Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Rencana Baru


__ADS_3

Alberto merasa sangat malu dan sangat bersalah pada Kristina. Namun dia merasa lega, karena semua bukanlah fakta melainkan rekayasa dari Yesi dan Mr X.


"Sayang, Rony mengatakan jika mempunyai sebuah ide. Ingin mempermalukan Yesi dan orang asing itu di depan umum." Alberto masih saja memeluk Kristina.


Sementara Kristina juga terus membenankan wajahnya ke dalam dada Alberto.


"Iya, ka. Aku juga sempat mendengarnya dari Rere. Katanya akan di bahas malam ini juga," Kristina melingkarkan tangannya di pinggang Alberto.


"Ya sudah, kita panggil saja mereka bagaimana? supaya cepat selesai dan kita bisa melepas rindu kembali," Alberto merenggangkan pelukannya seraya mengecup kening Kristina.


"Baiklah, ka. Biar aku panggil Rere dan Rony." Kristina melangkah mencari keberadaan Rony dan Rere tapi tak kunjung bertemu.


"Kemana mereka berdua, kok nggak kelihatan?" Kristina terus mengitari halaman apartement.


"Hem, mobilnya nggak ada. Berarti mereka sedang pergi. Sebaiknya aku telpon saja." Kristina meraih ponselnya di kantung bajunya dan langsung menelpon Rere.


"Kemana nech anak, di telpon koh malah nggak aktif?" Kristina berulang kali memencet nomor ponsel Rere.


"Aku nggak tahu nomor ponsel Rony, aku akan meminta Ka Albe untuk menelpon Rony." Kristina melangkah kembali ke arah dimana saat ini ada Alberto.


"Ka, nomor ponsel Rere malah nggak aktif. Coba Ka Albe telpon Rony, karena mobil kaka nggak ada." Kata Kristina.


"Hem, biar saja. Ntar juga balik sendiri, lagi pula aku masih kangen kamu." Tiba-tiba Alberto menarik tubuh Kristina dalam pelukannya.


Alberto melancarkan ciumannya di bibir Kristina. Ciuman yang secara tiba-tiba membuat Kristina gelapan.


Sementara saat ini Rony sedang mengajak Rere makan malam di sebuah cafe yang tak jauh dari apartement Kristina.


"Apakah sebaiknya aku ungkapkan sekarang saja rasa cintaku padanya." Batin Rony seraya sesekali menatap Rere.


"Kenapa Rony menatapku seperti itu, apakah dia punya perasaan yang sama terhadapku. Seperti yang aku rasakan padanya?" batin Rere sesekali menatap Rony.


Saat kedua tak sengaja saling bertatapan, keduanya sama-sama tak berkedip untuk beberapa saat. Namun Rere buru-buru menundukkan kepala, kadang berpaling ke arah lain.


"Aduh, kenapa aku jadi salah tingkah, saat tak sengaja mata kami beradu?" batin Rere.

__ADS_1


"Sebaiknya aku ungkapkan sekarang saja, semoga Rere membalas rasa cinta ini," batin Rony.


Sejenak Rony menghela napas panjang, untuk mempersiapkan mentalnya berkata tentang perasaannya pada Rere.


"Re, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Selama ini aku memendam rasaku, aku ingin mengungkapkannya sekarang. Re, aku cinta dan sayang kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku?" Rony mencoba menutupi rasa gugupnya seraya menggenggam jemari Rere.


Sejenak Rere terdiam dan tertunduk malu.


"Maaf, aku lancang." Rony lekas melepas genggamannya pada tangan Rere.


"Maafkan aku ya, Re. Tapi aku sudah nggak bisa menutupi perasaanku ini," Rony tertunduk lesu.


"Sebaiknya kita kembali ke rumah, karena sudah terlalu lama di sini." Rony mengalihkan pembicaraan dan akan bangkit, namun Rere mencegahnya.


"Tunggu, duduklah dulu sebentar. Apa kamu sama sekali nggak ingin mengetahui isi hatiku?" Rere mencekal lengan Rony.


Hingga akhirnya Rony duduk kembali. Rony merasa gelisah menunggu Rere berkata.


"Ron, aku juga cinta dan sayang kamu. Aku terima kamu jadi kekasihku, tapi..


Belum juga Rere melanjutkan perkataannya, Rony sudah menyela terlebih dulu.


