
"Semoga lekas terselaikan permasalahan sopir ojek ini." Gerutunya seraya melajukan mobilnya ke alamat rumah Pak Dery.
Namun baru seperempat jalan, Alberto menelpon jika ada klien yang ingin bertemu untuk membahas kerja samanya.
📱"Ron, kamu sedang ada dimana? cepat ke rumah sakit untuk jemput aku."
📱"Baik, Tuan. Sedang dalam perjalanan."
"Hem, baru mulai penyelidikan sudah harus di hentikan." Rony memutar balik arah mobilnya menuju rumah sakit.
Rony sengaja melajukan mobilnya dengan cepat, supaya lekas sampai di rumah sakit.
"Darimana saja sih, aku nunggu lama." Alberto mendengus kesal saat menunggu mobilnya di pelataran rumah sakit.
"Maaf, Tuan. Saya tadi berencana ke rumah Pak Dery, malah sudah seperempat perjalanan tapi saya akhirnya kembali karena ada telpon dari, Tuan." Rony melirik dari kaca spion.
Alberto tak bisa berkata lagi, dia hanya diam dan wajahnya masam.
Tak berapa lama, sampailah di kantor Alberto. Ada seorang pengusaha wanita yang telah menunggunya.
"Hay, Nona Ochan. Maaf telat datang, karena ada sedikit masalah." Alberto menyalami Ochan.
Namun saat Alberto akan melepaskan jabatan tangannya, justru Ochan menggenggamnya kencang.
"Sebentar, Tuan. Saya kan belum menjawab salam anda, kenapa jabatan tangannya mau di lepaskan?" Tatap genit Ochan pada Alberto.
Setelah beberapa detik, barulah Ochan melepaskan jabatan tangannya.
"Sepertinya akan ada satu lagi permasalahan." Batin Rony menatap sinis pada Ochan.
"Ron, kamu boleh melanjutkan kerjaanmu yang tadi sempat tertunda." Perintah Alberto menatap tajam Rony.
"Baiklah, Tuan. Saya permisi." Rony melajukan mobilnya melanjutkan visinya ke rumah Pak Dery.
"Semoga aku segera bisa bertemu Pak Dery, tapi kok pikiranku tertuju pada wanita tadi ya." Gerutunya seraya mengemudikan mobil.
__ADS_1
30 Menit perjalanan, akhirnya Rony telah sampai di rumah Pak Dery.
"Akhirnya sampai juga." Rony keluar dari mobilnya.
Segera melangkah ke arah pintu rumah Pak Dery.
"Tok tok tok." Rony mengetuk pintu rumah Pak Dery.
Namun tak ada respon dari dalam rumah, sehingga Rony mengulang mengetuk pintunya kembali.
"Apa nggak ada orang sama sekali, padahal sudah 2x aku ketuk pintunya. Namun nggak ada satu orang pun yang keluar." Gerutunya seraya berkali-kali mengamati jendela rumah Pak Dery.
"Sebaiknya aku bertanya pada tetangga di sekitar rumah ini, semoga ada yang mengetahui keberadaan Pak Dery." Gerutunya seraya melangkah menghampiri rumah tetangga.
"Permisi, bu. Maaf saya mengganggu waktu ibu sebentar." Sapa Rony pada ibu yang sedang menyiram bunga di halaman rumah.
"Iya, mas. Ada apa ya?" Jawab ibu tersebut seraya menghentikan aktifitasnya menyiram bunga.
"Maaf, bu. Saya tadi dari rumah Pak Dery, tapi tidak ada satupun orang yang keluar. Kira-kira ibu tahu nggak? dimana keberadaan Pak Dery?" tanya Rony dengan ramahnya.
"Oalah, pantas saja. Apakah ibu mengetahui rumahnya yang sekarang?" tanya Rony kembali.
"Maaf, mas. Saya tidak tahu, karena keluarga Pak Dery orangnya tertutup." Jawabnya kembali.
"Oh begitu ya, bu. Terima kasih dan mohon maaf telah mengganggu waktunya. Saya permisi, bu." Pamit Rony tersenyum ramah seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Sama-sama, mas." Jawab wanita tersebut seraya melanjutkan kembali aktifitasnya menyiram bunga.
