
Irwan langsung menegur Yesi.
"Kamu itu nggak tahu diri, di tolong sama sekali nggak mengucapkan terima kasih!" Irwan melotot pada Yesi.
"Ada apa sih, pah? kok marah-marah?" Leni heran karena Irwan datang langsung marah-marah pada Yesi.
"Anak nggak tahu diri ini, telah membohongi kita lagi! sebenarnya yang menolongnya adalah Kristin, tapi dia nggak mau berterima kasih!" Irwan mendengus kesal.
"Apa benar begitu, Yesi?" Leni menatap tajam pada Yesi.
Yesi gelisah, bingung harus menjawab bagaimana. Karena kebohongannya telah di ketahui.
"Kenapa diam, sedang mencari alasan baru kembali!" bentak Irwan kesal.
"Iya, memang Kristin yang telah menyelamatkanku. Tapi aku kan sama sekali tidak memintanya untuk menolongku, dia tiba-tiba datang dan menolongku begitu saja," Yesi berkata dengan lantangnya.
"Mah, anakmu ini benar-benar tak tahu diri dan sangat memalukan. Kesalahan yang telah dia buat juga belum meminta maaf pada Kristin, tapi saat di tolong tidak mengucapkan terima kasih!" Irwan semakin geram.
"Baiklah, besok pagi kamu akan papah kirim ke LA untuk tinggal bersama tantemu di sana!" Irwan berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Awalnya Irwan hanya menggertak Yesi, akan mencabut semua fasilitas yang di berikannya pada Yesi, serta mengirim Yesi ke LA.
"Aku pikir, di gertak bakalan berubah. Tapi malah tambah parah. Biar sekalian aku kirim ke La dan aku cabut semua fasilitasnya, supaya koreksi diri. Semoga dengan begitu, dia bisa memperbaiki diri." Irwan segera memblokir semua kartu penting Yesi dari kartu kredit hingga AtM, serta telah memesan tiket pesawat untuk Yesi.
Sementara Yesi berpikir bahwa Irwan tidak akan berani melakukan semua itu padanya.
"Aku yakin, papah nggak akan berani melakukan semua yang di katakannya. Aku kan anak semata wayang dan anak kesayangan," batin Yesi seraya tersenyum.
Tak terasa pagi menjelang, tiba-tiba Yesi yang masih nyenyak tertidur di bangunkan oleh Mamah Leni.
"Nak, bangun. Sudah siang buruan." Leni mengguncang tubuh Yesi.
"Mah, ini masih terlalu pagi. Aku masih sangat ngantuk, sebentar lagi." Yesi menguap lalu memejamkan mata kembali.
Barulah Yesi terbangun dan membola matanya.
"Memang siapa tamu yang sepagi ini datang kemari?" Yesi lekas bangkit dari pembaringan.
"Mah, tamunya suruh nunggu dulu. Aku akan mandi sebentar saja." Yesi melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Selagi Yesi mandi, Leni mengemasi beberapa pakaian Yesi ke dalam koper.
"Untuk sementara pakaian yang di bawa ke LA sebaiknya jangan terlalu banyak dulu." Gerutunya.
Begitu selesai mengemasi pakaian Yesi, Mamah Leni membawa koper tersebut keluar dari kamar Yesi dan memberikannya pada sopir pribadinya yang akan mengantar Yesi ke bandara.
Setelah Yesi selesai mandi, dia lekas keluar dari kamarnya dan melangkah ke ruang tamu karena ingin tahu tamu yang mencari dirinya sepagi ini siapa.
"Mah, mana tamunya?" Yesi mengetnyitkan alis.
"Nggak ada tamu, kamu lekas sarapan. Dan lekas memakai pakaian yang rapi," Irwan menatap tajam pada Yesi.
"Untuk apa aku berdandan?" Yesi penasaran.
"Untuk menemani papah menemui reksn bisnis papah." Jawab Irwan tegas.
Yesi menuruti kemauan Irwan, dia sama sekali tidak merasa curiga dengan ucapan Irwan. Setelah selesai bersiap-siap, Yesi menghampiri Irwan.
"Pah, aku sudah siap." Ucapnya singkat.
__ADS_1
Irwan melangkah menuju mobil di ikuti oleh Yesi. Melajulah mobil tersebut menuju ke bandara. Yesi mulai curiga karena tahu arah jalan yang sedang di tuju oleh mobil yang di tumpanginya.
"Ini sebenarnya mau kemana ya, ini bukannya arah ke bandara?" batin Yesi.