
"Aku nggak memperkeruh suasana, aku cerita apa adanya, pah." Yesi mengelak.
"Apa adanya bagaimana, Om Mickel berkata buruk tentang Kristin." Irwan melotot pada Yesi.
"Om Mickel berkata buruk tentang Kristin ya itu urusan dia, aku cuma menunjukkan dimana kantor Kristin padanya, sesuai permintaannya," Yesi tetap mengelak.
"Kenapa omonganmu berubah-rubah? tadi bilang cerita apa adanya, sekarang bilang hanya menunjukkan kantor Kristin. Papah jadi bingung dengan sifatmu, kalau kamu masih saja seperti ini. Papah akan kirim kamu ke LA dan tak boleh kembali ke Indo!" Irwan mengancam Yesi.
"Papah itu aneh, yang anaknya aku tapi malah papah berpihak pada janda itu!" Yesi mendengus kesal.
"Bukan masalah bela membela, kalau anak salah ya di luruskan di tegur supaya tidak semakin berbuat kesalahan. Kalau kamu memang tetap keras kepala, apa boleh buat. Papah akan langsung mengirimmu ke LA ke rumah Uncle Brian, biar kamu di sana di didik lebih tegas dan keras!" ancam Irwan.
"Kok papah jadi seperti ini sama aku, main ancam segala!" Yesi berlalu pergi begitu saja.
"Sabar, pah. Bukannya memang watak Yesi keras kepala." Mamah Leni mencoba menghibur suaminya.
"Aku malu, mah. Punya anak gadis tapi berperangai buruk, gara-gara Yesi kerja samaku dengan Albert berakhir." Irwan mendengus kesal.
"Perusahaan besar kan nggak cuma satu dan nggak cuma milik Albert, papah bisa mencoba menjalin kerja sama dengan perusahaan lain, kan?" Mamah Leni memberi saran.
"Perusahaan terbaik, terbesar, dan paling bonavit cuma ada dua. Yakni milik Albert dan Kristin. Saat ini aku masih menjalin kerja sama dengan Kristin, walaupun dia tahu ulah jahat Yesi. Sampai papah menurunkan harga diri, demi meminta maaf padanya mewakili Yesi. Tapi entah, kalau Yesi berulah kembali, sepertinya Kristin bisa memutuskan kerjasamanya dengan papah," Irwan menghela napas panjang.
"Jadi Albert menjalin kasih dengan Kristin yang pemilik perusahaan terbesar juga?" Mamah Leni mengernyitkan kening.
"Iya,mah. Tapi Yesi telah berulah dengan berkata pada Mickel kalau Kristin cuma pegawai biasa dan menjalin hubungan dengan Albert hanya untuk mengincar hartanya, papah malu sekali " Irwan memijit pelipisnya.
"Jangan terlalu di pikirkan, pah. Ingat penyakit darah tinggi papah, nanti mamah akan coba bantu menasehati Yesi." Mamah Leni memijit bahu Irwan.
"Terima kasih, mah. Semoga dengan nasehat mamah, Yesi sadar akan kesalahannya dan mau berubah jadi lebih baik," Irwan mengusap jemari Leni yang sedang memijit bahunya.
Sementara di mension Alberto, dia sedang bersitegang dengan Mickel tentang Kristin.
__ADS_1
"Albert, duduklah. Daddy ingin bicara padamu sebentar saja," Mickel menatap tajam Alberto.
"Bicaralah, dad. Nggak perlu basa basi." Alberto menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Daddy minta dengan sangat, kamu tinggalkan janda beranak satu itu." perintah Mickel.
"Sampai kapanpun Albert nggak akan meninggalkan Kristin, semakin daddy melarang dan berusaha memisahkan kami. Aku malah akan lebih dekat lagi dengan Kristin, dan jika perlu aku nikahi dia sekalian." Alberto mendengus kesal.
"Nak, dia hanya ingin memanfaatkan hartamu saja. Dia benar-benar wanita tak punya etika dan sopan santun. Sampai dia saja berani duduk di ruang kerja presiden direktur tempatnya bekerja. Yang daddy nggak habis pikir, kenapa pula presiden direktur tak jua kembali ke ruangannya." Mickel geleng-geleng kepala.
"Hhaaa," Alberto tertawa ngakak.
