Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Niat Yang Terselubung


__ADS_3

Melvin merasa tersinggung dengan ucapan Willdan, namun dia menahan rasa kesalnya.


"Sial, Willdan menghinaku! sombong sekali dia!" batin Melvin.


"Maaf, om. Jangan marah dan jangan tersinggung, aku tidak bermaksud apa-apa cuma mengatakan hal yang sebenarnya saja." Willdan menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Ya, nggak apa-apa. Om akui memang ucapanmu ada benarnya, om miskin dan tak punya apapun," Melvin tertunduk lesu seraya menghela napas panjang.


"Jangan sedih, om. Karena aku akan membantu, om." Willdan menepuk bahu Melvin.


"Sekarang juga om ikut aku." Willdan mengajak Melvin masuk dalam mobilnya.


"Memangnya kita akan kemana?" Melvin penasaran.


"Seperti yang aku katakan tadi, om. Aku akan memberi semua yang om butuhkan. Dari rumah, pekerjaan, hingga pakaian." Willdan melajukan mobilnya


Dia membawa Melvin ke sebuah paras rambut dan salon. Untuk merapikan rambut dan wajah kusam Melvin.

__ADS_1


Setelah itu, Willdan membawa Melvin ke pusat berbelanjaan. Dia membelikan begitu banyak pakaian dan sepatu serta sendal, bahkan segala kebutuhan untuk ke kantor.


Dalam hati Melvin masih saja janggal dengan kebaikan Willdan. Karena Melvin paham benar siapa itu Willdan, dia adalah pria yang sangat licik dan bagaikan serigala berbulu domba.


"Untuk sementara waktu, aku terima dulu semua kebaikan Willdan. Lambat laun pasti aku akan tahu apa niat Willdan di balik ini semua," batin Melvin seraya mencoba menutupi rasa curiganya pada Willdan.


Setelah merubah penampilan Melvin menjadi lebih baik, Willdan melajukan mobilnya ke suatu tempat yakni sebuah apartement yang tak begitu luas, namun lengkap dengan fasilitas seperto mobil dan motor serta ada sepasang suami istri yang bekerja sebagai asisten rumah tangga.


"Mulai sekarang om tinggal di apartement ini. Masuklah, dan istirahatlah. Besok pagi aku akan kembali lagi, ini kunci apartement dan juga kontak mobil dan motor." Willdan memberikan semuanya pada Melvin.


Melvin lekas masuk dalam apartement tersebut dengan membawa semua barang-barang belanjaan yang di belikan oleh Willdan.


Sementara Willdan melajukan mobilnya menuju arah pulang. Di dalam hatinya menyeringai licik. Tidak ada yang tahu, apa yang terselubung di hati Willdan untuk Melvin. Hanya Willdan saja yang tahu akan hal itu.


Saat Willdan menuju arah pulang, dia teringat sesuatu.


"Rencana berikutnya, aku akan mengunjungi Sendy di lapas." Willdan mengurungkan niatnya pulang, dia putar arah dan melajukan mobil ke lapas.

__ADS_1


Tak berapa lama, sampailah Willdan di lapas di mana saat ini Sendy di tahan.


"Sendy, apa kabarmu? kakak minta maaf baru bisa jenguk kamu, karena pekerjaan yang sangat banyak," Willdan memeluk Sendy seraya menepuk punggung Sendy.


"Aku pikir kakak lupa sama aku, terima kasih sudah bersedia datang. Kebetulan sekali, aku juga ingin berbicara hal penting pada kakak," Sendy melepas pelukannya.


Dan menjatuhkan pantatnya di kursi, begitu pula dengan Willdan. Setelah keduanya sama-sama duduk nyaman, barulah Sendy membuka pembicaraan.


"Ka, aku minta tolong, hubungi pengacara pribadiku untuk mengajukan naik banding supaya hukumanku bisa berkurang."


"Aku juga minta tolong, kaka mengurus dua perusahaanku yang ada di luar negeri."


Demikian penuturan dari Sendy untuk Willdan.


"Gayung bersambut, keberuntungan sedang berpihak padaku. Padahal kedatanganku kemari juga ingin berbicara soal perusahaan Sendy yang di luar negeri," batin Willdan menyeringai licik.


******

__ADS_1


__ADS_2