"Nah loh, aku kan belum selesai berkata. Tapi kamu yang tiba-tiba memotong perkataanku." Rere menghela napas panjang.


"Hhee..maaf." Rony tersipu malu.


"Aku minder sama kamu, Ron. Aku nggak secantik wanita lain, pekerjaanku juga super sibuk. Misalkan kita pacaran , nggak bisa sering berduaan, paling ya malam minggu dan minggunya." Rere menatap sendu Rony.


"Itu menurut pemikiranmu sendiri, bagiku kamu seperti permaisuri. Dan aku nggak masalah tentang kesibukan kerjamu, sabtu dan minggu waktu kita bersama cukup bagiku kok." Kembali Rony menggenggam jemari Rere.


Degup jantung keduanya begitu cepat, serasa jantung akan meloncat keluar. Saling pandang, saling tersenyum tersipu malu. Kini keduanya sah menjalin kasih.


"Kita balik yuk, pasti majikan kita sedang menunggu kepulangan kita." Rere mengajak Rony untuk pulang.


Mereka berjalan berdampingan, kini Rony tak segan lagi merangkul Rere.

__ADS_1


Tak berapa lama, mereka telah sampai di apartement. Tapi suatu tontonan membuat mereka berdua masing-masing menelan salivanya. Yakni Kristina dan Alberto sedang asik berciuman bibir.


"Hadeh, bikin aku pengen saja." Batin Rony seraya menoleh menatap Rere.


"Bagaimana nech, apa kita pergi lagi. Atau kita hampiri mereka?" Rere bertanya pada Rony.


"Kita buat mereka kaget saja, kita dekati mereka secara diam-diam." Rony menuntun Rere untuk pelan-pelan menghampiri Kristina dan Alberto yang sedang asik berciuman.


Setelah keduanya berada tepat di hadapan Kristina dan Alberto, Rere mencolek Kristina dan Rony mencolek Alberto.


Serentak Alberto dan Kristina terhenyak kaget dan menghentikan aktifitas ciuman mereka. Baik Alberto maupun Kristina, sama-sama merasa malu.


"Hem, saking asiknya jadi kalian sama sekali nggak sadar ada kami disini." Canda Rere terkekeh.


"Berarti kalian berdua sudah lama ada di depan kami?" Kristina penasaran.


"Iya, kami telah lama melihat aktifitas kalian yang sempat membuatku baper juga " Goda Rony terkekeh pula.


Baik Kristina maupun Alberto hanya tersipu malu tak berani berkata apapun.


"Katanya kita akan membahas rencana untuk membuat malu Yesi dan Mr X?" tanya Kristina menatap pada Rere dan Rony.


"Sayang, tapi serius kan? kamu sama sekali nggak di jamah orang asing itu?" tiba-tiba Alberto berbisik pada Kristina.


"Jadi kaka sampai sekarang nggak percaya sama aku, kita bisa paksa MR X untuk membuka mulutnya. Aku yakin, dia tidak melakukan apapun padaku," Kristina menghela napas panjang.


"Ide Non Kristin sangat bagus, kita buka aib Yesi di depan umum supaya dia malu. Tapi kita juga harus memaksa Mr X membuka mulutnya apakah memang dia telah itu pada Non Kristin, hhhmm maaf." Rony merasa tidak enak mengatakan hal itu di depan Kristina.


"Kalau feelingku, Mr X tidak melakukan apapun. Aku bisa menebaknya dari percakapan dia dengan Yesi di rekaman vidio," Rere ikut berkomentar.


"Baiklah, biar untuk urusan Mr X. Aku sendiri yang akan membuatnya membuka mulutnya dan jujur padaku." Kristina merasa antusias untuk menyelidiki sendiri semuanya dari Mr X.


"Aku nggak ijinkan, ntar yang ada dia malah mengambil kesempatan dalam kesempitan," Alberto mendengus kesal.


"Ka Albe, nggak perlu khawatir. Dia nggak akan melakukan hal aneh padaku, ini juga menyangkut nama baikku. Aku ingin dia sendiri yang membersihkan nama baikku, karena dia juga yang telah mencorengnya. Aku minta bantuanmu, Re." Kristina merasa yakin.

__ADS_1


******


Mohon dukungan like,vote, favorit..


__ADS_2