Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Terjebak


__ADS_3

Alberto mengirim notifikasi chat pesan pada Rony supaya segera datang dan mengusir Ochan.


Rony yang telah mendapat pesan dari Alberto lekas masuk.


"Nona, silahkan anda keluar." Rony menarik paksa Ochan.


"Hey, apa-apaan ini? Tuan Albert, siapa pria ini? kenapa kamu diam saja? tolongin aku." Ochan tetap berdiri tegak tak mau melangkah keluar.


"Dia asistenku, aku yang memerintah dia untuk membawamu keluar dari ruanganku." Alberto mendengus kesal.


"Tuan Albert yang tampan, masa seperti ini memperlakukan Ochan yakni Orang Chantik." Ochan tetap berdiri di tempat.


"Nona, jangan sampai saya memperlakukan anda dengan kasar." Rony menarik paksa Ochan keluar dari ruang kerja Alberto.


"Pastikan dia nggak kembali lagi kemari." Teriak Alberto pada Rony.


"Sialan, ketemu wanita gila. Pikirku benar-benar ingin bekerjasama." Alberto mendengus kesal seraya menghela napas panjang.


Sementara Ochan terus saja mengoceh di jalanan, sembari terus di gandeng oleh Rony.


"Tolong lepasin Ochan alias Orang Chantik. Apa kamu perlu pakai kacamata biar jelas melihat wajahku yang cantik ini." Ochan menyeringai sinis pada Rony.


Rony tetap saja membawa wanita itu ke luar dari halaman kantor dan menyerahkan pada security.


"Tolong antar dia ke mobilnya, aku sedang banyak pekerjaan. Dan pastikan, dia tidak datang lagi ke kemari dan buat keonaran." Perintah Rony pada security.


"Aduh, dimana pula mobil ini orang." security yang satu bertanya pada yang satunya.


Kedua security tersebut kebingungan mencari mobil Ochan. Ternyata Ochan datang dengan naik taxi on line.


Sebuah mobil datang dan keluarlah sepasang suami istri menemui security. Ternyata mereka adalah orang tua dari Ochan.


"Maaf ya, bapak-bapak. Putri kami ini sedikit depresi karena di tinggal pergi oleh tunanangannya. Dan saat kami akan membawanya berobat, dia melarikan diri. Kami sempat mendapat informasi jika anak kami berada di sini." Kata papah si Ochan.


Setelah itu orang tua Ochan membawanya masuk dalam mobil. Walaupun Ochan terus saja memberontak.


Kedua security geleng-geleng kepala dan menghela napas panjang. Ketika tahu jika Ochan depresi.


**********


Hari berlalu begitu cepatnya, tak terasa sudah menjelang pagi kembali. Mila telah kembali ke rumah dan kondisi sudah pulih benar.

__ADS_1


Kini Alberto benar-benar memerintah banyak anak buahnya untuk menjaga rumah Kristina.


"Sayang, mulai sekarang aku sengaja menyebar anak buah yang banyak di rumahmu. Supaya tidak terjadi hal yang di inginkan kembali."


"Aku minta maaf, karena telah gagal mencari tahu siapa sebenarnya pelaku yang menyebarkan berita hoax dan pelaku yang meracuni Mila."


Alberto menghela napas panjang setelah berkata panjang lebar seraya tertunduk lesu.


"Ka, janganlah bersedih. Suatu saat pasti Tuhan akan menunjukkan pada kita tentang orang jahat tersebut." Kristina mencoba menghibur Alberto.


Sementara setelah beberapa hari tinggal di LA, Yesi menyerah. Dia mengikuti kemauan Om Marwan dan Tante Mika.


"Daripada aku membantah dan hanya merugikanku, lebih baik aku berpura-pura menurut dan berubah. Supaya aku lekas bisa pulang ke Indonesia." batin Yesi menyeringai sinis.


Ternyata dia tidak benar-benar berubah, hanya untuk mengelabui tante dan omnya.


"Pap, sepertinya Yesi telah berubah. Sekarang menurut menjalankan semua peraturan kita." Mikha sumringah.


"Semoga bukan cuma untuk memperdaya kita, mam." Kata Marwan ragu.


"Nggak lah, pap. Sepertinya dia benar-benar berubah, karena tak pernah membantah lagi." Mikha tetap percaya jika Yesi telah berubah.


