
Yesi hanya terdiam saat Marwan menghardiknya.
"Yesi, ini di LA bukan di Indonesia. Bisa jadi kamu nanti kena masalah, karena banyak berkeliaran orang jahat." Mikha mencoba menasehati.
"Menurut saja, orang nurut kan jadi enak." Mikha kembali lagi berkata.
"Hem, sekarang pap tahu mam. Kenapa Yesi berani kabur walaupun dia tahu saat ini nggak ada uang sama sekali." Marwan menatap perhiasan yang di kenakan oleh Yesi.
"Lepaskan semua perhiasan yang saat ini kamu kenakan!" Perintah Marwan dengan lantang.
"Nggk, om. Enak saja, ini perhiasanku kenapa suruh di lepaskan!" Yesi menolaknya.
"Baiklah, kalau kamu nggak mau melepaskannya sendiri. Biar om dan tante yang akan mengambil paksa darimu!" Tiba-tiba tangan kekar Om Marwan mencekal kedua tangan Yesi.
"Mam, cepat kamu ambil semua perhiasan yang saat ini di pakai Yesi." Perintah Om Marwan seraya terus mencekal kedua tangan Yesi.
"Baik, pap." Tante Mikha lekas melepaskan satu persatu perhiasan yang menempel di tubuh Yesi.
"Om, kasar amat sih. Ini sudah nggak benar, nanti aku adukan kelakuan om dan tante pada orang tuaku!" Yesi terus meronta mencoba melepaskan diri, namun usaha tak berhasil.
Setelah semua perhiasan yang di kenakan Yesi telah berada di tangan Mikha, barulah Marwan melepaskan cekalan tangannya pada kedua tangan Yesi.
"Om, jahat banget. Lihatlah, gara-gara kelakuan om. Kedua pergelangan tanganku menjadi merah seperti ini." Yesi mengusap-usap kedua pergelangan tangannya secara bergantian.
"Jangan salahkan om, itu karena kesalahanmu sendiri. Kamu kalau nggak di kasari nggak akan menurut. Sifatmu mirip dengan kerbau, yang harus di cambuk dulu baru menurut." Marwan menyeringai sinis.
"Kembalilah ke kamarmu, dan jangan mencoba untuk kabur kembali. Karena jika om memergokimu lagi, tidak segan-segan dalam memberi hukuman!" Perintah Marwan menatap sinis Yesi.
"Om, aku ini manusia dan keponakanmu! tapi aku disini di perlakukan layaknya seorang sandera atau tawanan sampai harus di kurung di kamar. Dasar kejam nggak punya hati!" Perlahan air mata Yesi tertumpah.
"Itu bukan salah, om. Jika kamu menuruti semua dan menjalankan aktifitas yang ada di jadwal, pasti kami nggak akan mengurungmu! tapi kamu malah merusak jadwalnya dengan meremas-remasnya!" Om Marwan mendengus kesal.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan menuruti apa kemauan kalian. Aku tidak akan membantah lagi, asal jangan dikurung lagi." Yesi tertunduk dengan air mata masih menetes.
__ADS_1
"Nggak usah cengeng, gitu saja nangis. Kecuali kami pukuli kamu dan bertindak kasar lainnya barulah kamu menangis! sudah manja, keras kepala, cengen pula!" Marwan mendengus kesal seraya akan pergi berlalu dari dapur.
Namun sejenak langkahnya terhenti dan dia menoleh ke arah Mikha dan Yesi.
"Mam, tolong antar Yesi ke kamarnya dan perhiasannya kamu simpan baik-baik. Kunci dulu pintu kamarnya, selagi dia belum benar-benar menaati peraturan yang ada di jadwal." Perintahnya seraya menatap Mikha.
"Baik, pap. Siap laksanakan tugas." Mikha menuntun Yesi untuk kembali ke kamarnya.
"Kamu itu di ajari untuk hidup yang benar kok susah sekali, apa kamu harus mendapat teguran yang keras dulu dari Tuhan, barulah kamu sadar." Mikha melirik sinis pada Yesi.
Yesi hanya diam saja tak membalas perkataan Mikha, dia hanya mematung.
Sesampai di kamar Yesi, Mikha kembali mengunci pintu kamar Yesi dari luar.
