Alberto.
"Ka Albe, bukannya aku sudah katakan supaya kakak nggak usah kemari lagi?" Kristina mengerucutkan bibirnya.
"Jangan sewot dulu, sayang. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," Alberto menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Apa lagi yang ingin kamu tunjukkan, ka?" tanya Kristina penasaran.
"Kenapa aku nggak di persilahkan duduk dan nggak di buatkan minum?" Alberto mencoba menggoda Kristina.
"Hem, memangnya kakak tamu? harus di tawarin duduk dulu?" Kristina menjatuhkan pantatnya di sofa.
Begitu pula dengan Alberto melakukan hal yang sama. Setelah itu Alberto menunjukkan vidio rekaman percakapan antara Yesi dan Sendy.
"Sayang, kamu lihat baik-baik vidio ini." Alberto memberikan ponselnya pada Kristina.
Awalnya Kristina menolak, namun pada akhirnya bersedia melihat vidio tersebut. Dia melihat dengan seksama percakapan antara Yesi dan Sendy.
"Jadi Yesi bekerjasama dengan Sendy, aku sama sekali nggak menyangka. Untung waktu itu mengajakku menjalin kerja sama aku nggak mau, ternyata di balik semua itu punya maksud tersembunyi yakni ingin membalas dendam pada kita," ucap Kristina panjang lebar.
"Setelah melihat bukti ini, apa kamu masih dengan pendirianmu?" tanya Alberto seraya mengedipkan matanya.
"Entahlah, ka. Bukankah sudah aku katakan, selesaikan dulu permasalahanmu. Barulah kamu bertanya tentang kelanjutan hubungan kita berdua," Kristina menghela napas panjang.
"Hem, jadi belum ada kepastian kita tidak jadi putus?" tanya Alberto kembali untuk memastikan.
"Untuk sementara waktu, kakak jangan kemari dulu. Karena aku juga butuh waktu untuk menenangkan pikiranku, apa lagi di kantor sedang banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan segera," Kristina berkata panjang lebar.
"Hem, aku pikir dengan menunjukkan buktu ini, kamu langsung merubah keputusanmu itu dan menerimaku lagi sebagai kekasihmu," Alberto mengerucutkan bibirnya.
"Tidak semudah itu, ka. Jujur saja, sampai sekarang aku masih mengingat apa yang kalian lakukan di dalam vidio itu," Kristina tertunduk lesu.
"Ya sudah, aku pulang. Tapi aku akan datang lagi kalau semua urusanku sudah selesai." Alberto bangkit dari duduknya melangkah pergi dengan gontay.
"Huft, aku pikir dengan bukti ini Titin membatalkan niatnya memutuskanku," gerutu Alberto seraya menghela napas panjang.
Dia sedikit kecewa dengan keputusan Kristina, akan tetapi dia juga bisa memaklumi apa yang di rasakan oleh Kristina. Sehingga dia tak marah padanya.
Alberto pulang kerumah dan langsung membaringkan badannya. Baginya beberapa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan semua karena ulah Yesi.
Dia juga nggak habis pikir jika Yesi bekerjasama dengan Sendy.
"Dasar licik dan benar-benar pengecut, balas dendam dengan memperalat adiknya," gerutu Alberto seraya sesekali tangannya meninju kasur.
__ADS_1
*******
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa telah pagi. Alberto bersiap-siap untuk pergi bersama Irwan. Mereka telah merencanakan jumpa pers kembali untuk membersihkan nama Alberto.
Semua hal itu tak di ketahui oleh Yesi maupun Kristina. Tempat dan jam telah di tentukan, bahkan jumpa pers kali ini di adakan secara besar-besaran.
Di dalam acara tersebut, Irwanlah yang banyak berkata. Karena dia ingin meminta maaf atas perilaku Yesi. Walaupun sebenarnya Irwan sangat malu atas perilaku anaknya ini. Namun dia juga tak ingin melihat reputasi Alberto menjadi buruk karena ulah anaknya.
Di muka awak media, Irwan memutar rekaman vidio percakapan antara Yesi dan Sendy. Hampir semua wartawan merekam ulang vidio percakapan tersebut. Bahkan sekali pertanyaan yang terlontar dari mulut para wartawan yang harus di jawab oleh Irwan maupun Alberto.
Acara jumpa pers tersebut sengaja di adakan secara live di berbagai chanel televisi, agar semua orang bisa melihat kesalah pahaman ini. Agar semua paham jika hal itu adalah suatu rekayasa dari Sendy.
Dua jam lamanya, Irwan dan Alberto melakukan jumpa pers secara live. Bahkan Mamah Elsa juga melihatnya di televisi. Dia sangat panik, saat mendengar bahwa Alberto dan Irwan akan menempuh jalur hukum dan melaporkan Sendy dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Mamah Elsa lekas menelpon Sendy yang saat ini sedang berada di kantor Willdan. Agar segera menyalakan televisi di kantor untuk melihat sendiri live yang di adakan oleh Alberto.
📱"Sendy, cepat kamu nyalakan televisi di kantormu. Karena ada berita penting untukmu."
📱"Berita apa sih, mah?"
📱"Nggak usah banyak tanya, mumpung acaranya masih berlangsung. Live di beberapa chanel, jadi kamu tak repot memilih chanelnya."
📱"Maleslah, mah. Paling acara gosip selebritis kan?"
📱"Buka saja, pasti kamu akan kaget melihatnya, buruan!"
Akhirnya Sendy menuruti kemauan Elsa walaupun sebenarnya sangat malas karena dia jarang sekali melihat acara televisi. Kebetulan urusan kantor sedang sepi, sehingga banyak waktu luang.
Bahkan Sendy mengajak Willdan untuk melihat acara televisi yang barusan Elsa katakan.
"Ka, temani aku sebentar nonton televisi. Mumpung kantor sedang nggak ada kerjaan." Sendy menyalakan televisinya.
"Mana nech, nggak ada apa-apa kok di televisi." Sendy berkali-kali mengganti chanelnya.
"Mamah apa-apaan sih, nggak ada yang menarik di televisi." Sendy mematikan televisinya.
********
__ADS_1