Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Penyelidikan


__ADS_3

Alberto beserta Kristina lekas ke kantor redaksi. Sementara Mr X dan Irwan kembali ke kantornya masing-masing.


"Coba aku yang ada di samping Kristin, pasti aku akan sangat bahagia." Batin Mr X saat melihat kepergian Alberto merangkul Kristina.


"Hey, orang asing. Jangan berhayal yang tak akan bisa kamu gapai, Nona Kristin memang cocok berdampingan dengan Albert." Irwan mengejeknya seraya berlalu pergi.


"Dasar tua bangka sialan!" umpatnya seraya mengepalkan tinjunya.


Setelah itu Mr X berlalu pergi menuju mobilnya.


Tak berapa lama, Kristina dan Alberto telah berada di kantor redaksi.


"Selamat siang, Tuan Albert. Silahkan duduk."


Alberto menjatuhkan pantatnya di sofa begitu pula dengan Kristina.


"Saya tahu maksud kedatangan Tuan kemari, saya benar-benar minta maaf atas keteledoran saya sehingga tidak mengetahui jika salah satu karyawan saya berbuat yang tidak baik." Pemilik kantor redaksi tersebut sudah sangat ketakutan.


"Baiklah, saya akan memaafkan. Tapi pertemukan saya dengan karyawan anda tersebut." Alberto berkata lantang.


"Ma-maaf, Tuan. Dia telah melarikan diri entah kemana, saat terakhir saya tegur dia untuk memerintahnya meminta maaf secara pribadi pada Nona Kristin." Ucapnya ketakutan.


"Sekarang juga cetak berita permintaan maafmu pada calon istri saya. Kalau berita yang kalian sebarkan adalah hoax! dan berikan alamat rumah karyawanmu yang telah bertindak nggak senonoh itu!" kata Alberto dengan lantangnya.


"Baik, Tuan." Pemilik redaksi tersebut langsung memerintah anak buahnya untuk segera mencetak surat kabar tentang permintaan maaf pada Kristina.


Tak lupa pemilik redaksi tersebut memberikan alamat rumah karyawannya tersebut.


"Ini alamat si Nanang, Tuan. Tapi setahu saya, dia sudah pergi dari rumah itu." Pemilik redaksi memberikan alamat rumah Nanang.


"Oh, jadi namanya Nanang? Ada fotonya, dia nggak akan bisa lolos dariku begitu saja!" Alberto menerima secarik kertas bertuliskan alamat Nanang.


"Ini foto Nanang." Pemilik redaksi memberikan foto Nanang.


Alberto menerimanya dan langsung menelpon Rony untuk segera melacak keberadaan Nanang dan membawanya ke hadapannya.


Setelah menyelesaikan permasalahan di kantor redaksi, Alberto dan Kristina kembali ke kantornya masing-masing.


******************

__ADS_1


Sore menjelang, Rony ke kantor Alberto dengan menyeret paksa seorang pria yang tak lain adalah Nanang.


Kebetulan Kristina juga sedang berada di kantor Alberto bersama dengan Rere.


"Tuan, ini pria yang Tuan cari " Rony melirik sinis pada Nanang.


Sementara Nanang tertunduk gemetar dan panik. Keringat dingin keluar dari tubuhnya.


"Heh, mau lari kemanapun pasti aku bisa menemukanmu! katakan, kenapa kamu tega menyebar berita hoax tentang calon istri saya!" Alberto membentak Nanang.


"Ma-màaf, Tuan. Sumber utama berita tersebut bukan saya, saat itu ada seorang pria yang meminta saya mencetak berita yang dia dapat." Nanang berkata seraya terus menunduk dan gemetaran.


"Maksudmu, itu bukan hasil bidikan kameramu sendiri! awas ya, sekali saja kamu berkilah! habislah kamu." Ancam Alberto melotot pada Nanang.


"Saya nggak berbohong, Tuan. Saat itu seorang pria menghampiri saya, dan menunjukkan semua foto serta rekaman vidio yang dia dapat."


"Pria tersebut berkata, jika saya memuat berita tersebut di surat kabar dan memberitakan di beberapa laman akun sosial media, saya akan mendapat banyak uang."


"Apa lagi waktu itu saya benar-benar sedang butuh uang untuk memeriksakan anak saya ke dokter."


"Dan pria tersebut juga memberi saya uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Tapi dia tidak memberitahu siapa nama dia."


