
Kebersamaan Kristina dan Alberto sangat di ekspos oleh para awak media apa lagi, mereka sama-sama memimpin perusahaan besar di kota itu. Selalu saja jadi trending dan topik perbincangan para awak media.
Memang yang lebih mengutamakan para wartawan selalu mengepos kehidupan Alberto. Setiap siapapun yang ada di samping Alberto langsung tersorot oleh mata wartawan.
Secara Alberto bukan hanya pengusaha muda yang sukses di kotanya, tapi juga usahanya telah merambah ke luar negeri.
Bahkan banyak wanita karir yang ingin dekat dan memiliknya, namun tidak bisa meluluhkan hatinya.
Alberto terkenal dengan pengusaha muda yang bersikap arogan dan dingin pada wanita. Sehingga awak media heran saat mengetahui kebersamaanya dengan Kristina.
Semua mata hampir tak percaya seorang Alberto luluh oleh janda beranak satu. Hingga kebersamaan mereka selalu di intai para awak media, sudah layaknya artis.
"Albert, daddy ingin bicara padamu. Duduklah, nak." Perintah Daddy Mickel menatap tajam Alberto.
"Memang ada apa, Dad?" Alberto mengernyitkan alisnya.
"Duduklah dulu, nak. Kami ingin bicara padamu." Sela mommy Rachel.
Hingga akhirnya Alberto menjatuhkan pantatnya di sofa, menuruti kemauan orang tuanya.
"Nak, kami telah setuju dengan hubungan percintaanmu. Lalu tunggu apa lagi, kamu akan meresmikannya? Daddy Mickel menatap menyelidik pada Alberto.
"Iya, nak. Mommy juga sudah nggak sabar pengen menimang cucu darimu." Sela Mommy Rachel.
"Hem, ya juga sih. Albert juga sudah ingin menikah, karena umur Albert juga sudah tidak muda. Baiklah dad mom, nanti aku akan bujuk Kristin supaya bersedia menikah denganku secepatnya." Alberto sangat antusias.
"Tapi apa daddy benar-benar merestui hubungan kami, bukan karena keterpaksaan?" Alberto merasa ragu seraya menatap menyelidik pada Daddy Mickel.
"Nak, masa kamu nggak hafal dengan sifat daddy? bukannya kamu tahu, jika daddy nggak suka ya bilang nggak. Kalau suka ya bilang suka?" Daddy Mickel pasang wajah masam.
"Bukan begitu, daddy. Sebelumnya kan daddy sangat membenci Kristin, dan sangat tidak setuju jika Albert berhubungan dengannya?" Kembali lagi Albert mencari kepastian dari Daddy Mickel.
"Nak, waktu itu kan daddy termakan hasutan Yesi. Kamu tahu sendiri bagaimana usaha Yesi meyakinkan daddy kalau Kristin itu sangat jahat. Tapi setelah daddy tahu kebenerannya, nggak mungkin lagi menghalangi hubungan kalian." Daddy Mickel mencoba meyakinkan Alberto.
"Serius kan, dad? bahagianya Albert, ya sudah Albert langsung cus ke rumah Kristin untuk memberitahu kabar gembira ini." Alberto beranjak bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Niat hati langsung ke kantor, namun karena kabar bahagia ini dia memutuskan untuk ke rumah Kristina terlebih dulu.
Hatinya berbunga-bunga karena sudah tidak ada lagi yang menghalangi hubungannya dengan Kristina.
Seperginya Alberto, orang tuanya sempat tersenyum melihat keceriaan anak semata wayang mereka.
"Dad, kamu lihat kan? baru kali ini mommy melihat Albert sangat ceria." Mommy Rachel tertawa renyah.
"Iya, mom. Dari dulu wajah Albert sama sekali nggak ada senyumnya, selalu saja murung, cemberut. Tapi daddy perhatikan sejak bersama Kristin, dia berubah drastis." Daddy Mickel terkekeh.
"Daddy merasa bersalah, mom. Menjodohkannya dengan Yesi si wanita bermuka dua. Pikir, dia gadis yang sangat baik tapi ternyata sangat menjijikkan." Daddy Mickel berdecak geram kala ingat perbuatan Yesi.
