Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Sherlyn Di Tangkap Polisi


__ADS_3

"Sekarang, katakan apa yang ingin kamu katakan." Perintah Alberto menatap Sherlyn tajam.


"Memang aku yang telah meracuni Kristin!" Sherlyn berkata dengan lantangnya.


"Atas motif apa kamu meracuninya?" Alberto kembali mengorek keterangan dari Sherlyn.


"Karena aku dendam padanya, dia selalu lebih unggul dariku. Sehingga aku ingin melenyapkan dia," Jawab Sherlyn tanpa ada rasa penyesalan sama sekali.


"Hem, baiklah kalau begitu." Alberto melangkah pergi begitu saja akan meninggalkan Sherlyn.


Namun kembali lagi Sherlyn berteriak.


"Heh, Alberto! tunggu!" teriaknya lantang.


"Ada apa lagi?" Alberto menghentikan langkahnya dan menoleh pada Sherlyn.


"Aku kan telah berkata jujur, tapi kenapa tidak kamu bebaskan?" Sherlyn mengernyitkan alis.


"Aku tidak pernah bilang akan membebaskanmu, aku cuma bilang jika kamu tak berkata jujur lima anak buahku akan mengerjaimu," Alberto tersenyum sinis.


"Lalu untuk apa aku terus di tahan di sini?" Sherlyn kembali bertanya.


"Sebentar lagi polisi datang dan memindahkanmu ke penjara." Alberto tersenyum puas.


"Sialan, aku terjebak olehnya. Bagaimana ini, aku bakalan mendekam di penjara dalam waktu panjang," batin Sherlyn.


Tak berapa lama kemudian, apa yang di ucapkan oleh Alberto menjadi kenyataan. Aparat polisi telah datang menjemput Sherlyn.


Alberto menyeringai puas, karena telah berhasil menangkap orang yang telah meracuni Ktistina.


"Lega rasa hatiku karena telah berhasil mengungkap kejahatan orang yang telah meracuni Titin," batin Alberto.


Alberto menuju ke kantor polisi dengan mengikuti mobil aparat polisi yang membawa Sherlyn.


Saat berada di kantor polisi, Alberto memberikan semua bukti kejahatan Sherlyn pada para aparat polisi yang sedang bertugas.


"Tolong hukum dia seberat-beratnya, tak usah di kasihani penjahat seperti dia!" kata Alberto menatap sinis pada Sherlyn.


Setelah itu Alberto pergi begitu saja dari kantor polisi tersebut.


Pihak kantor polisi menghubungi Melvin selaku ayah kandung Sherlyn, untuk mengabarkan jika saat ini anaknya berada dalam kantor polisi.

__ADS_1


📱" Maaf, apa benar ini dengan Tuan Melvin?"


📱" Ya, benar sekali. Ini dengan siapa dan ada keperluan apa ya?"


📱" Kami petugas dari kepolisian, ingin memberitahu jika saat ini putri anda ada bersama kami. Karena telah melakukan suatu tindak kriminal yakni pencobaan pembunuhan terhadap Nona Kristin."


📱" Silahkan saja di proses sesuai hukum yang berlaku. Saya sudah tidak peduli lagi padanya, karena sudah saya ingatkan berkali-kali supaya tidak melakukan kejahatan, tapi malah nggak menuruti nasehat saya."


📱" Baiklah, Tuan. Akan kami proses anak anda sesusi dengan hukum yang berlaku.


Setelah sejenak bercakap di dalam ponsel, aparat polisi tersebut menutup panggilan telponnya. Begitu pula dengan Melvin.


"Punya satu anak di nasehati susah, malah seperti ini berurusan dengan polisi. Bukannya membuat bangga orang tua, malah membuat malu," batin Melvin.


"Aku akan ke kantor polisi, tapi bukan untuk membebaskan Sherlyn. Hanya untuk memberi peringatan kembali." Melvin melangkah ke mobil dan melajukannya ke kantor polisi.


Hanya beberapa menit saja telah sampai di kantor polisi.


"Pah, papah kemari datang untuk membebaskanku kan?" Sherlyn sumringah mengira Melvin datang untuk membebaskannya.


"Nggak, papah hanya ingin ngomong sama kamu sebentar. Sudah berulang kali papah nasehati dan peringatkan tapi kamu keras kepala. Sekarang kamu tanggung sendiri akibat dari perbuatanmu!" Melvin menatap tajam Sherlyn seraya mendengus kesal.


