
Mr X datang ke Indonesia karena penasaran dengan desas desus kabar angin tentang pengusaha wanita muda yang sangat cantik. Dia mendengar berita dari beberapa sahabatnya yang pengusaha di Indonesia.
"Ternyata apa yang teman- temanku katakan tentang Kristin memang benar. Dia cantik, mandiri, pintar, dan gesit. Inilah wanita yang aku cari selama ini, wanita yang tidak tergantung pada pria dan hanya merongrong pria." Batin Mr. X tersenyum.
"Jika aku bisa menikah dengannya, secara otomatis aku akan mempunyai keturunan yang cerdas dan jenius. Karena aku pintar, Kristin juga hebat." Kembali lagi menyunggingkan senyum.
"Aku nggak permasalahkan status jandanya, itu tidaklah penting bagiku. Aku akan terus pepet Kristin supaya aku lekas bisa memilikinya seutuhnya." Mr X menginginkan Kristin menjadi istrinya.
"Kristin, apa kamu yakin menjalin kerja sama dengan Mr X? feelingku, dia itu menyukaimu. Dari cara menatapmu dan berkata padamu, terlihat sekali." Rere meragukan Mr X.
"Biarlah kalau dia memang menyukaiku, yang penting aku tidak meresponnya. Semua kan tergantung wanitanya, jika wanita merespon pria yang menyukainya ya otomatis akan terjadi percintaan," Kristina terkekeh.
"Aku bicara serius tapi kamu malah seperti ini." Rere manyun.
"Sudahlah, nggak usah bahas sesuatu yang nggak penting. Banyak keuntungan kita jika bisa menjalin kerja sama dengan Mr X. Perusahaan kita bisa setiap saat go internasional." Kristina sumringah.
"Hem, ya sudahlah." Rere bangkit dari duduknya dan kembali ke ruang kerjanya.
***********
Sore menjelang, Alberto datang ke kantor Kristin bertepatan dengan Mr X.
"Dia ini siapa, sayang?" Alberto menatap sinis pada Mr X.
"Ini MR X, klien baruku." Kristina menyunggingkan senyum.
"Mr X, ini Ka Alberto kekasih saya." Kristina kembali lagi berkata.
Mr X dan Alberto saling berjabat tangan, namun keduanya tak saling senyum. Tapi saling menatap sinis.
"Sial, kenapa pula Kristin sudah punya kekasih. Tapi nggak masalah, dia baru pacaran belum menikah. Jadi masih bebas di dekati pria manapun." Batin Mr X.
"Aku punya perasaan nggak enak terhadap klien baru Titin, sepertinya dia punya niat lain." batin Alberto.
"Maaf, Mr X. Saya permisi dulu, karena sudah di jemput oleh kekasih saya." Kristina berpamitan pada Mr X seraya tersenyum.
__ADS_1
Sementara Alberto sengaja mengumbar kemesraan dengan merangkul Kristina dan sesekali menggoda Kristina.
"Kenapa aku nggak rela melihat kemesraan Kristin dengan kekasihnya. Aku harus segera bertindak untuk memisahkan mereka. Tapi bagaimana caranya?" batin Mr X seraya mengepalkan tinjunya.
"Hem, sepertinya pria itu menyukai Kristina. Ini kesempatan baik buatku dan keberuntungan sedang berpihak padaku." Yesi keluar dari mobil dan menghampiri Mr X.
"Hy, perkenalkan namaku Yesi. Aku bisa melihat dari tatapanmu pada Kristin, kalau kamu menyukainya." Yesi berkata dengan percaya dirinya.
"Hem, suka atau tidak. Itu bukan urusanmu." Mr X akan berlalu pergi meninggalkan Yesi.
Namun Yesi menahannya, dengan menawarkan sebuah kerjasama.
"Tunggu, aku belum selesai berbicara."
"Memang apa yang ingin kamu katakan lagi?" Mr X menatap sinis Yesi.
"Bagaimana kalau kita bekerjasama untuk memisahkan mereka. Karena aku mencintai Albert. Jika berhasil, kamu bisa memiliki Kristina dan aku bisa memiliki Albert." Yesi meyakinkan Mr X.
