
Setelah mendengar penuturan dari Sendy, Willdan menyanggupinya.
"Baiklah, aku akan menghubungi pengacaramu supaya bisa mengajukan banding secepatnya," Willdan menyunggingkan senyum.
"Kebetulan aku juga telah menemukan orang untuk menjaga perusahaan pemberianmu yang di kota ini," Willdan berkata kembali.
"Berarti kakak bersedia kan, mengurus dua perusahaanku yang ada di luar negeri. Tapi hanya untuk sementara saja, di saat aku di dalam prenjara," Sendy kembali menjelaskan.
"Ya, aku bersedia untuk mengurus perusahaanmu yang ada di luar negeri," jawab Willdan sangat antusias.
"Coba, aku pinjam ponselnya untuk menghubungi pengacaraku." Pinta Sendy pada Willdan.
Willdan lekas memberikan ponselnya pada Sendy, dan Sendy langsung menelpon pengacaranya.
Sendy sengaja menjauh saat menelpon pengacara pribadinya, karena ada banyak hal penting yang dia bicarakan pada pengacara pribadinya namun Willdan tak boleh mengetahuinya.
"Kenapa Sendy menelpon pengacara saja menjauh, seperti ada suatu pembicaraan yang di sembunyikan dariku," batin Willfan terus saja mengamati mimik wajah Sendy.
Setelah selesai urusannyq dengan pengacara pribadinya, Sendy mengembalikan ponsel Willdan padanya.
"Sendy, kaka pamit pulang ya. Karena sudah sore. Besok kakak datang lagi kemari," Willdan bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
"Baik, ka. Terimakasih sudah bersedia berkunjung kemari." Sendy menyunggingkan senyum.
Willdan beranjak bangkit dari duduknya, dia lekas pergi dari lapas tersebut.Hati dia berbunga-bunga karena kesempatannya untuk memiliki perusahaan Sendy tercapai.
Padahal Sendy tidak memberikan perusahaannya, namun hanya meminta untuk sementara waktu Willdan yang mengelolanya.
Sendy kembali ke dalam sel dia, namun baru beberapa menit, datanglah pengacara pribadinya.
"Tuan, saya akan berusaha membantu anda untuk bisa mengajukan naik banding, supaya masa hukuman anda bisa di kurangi," kata pengacara pribadinya.
"Ada satu hal pula yang harus kamu kerjakan, yakni membantuku membantu mengawasi kakakku saat kelak dia mengurus perusahaanku yang di luar negeri," pinta Sendy pada pengacaranya.
"Baiklah, tuan.Saya akan selalu mengawasi cara kerja, Tuan Willdan." Pengacara meyakinkan Sendy.
__ADS_1
"Hem, baguslah. Karena saya kurang percaya padanya. Awasi dia, tanpa sepengetahuannya. Jangan sampai dia curiga," pinta Sendy kembali.
Setelah cukup lama percakapan mereka, pengacara segera pulang. Karena akan mengurus surat pengajuan naik banding. Bahkan Sendy bersedia membayar denda sebesar apapun, asal dia bisa mendapat keringanan masa hukuman.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa telah pagi saja. Seperti janji Willdan pada Melvin, dia akan mengajaknya bekerja di kantorntya. Willdan lekas berangkat ke apartement di mana saat ini Melvin tinggal.
Hanya beberapa menit saja, dia telah sampai di apartement tersebut. Melvin juga telah siap dengan pakaian ke kantornya.
"Wah, keren sekali Om Melvin. Terlihat lebih tampan dan lebih muda," puji Willdan pada Melvin.
"Om sudah tua, jangan terlalu tinggi dalam memuji. Nanti om jatuhnya sakit," Melvin terkekeh.
"Om, mau naik mobil sendiri atau mau bareng sama aku? Om, masih bisa mengemudikan mobil kan?" Canda Willdan.
"Ya ampun, kamu menghina sekali sama om. Biar begini om masih hapal cara mengemudikan mobil," Melvin mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah, kalau begitu untuk sementara waktu kita berangkat bersama saja. Kalau om sudah hapal jalan baru om berangkat sendiri," Willdan menepuk bahu Melvin.
Segera mereka berangkat ke kantor bersama, dengan mengendarai mobil milik Willdan. Tak berapa lama, mereka telah sampai.
