
Tak berapa lama kemudian, mobil berhenti di bandara. Irwan memerintah Yesi segera turun. Namun Yesi tidak bersedia.
"Cepat turun, kenapa malah mematung!" bentak Irwan seraya melotot pada Yesi.
"Nggak, aku sudah tahu kalau sebenarnya mau di kirim ke LA! harus berapa berapa kali aku bilang sama papah, jika aku nggak mau tinggal dengan tante dan om yang sifatnya arogan dan kejam bak mafia." Yesi tetap menolak turun dari mobil.
"Sudah nggak usah banyak bicara, papah juga sudah berapa kali menasehatimu. Tapi kamu selalu keras kepala dengan pendirianmu! tak mau berubah! papah sudah nggak sanggup mengurusmu yang super keras kepala!" Irwan menarik paksa Yesi untuk keluar dari mobil.
"Aduh, pah sakit." Yesi merintih kesakitan saat Irwan menarik paksa tangam Yesi.
"Salahmu nggak mau menurut." Irwan tetap menyeret paksa Yesi keluar dari mobil.
Yesi terpaksa menurut, karena tak ingin tangannya lebih sakit oleh cengkeraman Irwan.
Selama melangkah masuk ke bandara, Irwan tak pernah melepaskan cengkramannya. Karena khawatir Yesi lari.
Hingga di semua tempat makan, Irwan menghentikan langkahnya. Dan tersenyum saat melihat ada sepasang pria dan wanita yang hanya selisih beberapa tahun dengannya.
"Hey, brother sister. Sudah lama menunggu ya?" Irwan menyalami mereka.
Setelah itu, bercakap-cakap sejenak. Langsung saja pria yang di panggil brother mencekal lengan Yesi dan membawanya ke landasan pesawat, dimana pesawat yang akan di tumpangi telah datang.
Sementara wanita yang di sebut sister membawakan koper milik Yesi. Irwan menatap kepergian mereka hingga benar-benar pesawat yang mereka tumpangi lepas landas.
"Semoga kelak setelah berada beberapa bulang kamu berada di LA bersama Mikha dan Marwan. Kamu berubah jadi lebih baik," batin Irwan
"Biarpun adikku keras dalam mendidik anak-anak mereka, tapi sebenarnya mereka sangat baik. Alhasil didikan mereka tidak sia-sia, ketiga anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa baiknya," kembali Irwan menggerutu di hati.
Setelah cukup lama melihat pesawat yang di tumpangi Yesi terbang semakin tak terlihat, barulah Irwan memutuskan untuk pulang.
Sementara Yesi di dalam pesawat terus saja murung dan menggerutu, karena masih belum bisa menerima jika dirinya harus tinggal bersama Om Marwan dan Tante Mikha.
Namun wajah murung Yesi tak membuat iba Marwan dan Mikha, mereka hanya melirik sinis pada Yesi.
"Sialan, ternyata yang aku pikirkan salah! aku benar-benar di kirim ke LA!" gerutu Yesi di dalam hati.
Sementara saat ini Irwan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Beberapa menit kemudian, Irwan telah sampai di rumah di sambut oleh Leni.
"Pah, bagaimana reaksi Yesi saat tahu akan di kirim ke LA?" Leni bergelayut di lengan Irwan.
"Sempat menolak nggak mau keluar dari mobil, tapi papah paksa." Jawabnya singkat.
"Sebenarnya mamah juga nggak tega melihatnya, kasihan juga." Leni tertunduk lesu.
"Rasa nggak tega dan kasihanmu itu yang malah membuat Yesi menjadi seperti sekarang ini. Manja dan sama sekali nggak pernah mendengar nasehat orang tua." Irwan bersungut kesal.
Leni hanya terdiam saja saat suaminya menyindir sikapnya yang terlalu memanjakan Yesi. Dan selalu menegur Irwan jika Irwan memarahi Yesi.
Orang tua Yesi tidak mengetahui jika Yesi sempat ikut melapor ke kantor polisi pada saat mengalami tindak kriminal. Dan dirinya suatu saat bisa di harapkan untuk kembali datang ke kantor polisi.