"Pak polisi, silahkan di hukum sesuai dengan kesalahannya. Tolong jangan libatkan saya dalam permasalahan putri saya. Karena saya sudah berulang kali menasehati bahkan mengancamnya. Jika tetap keras kepala, saya sudah tidak akan mengurus dia lagi. Mohon pamit, pak polisi. Terima kasih." Melvin melangkah pergi begitu saja meninggalkan kantor polisi tersebut.


Namun Melvin tak memperdulikannya, dia tetap saja berjalan pergi meninggalkan kantor polisi tersebut.


"Tega banget, pah. Bagaimana pun aku ini anak satu-satunya papah, tapi kenapa tidak mau menolongku di saat aku butuh pertolonganmu, pah." Sherlyn menangis sejadinya.


Salah satu aparat polisi membawa Sherlyn ke sel sementara, karena hukuman belum di tentukan. Menunggu persidangan perkaranya di gelar besok pagi.


*****


Sore harinya, Alberto menyambangi apartement Kristina untuk memberi tahu jika orang yang telah mencelakainya telah tertangkap.


"Titin, bagaimana kondisimu sekarang?" Alberto menatap sendu Kristina.


"Aku sudah baikan kok, ka. Besok aku akan mulai bekerja, ya? karena di rumah terlalu lama terasa suntuk bosen juga," Kristina menatap Alberto memelas.


"Jangan kerja dulu, besok pagi kamu ikut aku ke persidangan seseorang," Alberto melarang Kristina kerja.


"Persidangan siapa dan kasus apa, ka?" Kristina mengerutkan kening.

__ADS_1


"Orang yang telah meracunimu telah tertangkap, dan besok pagi akan di adakan sidang untuk memutuskan masa hukuman si pelaku kejahatan tersebut," Alberto menjelaskan.


"Memang siapakah orang yang telah mencelaksiku, ka?" Kristina merasa penasaran.


"Besok pagi kamu akan tahu sendiri, sekarang fokuslah dengan pemulihan kesehatanmu dulu," Alberto menimpali.


"Baiklah, ka." Jawabnya singkat.


Setelah itu Alberto pun kembali ke rumahnya.


Seperginya Alberto, Kristina melamun memikirksn orang yang telah meracuni dirinya.


"Aku kalau belum tahu siapa orang yang telah meracuniku, aku belum tenang. Masih saja penasaram dan ingin lekas tahu pelakunya," batin Kristina.


Kristina sampai tak nyenyak tidur karena memikirkan orang yang telah meracuni dirinya yang hampir saja menghilangkan nyawanya.


****


Pagi menjelang, setelah sarapan bersama Alberto. Kristina segera ke kantor polisi bersama Alberto untuk menghadiri sidang keputusan masa hukuman bagi Sherlyn.


Saat sampai di kantor polisi, Kristina ingin bertemu pelaku yang telah meracuninya.


"Ka, siapa dia? aku bahkan sama sekali tak mengenalnya tapi kenapa dia tega mencelakaiku?" Kristina berbisik pada Alberto seraya melirik sinis pada Sherlyn.


"Apa kamu benar-benar tidak mengenalnya, dia kan saudara sepupu si Sherlyn," jawab Alberto.


"Bukanlah, ka. Saudara sepupuku wajahnya cantik, nggak menyeramkan seperti itu," Kristina masih saja belum percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Alberto.


"Itu dulu sebelum melakukan operasi plastik, dia terinspirasi dirimu. Ingin tampil cantik melebihi dirimu tapi malah operasi gagal hingga berujud menyeramkan," Alberto menjelaskan hasil penyelidikannya.


Kristin menghampiri Sherlyn yang sedang menunggu di sidang.


"Sherlyn, kenapa kamu melakukan ini semua padaku?" Kristina menatap tajam Sherlyn.


"Karena aku benci padamu, kamu selalu mendapatkan apa yang kamu mau. Sementara aku selalu saja kalah darimu." Jawabnya lantang.


"Apa hasil dari iri dengkimu, nggak ada kan? malah kamu berujung di dalam jeruji besi. Coba kalau kita akur, dan kamu tidak selalu membenciku, membuat ulah. Pasti saat ini hidupmu telah bahagia tidak terpuruk seperti ini." Kristina merasa miris melihat nasib saudara sepupunya.


"Halah, nggak usah sok perhatian. Aku tahu kok, di dalam hatimu senang karena aku bakal di penjara dalam waktu lama," Sherlyn menatap sinis pada Kristina.


*******

__ADS_1


Mohon dukungan like,vote, favorit..


__ADS_2