Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Kebersamaan


__ADS_3

Rony melajukan mobilnya dengan cepat menuju apartement Kristina, di mana Kristina telah siap. Dia menunggu di teras depan rumah.


Tak berapa lama, datanglah mobil Alberto parkir tepat di halaman apartement Kristina.


"Sayang, sudah lama menunggu?" Alberto menghampiri Kristina seraya tak lupa mengecup keningnya.


"Belum kok, baru saja duduk. Ka Albe, sudah sarapan belum?" Kristina mencolek hidung mancung Alberto.


"Hem, suatu pertanyaan yang tak butuh jawaban. Seperti baru kenal aku kemarin sore saja?" Alberto mengerucutkan bibirnya.


"Hem, ya maaf. Yuk kita sarapan dulu, aku sudah menyiapkan menu kesukaanmu." Kristina menuntun Alberto masuk dalam rumah menuju ruang makan.


"Wah, bagaimana aku nggak tergoda untuk setiap hari sarapan di sini? karena masakanmu selalu membuat perutku tak tahan menahan rasa lapar," Alberti menjatuhkan pantatnya di kursi seraya memainkan lidahnya seolah sudah tak sabar lagi ingin menyantap makanan tersebut.


Kristina mengambilkan makanan tersebut untuk Alberto. Tanpa menunggu Kristina mempersilahkan makan, Alberto telah menyantapnya terlebih dulu.

__ADS_1


Tingkah laku Alberto membuat Kristina terkekeh di buatnya.


"Baru kali ini masakanku selalu di hargai dan bahkan selalu di nikmati, tidak seperti saat dengan Willdan. Jika aku sudah susah payah masak, dia alasan ini itu jika di tawari makan masakanku, yang membuat aku akhirnya malas untuk berkutat di dapur," batin Kristina seraya tersenyum menatap Alberto.


"Sayang, duduklah dan makanlah bersamaku. Kenapa kamu malah terus menatapku seperti itu? aku minta maaf jika terlihat rakus, tapi aku suka sekali dengan masakanmu ini," Alberto menambah porsi makannya kembali.


"Sayang, jika aku gemuk jangan menyalahkanku ya? tapi salahkan dirimu yang selalu memberiku makanan lezat setiap hati," Alberto terkekeh.


"Belum setiap hari, baru setiap pagi," Kristina ikut pula sarapan namun porsi makan tak sebanyak Alberto.


"Sayang, kenapa aku perhatikan kamu selalu makan sedikit. Tak perlu khawatir jika gemuk, aku akan tetap cinta padamu meskipun kamu berubah gemuk," Alberto menambahkan porsi makan ke piring Kristina.


Kristina memindahkan makanan yang ada di piringnya ke piring Alberto dengan terkekeh.


"Noh, makan lagi biar gemuk dan nggak bikin malu ibumu. Kalau kurus ntar di kira nggak di kasih makan sama ibumu," canda Kristina terkekeh.

__ADS_1


"Hem, aku adukan nanti sama mommy. Biar kamu di hukum mommy," Alberto melirik sinis pada Kristina.


Perut sudah kenyang rasanya, tapi dia paling anti kalau untuk membuang makanan. Hingga makanan yang ada di piringnya di makan kembali dengan sangat terpaksa. Kristina yang melihatnya merasa tak tega.


"Ka Albe, jika sudah kenyang nggak udah di makan lagi. Nanti perutmu kekenyangan rasanya nggak enak loh," Saran Kristina.


"Makanan di buang-buang kan sayang, di luar sana banyak yang nggak bisa makan. Kita makan jangan di sia-siakan, nanti makanannya nangis." Ucapnya seraya menyantap kembali makanannya.


Hingga tak tersisa sama sekali. Perutpun rasanya sangat kenyang, sampai kancing celana terpaksa di buka karena ketat di perut.


"Lihatlah perutku, sayang. Seperti wanita hamil empat bulan," Alberto menunjukkan perut gendutnya.


Setelah itu menutup bajunya kembali, supaya tidak terlihat perutnya yang gendut.


Kristina hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Alberto seraya menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Ka Albe, bagaimana kita mau fitting baju pengantin dengan kondisi perut kaka yamg gendut itu?" canda Kristina terkekeh.


************


__ADS_2