__ADS_1
Berbeda situasi di apartement Kristina, dia sedang merasakan seluruh badan rasanya pegal gara-gara semalam berkelahi dengan sopir taxi gadungan. Bahkan ada beberapa lebab di bagian tubuh seperti lengan dan lebam di pelipis.
"Rasanya pengen rebahan saja dan pijit seluruh badan, gara-gara semalam badan pegal semua. Tapi kantor sedang banyak urusan." Kristina melangkahkan kaki ke mobilnya.
Namun saat akan melajukannya, mobil Alberto datang. Hingga Kristina mengurungkannya dan keluar dari mobil menemui Alberto.
"Sayang, kok pagi sekali sudah mau ke kantor. Padahal aku kemari karena ingin sarapan masakanmu." Alberto menghampiri Kristina.
Namun saat telah dekat, dia melihat lebam
di pelipis dan lengan Kristina.
"Ini kenapa kok biru gini, dan itu yang di lengan juga. Hem, pasti gara-gara semalam kamu beramtem. Lain kali, kalau melihat hal seperti itu nggak usah lah mencoba menolong." Alberto mengamati luka lebam di pelipis dan lengan Kristina.
"Pasti sakit banget, sebaiknya kita kedokter yuk." Alberto menggandeng tangan Kristina untuk segera pergi ke dokter.
"Nggak usah, Ka Albe. Besok juga lebamnya hilang, lebih baik kita sarapan saja. Itu Rony sekalian ikut sarapan, kasihan kalau di cuekin." Kristina bergelayut manja di lengan Alberto seraya sejenak melirik ke Rony saat menyarankan Alberto mengajak sarapan Rony.
"Ron, turun. Yuk ikut sarapan bareng kita, mumpung aku lagi berbaik hati." Perintah Alberto melambaikan tangan pada Rony.
"Aduh, padahal aku sudah janji akan sarapan bareng Rere. Tapi kalau aku menolak pasti Tuan Albert ngomel seperti petasan. Dia kalau sudah bilang iya harus iya, jika bilang tidak harus tidak. Huft, nasib jadi bawahan harus selalu patuh pada atasan." Rony turun dari mobil dengan langkah gontay.
Dia menuruti kemauan Alberto untuk ikut sarapan bersama. Namun saat sarapan, pikirannya terus saja tertuju pada Rere. Sehingga dia tidak sadar, jika terlalu banyak menuangkan sambal ke dalam mangkoknya yang berisi opor.
Kebetulan menu pagi di rumah Kristina adalah opor ayam. Namun dia sendiri belun sempat sarapan karena pikiran tertuju pada urusan kantor yang menumpuk. Kristina juga tak berani menolak ajakan sarapan Alberto, karena tak ingin membuat kekasihnya itu merasa kecewa.
Saat Rony menyantap opornya, dia langsung tersedak karena kuah opor yang sangat pedas.
"Makanya kalau makan jangan terus ngelamunin Rere, narok sambal nggak kira-kira. Nggak di lihat tapi mata dan pikiran melayang traveling ke Rere." Goda Alberto terkekeh.
Rony hanya tersipu malu dan sesekali garuk-garuk tengkuk yang tak gatal.
"Ambil yang baru aja, Ron. Itu terlalu pedas nanti perutmu sakit, lebih baik jangan di makan." Kristina menyarankan seraya menahan tawa melihat tingkah Rony yang kepedasan.
"Hhee iya, Non Kristin." Rony mengambil porsi opor yang baru sesuai perintah Kristina.
Mereka melanjutkan makan tanpa ada kehebohan seperti tadi lagi. Setelah selesai sarapan bergegas mereka berangkat ke kantor.
Namun Alberto bersama Kristina dengan mengemudikan mobil Kristina. Rony langsung melajukan mobilnya terlebih dulu sesuai perintah Alberto.
"Huh, enak banget jadi atasan. Tinggal perintah ini itu, coba di sampingku ini Yayang Rere. Pasti aku lebih semangat." Gerutunya tersenyum sendiri seraya melajukan mobilnya.
"Serasa punya mobil sendiri, sering-sering saja seperti ini." Rony memutar musik.
Seraya mengemudikan mobil seraya berdendang bernyanyi mengikuti syair lagu yang saat ini sedang di dengarnya.
Lain halnya dengan Kristina dan Alberto, mereka juga sesekali bercanda ria. Dan bercerita tentang masa kecil mereka yang banyak sekali kejadian lucu dan menggelikan.