"Ngomong saja, nggak perlu sungkan." Mikha tersenyum.


"Tante, Yesi ingin ke mall membeli sesuatu tapi nggak ada uangnya." Rayu Yesi.


"Kamu ngomong saja apa yang kamu butuhkan,nanti om yang belikan." Sela Marwan.


"Om, ini barang-barang kewanitaan masa om yang membelikan. Aku malu dong, om."


Kilah Yesi.


"Sudahlah, pap. Beri saja Yesi uang yang dia perlukan." Bujuk Mikha.


Akhirnya Marwan memberi sejumlah uang pada Yesi tanpa ada rasa curiga.


"Ya, cuma dua juta. Tapi nggak apa-apa, aku masih punya perhiasan. Untung Tante Mikha berbaik hati mengembalikan semua perhiasannya padaku." Batinnya menyeringai puas.


Yesi pergi tanpa membawa sehelai pakaian, karena dia nggak ingin ada yang curiga padanya.


"Akhirnya aku bisa keluar dari rumah neraka itu, untuk sementara waktu aku akan tinggal di rumah temanku di LA ini." Batin Yesi tersenyum puas.

__ADS_1


Yesi menghubungi teman barunya, yang berada di kota LA. Teman baru berkenalan di sosial media. Dia di jemput oleh temannya.


"Hey girl, sudah lama menunggu?" tanya Rendra.


"Nggak kok, boy. Aku baru saja sampai, tapi sama sekali nggak membawa pakaian sehelaipun." Yesi mengerucutkan bibirnya.


"Nggak usah khawatir, girl. Nanti aku yang belikan, yuk buruan masuk mobil. Sebelum pesawat berangkat." Kata Rendra.


Rendra berjanji pada Yesi, akan membantunya pulang ke Indonesia. Dan Yesi percaya begitu saja pada pria yang baru di kenalnya tanpa menaruh rasa curiga.


"Sudah nggak sabar aku pulang ke Indonesia, untuk membalas sakit hatiku pada Albert dan Kristin." Yesi tersenyum terus.


Satu jam perjalanan, mobil Rendra berhenti di sebuah rumah besar namun seperti rumah bordir.


"Rendra, kok kita kemari? ini tempat apa?seperti tempat..


"Kamu jangan berburuk sangka, ini bukan tempat yang seperti kamu pikirkan. Ini rumah tante aku." Rendra mencoba meyakinkan Yesi.


"Tapi kok perasaanku nggak enak, sebaiknya aku pergi saja dari tempat ini." Yesi akan melangkah pergi, namun Rendra mencekal lengannya.


"Kamu mau kemana, cantik?" Rendra menyeringai sinis.


"Aku mau pulang saja, kamu telah membohongiku. Ini semacam rumah bordir kan?" Yesi mencoba memberontak namun tak bisa karena cekalan tangan Rendra begitu kuat.


Rendra menarik paksa Yesi dan membawanya ke sebuah kamar. Rendra mendorong tubuh Yesi ke pembaringan, dan dia lekas keluar serta menguncinya dari luar.


"Mom Elsa, aku dapat barang baru masih orisinil. Berarti aku dapat bayaran besar kan?" Rendra menyeringai puas.


"Nah, gitu dong. Tiap hari dapat barang baru, jadi kita semakin banyak pelanggannya. Jangan khawatir, kamu pasti akan mendapatkan uang dan bonus yang besar." Janji Mommy Elsa.


"Apa, aku akan di jual ke pria hidung belang." Yesi menggerutu di balik pintu.


Saat dia mencoba membuka pintu tidak bisa, dia malah tak sengaja mendengar percakapan antara Rendra dan Mommy Elsa.


"Sial, aku terjebak oleh Rendra!" gerutunya mendengus kesal.


Kini Yesi tak bisa berbuat apa-apa lagi, dia tidak bisa melarikan diri dari tempat itu. Hanya penyesalan yang saat ini dia rasakan.


"Harusnya aku tak mencoba melarikan diri. Sial, ponselku juga di ambil oleh Rendra. Bagaimana aku bisa menghubungi tante dan om untuk menolongkua." Tak terasa bulir bening keluar dari mata Yesi.


*******

__ADS_1


__ADS_2