Rony melangkah gontay ke arah mobil, dan lekas melajukannya. Wajahnya murung, pikirannya gelisah.
"Sial, kehilangan jejak. Kalau seperti ini aku harus bagaimana lagi untuk mencari informasi tentang Pak Dery." Gerutunya seraya melajukan mobilnya perlahn-lahan.
Rony akhirnya putus asa, dan menghentikan pencariannya. Dia memutuskan untuk kembali ke kantor Alberto.
"Untuk sementara waktu aku hentikan dulu pencarian terhadapa Pak Dery, besok aku lanjutkan dengan bertanya pada teman-teman sesama sopir ojek. Siapa tahu diantara mereka mengetahui keberadaan Pak Dery. Aku akan menguntit gerak gerik klien baru, Tuan Albert." Gerutunya seray mempercepat laju mobilnya menuju kantor Alberto.
__ADS_1
Tak berapa lama, Rony telah sampai di kantor Alberto. Namun saat akan mengetuk pintu ruang kerja Alberto, dia sungkan.
"Ah, aku takut di semprot jika aku ganggu Tuan Albert sedang membahas kerja samanya dengan klien barunya. Sekali-sekali aku intip saja dari kaca ini." Rony mengintip dari kaca.
"Tuan, bagaimana kerja sama kita?" tiba-tiba Ochan menghampiri Alberto, dia bergelayut manja di bahu Alberto.
"Nona, mohon jangan seperti ini. Bersikaplah yang sopan, kalau anda menginginkan menjalin kerjasama dengan saya." Alberto bangkit dari duduknya.
"Tuan, saya minta maaf. Karena apa yang saya lakukan reflek, bukan unsur kesengajaan. Badan saya bergelora saat dekat dengan anda yang sangat tampan dan menawan." Ochan berkata dengan jujurnya tanpa ada rasa malu sedikitpun.
"Sial, masa mau kerja sama dengan wanita menjijikkan seperti ini. Sebaiknya aku batalkan saja, dari pada kedepannya terjadi hal yang tak di inginkan." batin Alberto.
"Maaf, Nona Ochan. Sepertinya saya membatalkan kerjasama kita." Alberto menatap sinis pada Ochan.
"Loh, memangnya kenapa, Tuan tampan? padahal saya nggak berbuat macam-macam pada anda." Ochan mengernyitkan alisnya.
"Jujur, saya tidak suka dengan sikap anda yang sangat agresif. Padahal kita rekan bisnis, bukan sepasang kekasih." Cibir Alberto.
"Oh, jadi seperti itu. Padahal banyak pria yang menginginkan saya bersikap seperti ini, tapi saya hanya bisa seperti ini pada anda. Kalau menurut anda, hanya sepasang kekasih yang pantas melakukan hal seperti tadi. Saya bersedia menjadi kekasih, Tuan Tampan." Ochan mengedipkan matanya genit pada Alberto.
"Maaf, saya sudah memilik seorang calon istri. Tolong anda keluar dari ruang kerja saya jika hanya ingin menggoda saya. Di sini kantor, bukan bar atau diskotik. Jika anda ingin genit, sebaiknya ke bar saja. Di sana banyak pria hidung belang yang siap melayani anda, Nona." Alberto berkata lantang.
"Ih, aku kok malah jijik dengan wanita ini." Batin Alberto.
Begitu pula dengan Rony yang sempat melihat perilaku Ochan dari kaca di ruangan tersebut.
"Ih, kok aku ngintip seperti ini. Lagi pula itu perempuan kok nggak ada malunya ya," batin Rony
Di suatu tempat, seorang pria sedang tertawa bahagia karena usahanya telah berhasil.
"Selihai apapun kamu menyelidiki tentang berita hoax itu, tak akan bisa menemukan pelaku utamanya. Karena aku telah menyingkirkan Nanang, saksi kunci."
"Aku juga yang telah meracuni anak kecil itu, supaya hidup Kristin tidaklah tenang. Saksi kunci juga telah aku singkirkan jauh, sehingga tidak akan ada satupun yang bisa menjangkau keberadaannya."
"Sampai kapanpun, aku akan selalu membencinya. Dan aku aka terus membuat hidpunya sengsara."
__ADS_1
Gerutu pria tersebut seraya menyeringai sinis.