"Dad, di kantor Kristin memang nggak ada yang namanya presiden direktur. Karena itu perusahaan milik dia. Jadi presiden direkturnya adalah dia sendiri," Alberto mencoba supaya tidak tertawa lagi.
"Kenapa semua orang begitu bodohnya di kelabui oleh Kristin, begitu juga anakku." cibir Mickel.
"Bukan orang yang di kelabui oleh Kristin, tapi daddy yang telah di bodohi oleh Yesi," Alberto tertawa ngakak.
"Kurang ajar kamu menertawakan daddy, bahkan mengatakan daddy bodoh." Mickel mendengus kesal.
"Daddy keras kepala, di beri tahu kebenarannya tapi masih saja percaya hal yang salah. Berprinsip pada suatu keputusan yang salah," kembali lagi Alberto menjelaskan.
Hingga Alberto jengah harus bagaimana lagi cara menjelaskan pada daddy yang keras kepala.
"Nak, kamu yang sabar. Kelak pasti mata hati daddy di bukakan sehingga tahu mana yang benar dan mana yang salah. Percayalah dengan ucapan mommya." Mommy Rachel mengusap-usap bahu Alberto.
"Iya sih, mom. Tapi kapan waktu itu datang, hasutan Yesi begitu mengena. Daddy begitu saja percaya padanya. Jadi Albert semakin ill fill pada Yesi!" Alberto mendengus kesal.
"Entahlah, mommy juga nggak tahu kapan waktu itu akan datang. Dimana daddy tahu kebenarannya, entah cepat atau lambat." Mommy Rachel menghela napas panjang.
"Albert kesel, mom. Karena kelakuan daddy semakin menyebalkan! sudah di tolong oleh Kristin bukannya terima kasih, malah mencelanya dengan perkataan yang menyakitkan!" Alberto mengacak-acak rambutnya sendiri seraya wajahnya di tekuk murung.
__ADS_1
"Begini saja, kamu minta tolong pada Om Irwan untuk mencoba memberi pengertian pada daddy. Mungkin daddy bisa mengerti dan percaya kalau Om Irwan yang menjelaskan," Mommy Rachel memberi saran.
"Sudah, mom. Om Irwan malah di telpon terlebih dulu oleh daddy, dan daddy cerita semua tentang Kristin padanya. Om Irwan juga sudah menjelaskan lewat telpon tapi daddy tetap nggak percaya," Alberto menghela napas panjang.
"Jangan lewat telpon, kamu minta saja Om Irwan datang kemari. Kalau perlu Yesi juga ikut, dan nanti di sini kita bahas tentang hal ini," Saran Mommy Rachel kembali.
"Baiklah, mom." Alberto segera menelpon Irwan untuk diminta datang ke mension secepatnya.
📱" Hallo, Om Irwan. Lagi sibuk nggak? "
📱" Hallo juga, Albert. Kebetulan sedang santai bersama Tante Leni, memangnya ada apa?"
📱" Tolong datang kemari bisa, om? sekarang juga, kalau perlu ajak tante dan Yesi. Karena Albert ingin bicara penting."
📱" Baiklah, nak. Om akan bersiap-siap sekarang juga untuk ke rumahmu."
📱" Terima kasih, om. Mohon maaf jika merepotkan, tapi ini sangat penting."
📱" Jangan sungkan, om malah senang bisa main ke rumahmu. Ya sudah, om matikan telponnya karena akan langsung ke rumahmu."
Irwan dan Albert sama-sama mematikan telponnya. Irwan mengajak serta istri dan anaknya sesuai kemauan Alberto.
"Memang ada apa, pah. Kok kita semua di minta datang ke sana?" Mamah Leni penasaran.
"Yesi tahu, pah. Paling Albert ingin meminta maaf pada kita dan merubah keputusannya yang telah menolak Yesi." Ysi menyela pertanyaan Leni untuk Irwan.
"Nggak usah kepedean kamu, belum tentu juga seperti apa yang kamu katakan tadi." Irwan melirik sinis pada Yesi.
"Papah bukannya meng aminkan malah ketus sama Yesi." Yesi mendengus kesal.
"Sudah, ayuk kita pergi. Lebih jelasnya nanti kalau sudah sampai di sana." Irwan melangkah ke mobilnya.
__ADS_1
******