"Ka, bagaimana ini? kita akan sulit untuk menangkap pelaku utamanya." Bisik Kristina pada Alberto.


"Hem, tenang saja. Apa salahnya kita mencoba menyelidikinya kembali, dan pasti ada jalan." Alberto membalas bisikan Kristina.


"Apa kamu mempunyai nomor ponsel pria itu? atau bukti chat kamu dengannya?" Alberto mencoba mengorek keterangan dari Nanang.


"Maaf, Tuan. Saya sama sekali tidak pernah chat dengan pria itu. Apalagi foto pria itu." Jawab Nanang menahan rasa gugupnya.


"Tapi bagaimana bisa kamu bertemu dengannya?" kembali lagi Alberto bertanya .


"Kebetulan kami bertemu secara tidak sengaja, Tuan. Saat itu saya sedang berkeliling ingin mencari sumber berita. Karena kebetulan saya sedang sulit mendapatkan topik berita yang bisa menarik orang."


"Pada saat saya sedang beristirahat di sebuah halte, ada pria yang sedang duduk di samping saya."


"Pada waktu itu kami saling bercerita, dan saya tak sadar berkeluh kesah padanya jika saya sedang susah mendapat topik berita yang bisa mengundang minat para pembaca."


"Saya juga berkeluh kesah jika sedang butuh uang untuk pengobatan anak saya."

__ADS_1


Demikian penjelasan Nanang secara panjang lebar menjelaskan pada Alberto.


"Hem, begitu ya? dimana lokasi halte tersebut, dan jam tanggal serta harinya tolong di perjelas." Kata Alberto.


"Sialan, ternyata orang ini nggak bisa di anggap remeh. Hingga bertanya sampai sedetai ini, bagaimana ini? sedang semua yang aku katakan bohong." Batin Nanang.


"Karena jika aku mengatakan yang sebenarnya, anak dan istriku yang menjadi taruhannya." Batim Nanang kembali.


"Heh, kenapa kamu malah bengong. Jangan-jangan apa yang kamu ucapakan padaki adalah dusta! apa kamu belum tahu siapa saya, hah!" Hardik Alberto melotot pada Nanang.


"Nggak kok, Tuan. Apa yang saya katakan adalah benar, tapi saya lupa di halte mana saat itu saya bertemu dengannya. Begitu pula dengan jam nya saya telah lupa." Kata Nanang seraya panik.


"Heh, kamu jangan main-main ya sama saya! kamu berkata dengan rasa gelisah dan panik, berarti apa yang kamu ucapakan adalah kebohongan belaka!" Alberto sudah tak tahan menahan rasa kesalnya.


"Ka, kamu yang sabar dong. Bagaimana dia nggak panik dan ketakutan, melihatmu seperti ini. Aku juga sangat takut, kau lihat kakak seperti ini." Kristina mencoba menenangkan Alberto.


"Maaf, sayang. Aku kesal sama orang ini, dari tadi omongannya bertele-tele. Membuatku muak dan kesal, seolah dia sengaja untuk menghapus jejak si pelaku!" Alberto semakin kesal.


Selagi asik ngobrol, tiba-tiba Kristina mendapat telpon dari baby sitternya jika anaknya tiba-tiba kejang-kejang.


"Ka, aku pulang dulu. Karena Mila tiba-tiba kejang-kejang." Kristina bangkit dari duduknya.


"Tunggu, sayang. Aku ikut denganmu." Alberto berteriak pada Kristina supaya menunggu dirinya.


"Dan kamu, pulanglah!" Perintah Alberto pada Nanang.


Setelah berkata pada Nanang, dia langsjng berlari ke mobil Kristina. Sementara Nanang bisa bernafas lega, karena tidak di interogasi terus. Dia melenggang santai keluar dari kantor Alberto.


Nanang pulang dengan memesan gojek, namun gojek yang dia pesan belum juga datang.


"Menunggu adalah sesuatu yang paling membosankan." Nanang melangkah meninggalkan halaman kantor Alberto.


Dia berjalan seraya terus melihat ponsel.


"Ih, gojek terlelet yang pernah aku temui. Sampai sekarang belum datang juga!" gerutunya seraya terus melangkah.


Namun dari arah belakang, tanpa Nanang tahu. Ada sebuah mobil dengan laju yang sangat cepat menghantam tubuh Nanang hingga terpental jauh.


********

__ADS_1


Mohon dukungan like,vote,favorit


__ADS_2