Sesekali mereka tergelak dalam tawa, saat mengingat kejadian lucu di masa kecil mereka.
__ADS_1
Tak terasa mereka telah sampai di depan kantor Kristina, bertepatan dengan sampainya mobil Irwan.
Sekilas Alberto dan Kristina melihatnya.
"Ka, itu bukannya Om Irwan? untuk apa sepagi ini ke kantor, padahal hari ini aku nggak ada janji bertemu dengannya?" Kristina mengernyitkan alisnya.
"Entahlah, sayang. Temui saja, mungkin ada sesuatu yang penting." Alberto menyunggingkan senyum.
"Selamat pagi, Nona Kristin. Mohon maaf, jika pagi sekali saya datang kemari. Karena ada suatu hal yang sangat penting yang ingin saya bicarakan dengan anda." Irwan menyunggingkan senyum seraya menutupi kegugupannya.
"Pagi juga, Tuan Irwan. Tak perlu sungkan, mari silahkan kita bicara di ruang saya." Kristina mempersilahkan Irwan masuk ke kantornya.
"Eh ada, Nak Albert." Irwan menyapa Alberto yang menghampiri Kristina.
"Iya, om." Jawabnya singkat.
Alberto penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan oleh Irwan dengan Kristina. Hingga dia mengikuti langkah Irwan dan Kristina yang akan ke ruangan Kristina.
"Nggak apa-apa kan, om. Kalau saya tahu apa yang akan om bicarakan dengan Kristin?" tanya Alberto menatap Irwan.
"Nggak apa-apa kok, Nak Albert. Lagi pula apa yang akan om sampaikan bukanlah suatu berita rahasia. Jadi nggak perlu om sembunyikan darimu," Jawab Irwan seraya tersenyum.
"Non Kristin, saya kemari karena ada hubungannya dengan Yesi. Terima kasih karena telah menolong Yesi, dan saya mohon maaf karena Yesi sama sekali tak tahu berterima kasih."
"Saya juga mohon maaf karena Yesi sama sekali tak bersedia mengakui kesalahannya pada anda. Dan selalu membuat onar."
"Tapi anda tak perlu khawatir, karena tadi pagi saya telah mengirim Yesi ke LA. Supaya dia tidak mengganggu kehidupan anda."
Panjang lebar Irwan berkata hanya untuk meminta maaf pada Kristina. Dia sangat khawatir, karena ulah Yesi akan mempengaruhi jalinan kerjasamanya bersama Kristina.
"Iya, Tuan. Saya sudah memaafkan Yesi. Sebenarnya nggak perlu Tuan mengirim Yesi ke LA. Karena kemungkinan suatu waktu Yesi bisa di panggil ke kantor polisi untuk menjadi saksi saat kejadian kejahatan semalam. Karena begitu saya berhasil meringkus penjahat itu, saya langsung lapor polisi." Kata Kristina tersenyum ramah.
"Aduh, saya malah nggak berpikir sampai sejauh itu. Lagi pula semalam Yesi tidak cerita apa-apa, sehingga saya nggak tahu soal ini." Irwan menghela napas panjang.
"Begini saja, Tuan. Nanti biar saya yang akan menjelaskan ke pihak yang berwajib jika ada panggilan untuk Yesi supaya ke kantor polisi." Kata Kristina menghibur hati Irwan yang nampak murung.
"Baiklah, terima kasih sekali." Irwan bernapas lega.
"Sama-sama, Tuan Irwan." Kristina tersenyum ramah.
"Saya harap segala permasalahan yang di timbulkan oleh Yesi tidak mengganggu kerjasama kita, Non Kristin." Irwan tertunduk malu.
"Anda nggak perlu khawatir, saya bukan tipe pendendam. Kita akan tetap menjalin kerja sama." Kristina menyakinkan Irwan.
Irwan sedikit merasa lega, namun juga kesal pada Yesi yang tak bercerita jika semalam sempat ke kantor polisi untuk menjadi saksi.
Setelah beberapa menit bercengkrama akhirnya Irwan memutuskan untuk kembali ke kantornya.
******
__ADS_1
Mohon maaf karya remahan, tahap belajarππππ