
Di dalam hati Mr X, dia ingin sekali menghajar Alberto.
"Dasar pria sombong, mentang-mentang dia orang terkaya di kota ini. Hingga seenaknya saja padaku. Aku juga heran, kenapa pula Kristina bertahan dengan pria seperti Alberto!" batin Mr X geram.
Dia terus saja menggerutu dan mendengus kesal. Apalagi saat dia ingat pembatalan kerja sama secara sepihak oleh Kristina gara-gara ulah Alberto.
"Coba saat itu, Kristina tetap menjalin kerja sama denganku. Aku pasti bisa meluluhkan hatinya, dan menyingkirkan Alberto selamanya. Aku sudah berusaha ingin bersaing secara sehat dalam memperebutkan cinta Kristina, tapi malah Alberto terlalu turut campur dalam urusan pekejaan Kristina!" gerutu Mr X dalam hati.
"Maaf, Tuan. Ini bagaimana dengan pesanan Nona Kristina dan Tuan Alberto?" tanya salah satu karyawati yang telah menyajikan pesanan tersebut.
"Bawa lagi ke dapur, lagi pula masih benar kan? belum di apa-apakan," perintah Mr X.
Sementara saat ini Kristina telah berada di samping Alberto. Namun Alberto diam tanpa kata.
"Ka Albe, sudahlah jangan marah terus. Masa masalah kecil saja di perpanjang, apa lagi nanti kalau kita nikah bagaimana? padahal dalam pernikahan tidaklah selalu mulus, pasti ada saja batu sandungannya," Kristina kembali lagi membujuk Alberto supaya reda marahnya.
"Hem." Alberto hanya melirik
__ADS_1
Tak berapa lama Rony telah datang, Alberto dan Kristina lekas masuk dalam mobil.
"Kamu kemana saja sih! aku menunggu lama sekali, sampai pegal kakiku!" bentak Alberto pada Rony.
"Maaf, Tuan. Saya pikir Tuan bakal lama di restoran jadi saya berniat akan mengajak Rere makan juga," Rony berkata apa adanya seraya fokus melajukan mobilnya.
"Lain kali, nggak usah ijin-ijin pergi segala!" bentak Alberto.
"Baik, Tuan. Maafkan saya," ucap Rony menahan kesal pada Alberto.
"Lagi kenapa si bos ini, tadi bahagia sekali. Tahu-tahu berubah keluar taring dan cakarnya," batin Rony seraya menghela napas panjang.
"Cari tempat makan, tapi nanti kamu pastikan dulu pemiliknya. Kalau tempat makan itu milik orang asing itu, aku nggak mau!" jawabnya ketus.
"Baik, Tuan."
Kini Rony tahu kenapa majikannya tiba-tiba keluar taringnya, karena rasa cemburu pada Mr X.
__ADS_1
"Oh, restoran tadi milik Mr X? pantas Tuan Albert nggak jadi makan di restoran tadi. Ternyata masih ada rasa kesal dan cemburu pada si pria asing itu," batin Rony menahan tawanya.
"Kalau di lihat-lihat, Tuan Albert lucu juga kalau sedang marah wajahnya mayun mirip banget anak kecil," batin Rony seraya sesekali melirik Alberto.
Hingga tak sadar, mereka bertatap muka. Rony langsung memalingkan pandangannya.
"Apa kamu meliriku seperti itu, baru sadar kalau aku ganteng?" Alberto melirik sinis pada Rony.
Hingga Rony sudah tak tahan lagi menahan tawanya, kini dia tertawa ngakak sembari terus melajukan mobilnya.
"Heh, gila kamu ya! di tanya malah ngakak, hati-hati kamu kan lagi nyetir!" Alberto tambah sewot.
"Maaf, Tuan. Wajah anda lucu sekali kalau sedang marah, mirip anak kecil yang sedang ngambek karena ingin membeli sesuatu tapi tak di belikan," kembali lagi Rony ngakak.
"Terus ya, lanjutkan dalam mengejekku. Dan aku pastikan ini hari terakhir kamu bekerja padaku!" ancam Alberto ketus.
"Jangan dong, Tuan. Nanti bagaimana aku bisa menabung untuk biaya pernikahanku bersama Rere," rengek Rony di sela mengemudi.
__ADS_1
**********