"Hidupku di sini bagai di neraka, kenapa juga aku sampai gagal kabur." Yesi menjatuhkan badannya di pembaringan.
"Aku akan coba telpon papah, dan mengatakan semua perilaku Om Marwan dan Tante Mikha padaku. Mungkin saja papah akan iba, dan mengijinkanku pulang ke Indonesia." Yesi meraih ponselnya dan memencet nomor Irwan, tersambunglah panggilan telpon dengan Irwan.
📱" Hallo, pah. Tolong ijinkan Yesi pulang."
📱"Papah tega denganku, disini aku tersiksa. Hidup bagaikan seekor burung, karena aku disini di kurung."
📱"Itu karena kesalahanmu sendiri, yang nggak menuruti perintah om dan tante. Kamu pikir papah nggak tahu, barusan juga kamu mau mencoba kabur kan?"
📱"Ya, pah. Karena di sini aku di jadikan seperti asisten rumah tangga, aku nggak mau. Karena aku menolak makanya di kurung."
📱"Turuti saja apa kemauan om dan tante. Mereka baik, sedang melatihmu untuk bisa menjadi seorang wanita yang sejati."
Setelah itu, Irwan menutup panggilan telpon dari Yesi.
📱"Pah, hallo pah."
"Sialan, belum juga selesai berbicara sudah di tutup." Gerutunya kembali melempar ponselnya di samping berbaringnya.
__ADS_1
Sementara Leni yang mengetahui jika barusan suaminya berkomunikasi dengan Yesi, segera dia menghampirinya.
"Pah, barusan Yesi telpon ya?" tanyanya.
"Iya, mah." Jawabnya singkat.
"Bagaimana kabar dia, pah. Kenapa tadi buru-buru di matikan. Padahal mamah juga ingin ngobrol dengannya." Leni menatap tajam suaminya.
"Kabarnya baik, kamu nggak usah khawatir." Jawabnya singkat seraya berlalu pergi begitu saja.
"Pah, mamah belom selesai bicara." Leni berlari kecil mengejar suaminya.
"Apa lagi sih, mah? papah lagi banyak kerjaan yang harus segera di selesaikan." Irwan hanya berhenti sejenak dan kemudian melangkah lagi menuju ke ruang kerja di rumahnya.
"Haduhh, punya suami kok sifatnya rada kaku. Kenapa pula sifatnya menurun ke Yesi." Leni geleng-geleng kepala seraya menghela napas panjang.
Dia kembali ke kamarnya karena percuma jika terus memaksanya bertanya detail tentang Yesi, yang ada malah akan memicu pertengkaran.
Sementara Irwan bukan sedang mengerjakan urusan kantornya, di ruang kerjanya dia malah melamunkan Yesi.
"Aku baru sadar sekarang, dulu Irwan pernah menegurku dalam cara mendidik Yesi yang salah. Tapi aku malah menghardiknya. Kini aku merasakan dari hasil didikanku dan istriku yang terlalu memanjakannya dan selalu saja menuruti kemauanya." Irwan menghela napas panjang seraya menghela napas panjang.
"Aku nggak yakin kalau Marwan dan Mikha bisa merubah sikap Yesi. Apalagi tadi aku mendapat kabar jika Yesi mencoba kabur." Gerutunya kembali.
"Bagaimana jika memang Marwan dan Mikha tidak bisa merubah kelakuan Yesi. Hancur daech perusahaanku jika kelak di mimpin oleh seorang anak berwatak keras kepala dan egois seperti Yesi." Kembali lagi Irwan menggerutu.
"Kadang aku berharap jika Yesi bisa seperti Kristin, pasti aku akan bahagia sekali. Dan jika suatu saat Tuhan mengambil nyawaku, aku akan tenang." Batinnya.
Setelah cukup lama melamun di ruang kerja, Irwan memutuskan mencari hiburan dengan menonton televisi di ruang tengah.
Berbeda situasi di rumah Kristina, yang saat ini sedang bersama dengan Alberto. Semakin hari kedusnya semakin lengket saja, apa lagi kini Mickel telah menerima Kristina.
Bahkan tanpa sungkan lagi, Mickel mengakui kesalahannya pada Kristina dan telah meminta maaf.
__ADS_1
******
Mohon dukungan like,vote,fav