
Akhirnya Kristina menuruti perintah Alberto, dia duduk kembali.
"Sayang, nggak usah penasaran terus. Nanti juga anak buahku akan memberi tahu padaku siapa sebenarnya pemuda yang ada di halaman. Apa kamu punya PIL ya, khawatir PIL itu yang datang kemari?" Alberto menaik turunkan alisnya.
"Ih, Ka Albe. Aku sama sekali nggak punya PIL, hanya kaka pria satu-satunya yang aku cinta." Kristina tertunduk malu.
Sementara saat ini Sendy sedang di tanya macam-macam oleh para bodyguard. Tak berapa lama, bodyguard menelpon Alberto.
Setelah itu barulah Alberto memberitahu pada Kristina, mengenai pemuda tersebut.
"Sayang, kamu penasaran kan siap yang datang kemari? Dia adalah adik dari mantan suamimu." Kata Alberto.
"Adik Mas Willdan, untuk apa pula kemari?" Kristina mengernyitkan alis.
"Ka, temani aku menemuinya." Kristina menatap sendu Alberto.
"Baiklah, sayang." Alberto bersedia menemani Kristina menemui Sendy.
__ADS_1
Mereka berjalan berdampingan untuk menemui Sendy. Setelah begitu dekat, Sendy menggerutu di hati.
"Jadi Kristin mencampakkan Ka Willdan demi pria ini. Pria yang tak asing lagi bagiku, karena pria ini pengusaha terkaya dan terkenal di kota ini." Batin Sendy menahan rasa geramnya.
Setelah jarak hanya beberapa inci, Sendy berpura-pura pasang wajah tersenyum walaupun hatinya sangat kesal.
"Sendy, ada apa kamu datang kemari? apa kamu belum tahu jika aku dan kakakmu telah berpisah?" Kristina tersenyum kecut seraya menatap tajam Sendy.
"Ka Kristin, kok sekarang kamu ketus nggak seramah dulu. Aku baru datang, bukannya di tanya kabar dan di persilahkan duduk. Malah di tanya untuk apa aku datang kemari." Sindir Sendy.
"Aku sudah tahu kalau kalian telah bercerai, apa aku nggak boleh bertemu dengan keponakanku?" Sendy berdusta.
Sendy melangkah mengikuti langkah kaki Kristina dan Alberto. Setelah sampai di teras, Sendy menjatuhkan pantatnya di kursi. Barulah Kristina bertanya kembali.
"Bagaimana kabarmu, setahuku kamu ada di Amerika Serikat?" tanya Kristina kembali.
"Kabarku baik, ka. Mana si cantik Mila?" tanya Sendy seraya berpura-pura bertanya tentang Mila.
__ADS_1
"Syukurlah, Mila masih tidur." Jawab Kristina singkat.
"Ka, ini siapa? kok nggak di kenalkan padaku, apakah ini suami baru kaka?" tanyanya melirik sinis pada Alberto.
Belum sempat Kristina menjawab, Alberto telah terlebih dulu berkata.
"Aku calon suaminya, sudah nggak usah basa basi. Apa maksud kedatanganmu kesini, kalau memang benar ingin ketemu Mila, dia sedang tidur. Jadi kalau nggak ada kepentingan lainnya, silahkan kamu pergi sekarang juga." Ucap Alberto ketus.
"Maaf ya, Tuan. Anda baru menjadi calon suami saja sudah sok mengatur kehidupan Ka Kristin, apa lagi kalau sudah menjadi suami pasti perilaku anda lebih arogan." Tiba-tiba Sendy berkata ketus seraya tersenyum sinis.
Alberto menjadi geram di buatnya. Hingga dia berdiri dengan lantang berkata tentang sikap Willdan pada Kristina dahulu.
"Jaga ucapanmu ya, harusnya kamu malu. Tingkah kakakmu itu lebih buruk dari saya, dia itu tukang selingkuh dan bermuka dua makanya Kristin menceraikannya." Kata Alberto dengan lantangnya.
"Aku nggak percaya dengan semua omongan anda, tuan. Intinya saya kemari ingin bertemu dengan Mila dan Ka Kristin, bukan dengan anda. Jadi anda nggak usah ikut berbicara, lagi pula status anda cuma calon belum beneran menjadi suami. Itupun kalau kalian menikah, tapi aku nggak yakin. Bisa jadi suatu saat Ka Kristin kembali pada Ka Willdan.
******
__ADS_1
Mohon dukungan like, vote, favorit