Setelah masa perkenalan selesai, Willdan mengajak Melvin ke ruang kerja untuk Melvin.
"Om, ini ruang kerja buat Om. Semoga om kerasan kerja di kantorku. Om hari ini bisa pelajari sedikit demi sedikit dulu, biar lekas paham. Nggak perlu di paksakan dalam bekerja, aku tinggal ke ruanganku ya om. Ini daftar nomor telpon para karyawan kantor dari nomor telpon di ruanganku, hingga nomor para staf karyawan sampai nomor di bagian cleaning servis." Willdan meletakkan buku kecil di meja.
"Baiklah, terima kasih ya." Melvin sumringah.
Sementara Willdan kembali ke ruang kerjanya. Seperginya Willdan, Melvin tersenyum sendiri merasa sangat senang dan bahagia.
"Aku nggak menyangka, bisa duduk di kursi kerja lagi. Bisa memakai baju rapi ini, dan bisa tinggal di rumah bersih, punya mobil, motor."
"Aku pikir selamanya aku akan tinggal di rumah kardus dan selamanya mengemis di lampu merah serta menjadi pemulung."
"Sayangnya, semua aku nikmati sendiri. Tidak ada Sherlyn, coba dia tidak di penjara pasti aku akan lebih bahagia lagi."
Sedari tadi, Melvin terus saja menggerutu sendiri. Sesekali teringat akan nasib miris Sherlyn. Melvin mengitari seluruh ruang kerjanya seraya senyam senyum sendiri. Membuka berkas demi berkas yang ada di meja kerjanya untuk dia pelajari.
__ADS_1
"Terlalu lama aku hidup di jalanan, sehingga aku harus belajar lagi dari awal. Semua lupa begitu saja, mungkin karena faktor umur kali ya?" gerutunya seraya terus mempelajari berkasnya seraya sesekali menggaruk kepalanya.
Tak terasa waktu telah sore, saatnya untuk pulang kerja. Willdan mengantar Melvin pulang ke apartementnya. Setelah itu dia pulang ke rumahnya sendiri.
Melvin lekas membersihkan diri dengan melakukan ritual mandi sorenya. Setelah itu dia berinisiatif menjenguk Sherlyn di dalam lapas.
"Sudah lama sekali, aku nggak ketemu Sherlyn. Bagaimana kondisi dia sekarang ya?" gerutunya seraya mengenakan pakaiannya.
Setelah rapi, tak lupa dia berpamitan pada sepasang asisten rumah tangganya. Jika dia akan keluar sejenak, dia sengaja tidak memberitahu akan pergi ke lapas.
Melvin melajukan mobilnya terlebih dulu membeli makanan kesukaan Sherlyn.
"Untung saja Willdan memberi uang untukku. Sehingga aku bisa membeli makanan kesukaan Sherlyn," gerutunya seraya tersenyum dan fokus melajukan mobilnya.
20 Menit kemudian..
Melvin telah sampai di lapas di mana Sherlyn menjalani masa hukumannya. Namun Melvin merasa sedih dan iba saat bertemu dengan Sherlyn.
"Nak, kok wajahmu malah jadi tambah menyeramkan seperti itu?" Melvin merasa seram melihat wajah Sherlyn.
"Pah, kenapa nggak pernah jengukin aku?" Sherlyn berkata di sela makan makanan yang di bawa oleh Melvin.
"Maaf, Sherlyn. Papah sempat terpuruk, hidup di jalanan tinggal di rumah kardus. Kerja cuma jadi pemulung, kadang mengemis di lampu merah."
"Hasil mulung cuma untuk makan, kadang kalau sedang sial. Hasil kerja ngemis atau mulung di minta paksa sama preman."
"Papah bisa seperti ini lagi, baru hari ini. Berkat pertolongan Willdan."
Melvin menceritakan kisah hidupnya secara mendetail pada Sherlyn. Sementara Sherlyn terus makan seraya mendengarkan apa yang Melvin ceritakan.
"Willdan, pah? masa dia mau menolong papah dengan cuma-cuma tanpa minta jasa imbal balik?" tiba-tiba Sherlyn berucap.
"Iya, Sherlyn. Mulai pagi tadi papah bekerja di kantor Willdan menjadi wakil direktur," kata Melvin sumringah.
*******
__ADS_1