"Makanya, daddy jangan cuma memandang fisik apa lagi status. Daddy pernah menghina status Kristin yang janda beranak satu, tapi ternyata dia jauh lebih baik dari Yesi. Bahkan menurut mommy, seperti pepatah bagai langit dan bumi." Mommy Rachel menepuk bahu Daddy Mickel.
"Ya, mom. Ini buat pelajaran bagi daddu supaya tidak memandang rendah orang baik karena fisik maupun status." Daddy Mickel menghela napas panjang.
Berbeda situasi dengan Albert yang saat ini sedang tersenyum sendiri di dalam mobil. Pikirannya sedang traveling pada hubungannya dengan Kristina.
"Senangnya hatiku, karena daddy sudah merestui hubunganku dengan Titin. Aku akan membujuknya untuk cepat menikah denganku," batinnya seraya senyum-senyum sendiri.
"Hem, sepertinya kok Tuan Albert sedang bahagia? jadi penasaran apa yang membuatnya sampai seriang itu. Tapi aku nggak berani bertanya, ntar yang ada di bentak." Batin Rony seraya sesekali melirik ke arah Alberto.
Alberto yang sedang tersenyum, tak sengaja melihat gelagat Rony saat keduanya bertemu pandang.
"Cinta apa kamu sama aku, hingga dari tadi melirik terus ke arahku?" Canda Alberto terkekeh.
"Nggak lah, Tuan. Masa jeruk makan jeruk, saya masih normal." Jawab Rony seraya melirik kembali pada Alberto.
"Ya sudah, jangan melirik terus. Ganggu kebahagiaanku, tahu!" Alberto melirik sinis pada Rony.
"Noh kan, belum tanya saja responnya begitu buruk." Batin Rony seraya menghela napas panjang.
Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di apartement Kristina.
Alberto tiba-tiba mengangkat tubuh Kristina yang sedang menyiapkan sarapan. Karena dia tahu, sebentar lagi Alberto datang untuk ikut sarapan.
__ADS_1
"Auww ya Tuhan, Ka Albe. Turunkan aku, malu di lihat orang rumah." Kristina memukul-mukul pelan dada Alberto.
"Muaaach." Kecupan mendarat ke bibir Kristina seraya Alberto menurunkannya pelan-pelan.
"Ada apa sih, ka? sepertinya kok sedang bahagia sekali?" Kristina menatap sendu Alberto.
"Bagaimana aku nggak bahagia, sayang. Karena daddy telah merestui hubungan kita, dan berharap supaya kita cepat melangsungkan pernikahan." Jawabnya sumringah.
"Serius, ka?" Kristina masih belum percaya.
"Iya, sayang. Barusan daddy yang bicara sendiri padaku, bahkan memintaku untuk menyampaikannya padamu. Makanya aku buru-buru kemari." Alberto tertawa renyah.
"Sayang, sekarang hubungan kita sudah tidak lagi penghalang. Kita menikah secepatnya, ya?" Alberto menatap mesra Kristina.
Sejenak pandangan mereka beradu, perlahan demi perlahan wajah Alberto menghampiri wajah Kristina.
Hingga tak terasa bibir mereka saling berpagut dan saling bertukar saliva. Pemandangan ini tak luput dari tatapan Rony yang akan menghadap Alberto karena ada telpon dari salah satu rekan bisnia Alberto.
"Sialan, pagi-pagi harus melihat pemandangan seperti ini. Pantas ponsel nggak aktif saat ada rekan bisnisnya menghubunginya." Batin Rony seraya menghentikan langkahnya.
Namun rekan bisnis Alberto terus saja menelpon ke ponsel Rony. Hingga akhirnya Rony melangkah kembali menghampiri Kristina dan Alberto yang sedang asik berciuman.
"Ehem, maaf Tuan." Rony merasa canggung.
Kedatangan Rony yang secara tiba-tiba mengagetkan Alberto dan Kristina. Mereka melepas ciumannya seraya menahan rasa malu.
"Nggak sopan banget, ganggu saja." Alberto mendengus kesal.
"Tapi ini penting, Tuan." Rony memberikan ponselnya.
Dimana ponsel Rony saat ini sedang dalam panggilan telpon dengan salah satu rekan bisnis Alberto.
Sejenak Alberto berkomunikasi dengan rekan bisnisnya di dalam panggilan telpon memakai ponsel milik Rony.
***********
__ADS_1
Mohon Dukungan Like, vote, favorite