"Pucuk di cinta, ulampun tiba. Disaat aku bingung bagaimana caranya menyingkirkan kekasih Kristin. Datang wanita ini menawarkan kerjasama. Keberuntungan sedang berpihak padaku. Apa salahnya aku terima saja tawaran wanita ini," batin Mr X.
"Anda ikuti saja laju mobilku, kita ke cafe yang nyaman untuk ngobrol." Yesi melangkah masuk mobilnya dan melajukannya.
Mr X memerintah asistennya untuk mengikuti laju mobil Yesi.
"Semoga kali ini usahaku untuk memisahakan Albert dari Kristin berhasil." Gerutu Yesi seraya melajukan mobilnya ke sebuah cafe.
Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di cafe langganan Yesi. Segera mereka mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka bercengkrama.
"Sejak kapan kamu menyukai kekasih Kristin?" Mr X langsung bertanya.
Sejenak Yesi bercerita tentang perjodohannya dulu dengan Alberto. Dan bercerita pula bagaimana dia dan Albert berpisah.
Tak lupa Yesi menyisipi cerita palsunya untuk menambah kesan seolah dia dan Albert dulu memang saling mencintai, tapi sejak kehadiran Kristin hubungannya dengan Albert menjadi semakin menjauh dan Albert memutuskan tunangannya.
"Aku rasa apa yang kamu ceritakan padaku tidaklah semuanya murni benar adanya. Sepertinya kamu membuat seolah Kristin wanita buruk di hadapanku," Mr X menatap tajam Yesi.
__ADS_1
"Terserah jika kamu nggak percaya dengan semua yang aku ceritakan. Intinya aku mau kita bekerjasama untuk memisahkan Kristin dan Albert," kata Yesi ketus.
"Hem, baiklah. Aku bersedia bekerjasama denganmu. Tapi aku nggak tahu, bagaimana caranya memisahkan mereka," kata Mr X.
Kemudian Yesi berkata sesuatu pada Mr X mengenai rencana liciknya. Setelah paham dan mengerti, Mr X menyanggupinya.
"Semoga kerja sama kita berhasil sesuai dengan keinginan kita, Mr X menyeringai.
Setelah pertemuan tersebut, Mr X mengatur strategi yang jitu supaya usahanya nggak sia-sia.
"Hem, aku sama sekali nggak punya ide yang jitu untuk memisahkan Albert dan Kristin. Biar aku telpon dan tanyakan pada Yesi saja." Mr X langsung menelpon ponsel Kristin.
Di dalam panggilan telpon, Yesi memberi saran yang bagus mengenai cara untuk memisahkan Kristin dan Albert.
*****
Mr X segera menjalankan aksinya.
"Kristin, aku ingin mengajakmu makan siang di suatu cafe. Karena sekalian membicarakan tentang kerja sama kita. Ada beberapa materi dalam berkas yang aku kurang mengerti." Mr X berkata di balik telpon.
"Baiklah, share lok saja cafenya biar aku kesana sekarang juga." Bales Kristin di balik telpon.
Mr X mengirim share lok ke notifikasi chat pesan pada ponsel Kristina. Segera Kristina melajukan mobilnya menuju cafe yang ada di share lok.
Kristina sama sekali tak merasa curiga pada Mr X. Bahkan dia tidak memberi tahu pada Rere tentang kepergiannya untuk menemui Mr X.
Tak berapa lama, Kristina telah sampai di cafe yang telah di pesan oleh Mr X. Dan di cafe tersebut telah tersaji berbagai menu masakan. Mr X juga telah berada di meja pesanannya.
"Maaf, Mr X. Saya sedikit terlambat karena kebetulan jalanan sempat macet." Kristina menjatuhkan pantatnya di kursi seraya tersenyum ramah.
"Santai saja, aku nggak apa-apa kok. Mari kita makan dulu, karena kebetulan saya sudah lapar. Jika perut kenyang akan lebih mudah untuk kita berpikir dan membahas materi yang ada di berkas yang saya kurang paham." Mr X membujuk Kristina.
"Baiklah, Mr X. Sebenarnya saya belum begitu lapar, hanya merasa sangat haus." Kristina langsung meminum jus yang sudah di sediakan untuknya.
*********
__ADS_1
Mohon dukungan like,vote,favorit..