
Yesi tak bisa melarikan diri sama sekali, dia hanya bisa menangis dan merutuki diri. Berbeda situasi di rumah, dimana Om Marwan dan Tante Mikha sedang gelisah karena sudah beberapa jam kepergian Yesi, namun dia tak kunjung pulang.
"Mam, coba kamu hubungi ponsel Yesi. Tanyakan sekarang sedang ada dimana. Kali saja dia nggak hafal jalan, jadi nggak bisa pulang." Perintah Marwan pada Mikha.
"Baik, pap. Tapi kok nggak aktif, pap." Mikha terus saja mencoba menelpon Yesi namun tidak ada respon.
"Mam, apa mungkin Yesi kabur? tapi saat dia pergi sama sekali nggak bawa apapun." Marwan memijit pelipisnya seraya menghela napas panjang.
"Lebih baik kita minta tolong saja sama ketiga anak kita, pap. Untuk mencari Yesi." Mikha mondar mandir panik.
"Iya juga sih, ya sudah kita minta tolong anak-anak kita saja." Marwan menelpon ketiga anak lelakinya satu persatu.
Sementara saat ini pria yang membalas dendam sedang duduk bersantai bersama mamah dan kakaknya.
__ADS_1
"Ka Willdan, kamu nggak perlu khawatir lagi. Perlahan dendanmu telah aku balaskan pada Ka Kristin." Kata Sendy.
"Terima kasih adikku, kamu juga telah membantu kakak sehingga mempunyai pekerjaan kembali." Willdan memeluk Sendy.
"Kenapa nggak dari awal kalian cerita semua ke aku, pasti kalian nggak akan mengalami hidup susah. Lagipula selama aku di Luar Negeri, kalian juga nggak bisa aku hubungi." Rajuk Sendy.
"Maafkan aku, Sendy. Waktu itu aku berpikir nggak mau mengganggumu yang sedang sibuk. Karena terakhir kali kita komunikasi, kamu bilang jadwal kantormu padat. Apa lagi kamu di sana memiliki perusahaan nggak cuma satu." Kata Willdan.
"Gara-gara berpindah rumah berkali-kali, sampai nomor ponsel ganti aku lupa memberi tahumu." Kata Willdan kembali.
"Iya, kakak iparmu sangat jahat! jahat sekali, kami menderita tinggal di kontrakan juga karena ulah Kristin! setelah dia kuras habis harta kakakmu, dia menceraikan kakakmu dan menjalin kasih dengan pria yang lebih kaya dari kakakmu!" Mamah Elsa menghasut anak bungsunya sendiri.
"Baiklah, aku juga akan menghancurkan perusahaan Kristin! akan aku rebut kembali semua yang seharusnya menjadi milik Ka Willdan!" Sendy mendengus kesal.
__ADS_1
Sendy tidak mengetahui perbuatan kakaknya, karena dia terlalu lama di Luar Negeri. Saat terakhir dia meminjam mobil untuk reuni, malam itu juga dia terbang ke Amerika Serikat.
Karena prestasinya yang luar biasa, Sendy mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Untuk melanjutkan kuliah di negara Amerika Serikat dan dia juga di promosikan oleh kampusnya, di suatu perusahaan bonavit.
Lambat laun Sendy bisa memiliki perusahaan sendiri dan bahkan tidak cuma satu. Dia bertemu kembali dengan Willdan, saat dia menyempatkan diri pulang ke Indonesia karena merindukan Willdan dan Elsa.
"Ka, aku masih ingat betul. Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Indonesia. Aku begitu syok, saat aku ke rumah kaka. Ternyata sudah bukan lagi milik kaka."
"Aku susah payah mencari kalian, sampai satu bulan lamanya namun tak kunjung bertemu."
"Lebih miris lagi, saat tak sengaja aku bertemu dengan Ka Willdan. Waktu itu Ka Willdan sedang mengorek sampah. Dan memunguti barang bekas. Aku hampir nggak percaya, kakakku sampai menjadi pemulung karena ulah Kristin."
Demikian tutur Sendy mengingat saat pertama kalinya menapakkan kaki di Indonesia kembali.
__ADS_1
*******
Mohon dukungan like, vote, favoritnya