
Setelah Kristina meminum setengah gelas jusnya, tak berapa lama dia tertidur pulas.
Ternyata jus tersebut di taburi dengan obat tidur.
Segera Mr X meminta asisten pribadinya mengangkat ke mobilnya dan Mr X yang mengemudikannya. Sementara mobil Kristin di kemudikan oleh asisten pribadinya.
Mereka menuju ke sebuah hotel yang telah di pesan oleh Mr X. Mr X membaringkan tubuh Kristina di pembaringan.
Di dalam kamar hotel telah ada Yesi, dia lekas melucuti semua pakaian Kristina. Dan setelah itu memerintahkan pada Mr X untuk melakukan hal yang sama.
Mr X menuruti saja semua kemauan Yesi. Setelah keduanya sama-sama polos, Yesi memerintah Mr X berpose seolah sedang mencumbu Kristina dan seolah sedang melakukan hubungan suami istri.
"Hhaa akhirnya kamu terkena jebakanku juga, Kristin. Tamatlah riwayatmu, aku yakin setelah ini Albert akan memutuskanmu bahkan membencimu." Batin Yesi menyeringai puas saat melihat rekaman vidio dan foto- foto kebersamaan Kristina dan Mr X yang dia buat.
Selagi Kristina belum sadar, Yesi menelpon Alberto untuk segera datang ke hotel yang telah di beri tahu alamatnya oleh Yesi.
Posisi Kristina kini berada di dada Mr X. Dan Mr X memeluknya. Yesi menutupi keduanya dengan selimut.
Tak berapa lama kemudian, datanglah Alberto.
"Kamu lihat sendiri, Albert. Apa yang kekasihmu lakukan dengan pria asing itu? aku juga kaget saat ada orang yang memberi tahuku. Dan aku diam-diam mengikuti mobil mereka." Yesi berusaha membuat panas hati Alberto.
"Heh, bangun!" Alberto mengguncang tubuh Kristina.
Sejenak Kristina terbangun dan dirinya kaget mendapati ada di kamar hotel.
"Loh, kok aku ada disini?" Kristina kebingungan, dan terhenyak kaget kembali saat menoleh ada Mr X di sampingnya.
"Kamu nggak usah berpura-pura nggak tahu apa yang telah terjadi, aku bukanlah seorang anak kecil yang mudah kamu bohongi!" Alberto menatap tajam Kristina.
"Ka, aku bersumpah. Aku benar-benar nggak tahu kenapa ada disini, terakhir dia mengajakku bertemu di cafe " Kristina mencoba memberi penjelasan pada Alberto.
Mr X yang pura-pura tertidur, pura-pura terbangun.
"Hem, kenapa kalian berdua ada disini? mengganggu kami saja." Ucapnya sekenanya.
Ucapan Mr X semakin membuat Alberto terpancing emosi.
__ADS_1
"Tega kamu melakukan ini padaku, Tin! sungguh menjijikkan kelakuanmu!" Alberto berlalu pergi di ikuti oleh Yesi.
Sejenak Kristina mengingat dimana terakhir dia berada.
"Aku yakin, ini semua pasti rencana busukmu! bagaimana bisa tiba-tiba aku ada di kamar hotel, sedangkan yang aku ingat sedang berada di sebuah cafe!" Kristina menatap tajam Mr X.
"Untuk apa aku melakukannya, kamu yang tiba-tiba mengajakku kemari. Jujur sejak aku pertama kali bertemu denganmu, aku menyukaimu. Makanya saat kamu mengajakku kemari, aku tak menolak. Apa lagi saat kamu berhasrat, aku tak tega pula." Mr X masih saja berbohong.
"Sudahlah, Kristin. Semua telah terjadi, mau bagaimana lagi. Aku siap kok menikahimu kapanpun kamu mau," Mr X mencoba membujuk Kristina.
"Apa benar aku telah melakukan hal serendah itu," Kristina sejenak terdiam.
"Kenapa aku tidak ingat apapun," batin Kristina kembali.
"Kenapa kamu menodai kepercayaanku, puas kamu telah menghancurkan hubunganku dengan kekasihku!" Kristina perlahan menghampiri Mr X dan menampar pipinya.
"Aku minta maaf, semua aku lakukan karena aku mencintaimu. Aku janji akan membuatmu bahagia, menikahlah denganku." Mr X menghampiri Kristina dan akan meraih tangan Kristina namun dia menepisnya.
"Jangan pernah sentuh aku lagi!" Kristina bangkit dari pembaringan dan lekas pergi dari hotel tersebut.
Pikirannya kalut sama sekali tak bisa berpikir jernih. Kristina memutuskan untuk istirahat di rumah. Dia menyerahkan urusan kantor pada Rere.
"Sepertinya ada yang tak beres yang terjadi pada Kristin, tapi apa ya? nanti sepulang kerja aku akan mampir ke rumahnya." Batin Rere saat mendapat notifikasi pesan dari Kristina.
Berbeda situasi dengan Alberto, saat ini dia sedang mengamuk di kantornya. Semua barang yang ada di ruangannya di lempar ke sembarang tempat.
"Arghh, kenapa Titin menghianatiku! tega sekali dia melakukan hal menjijikkan itu dengan pria lain." Alberto meninju tembok hingga tangannya berdarah.
Selagi emosi, datanglah Yesi masuk ruangan Alberto.
"Albert, aku tahu kamu kecewa dan sangat marah pada Kristin. Tapi kamu jangan seperti ini, harusnya kamu balas kelakuannya padamu. Lakukan apa yang telah Kristin lakukan padamu, supaya dia juga merasakan sakit hati yang kamu rasakan." Yesi mulai memberi saran buruk pada Alberto.
"Jadi maksudmu, aku juga harus berhubungan dengan wanita lain seperti dia berhubungan dengan pria lain?" Alberto merasa ragu.
"Ya benar sekali, kamu seorang pria jangan mau harga dirimu di injak-injak oleh wanita seperti Kristin," kembali lagi Yesi menghasut Alberto.
Sejenak Alberto terdiam mencerna segala ucapan yang di katakan oleh Yesi.
__ADS_1
"Hem, benar juga yang kamu katakan. Aku pria kok di injak-injak harga diriku oleh wanita seperti Kristin!" kata Alberto.
"Nah begitu, aku bersedia kok bantu kamu," Yesi menewarkan diri.
"Maksudmu apa?" Alberto mengernyitkan keningnya.
"Aku mau jadi kekasih bayanganmu, untuk membantumu membalas sakit hatimu pada Kristin, " kata Yesi sangat antusias.
"Hem, baiklah aku terima tawaranmu. Mulai sekarang kamu jadi kekasih bayanganku," Alberto menyunggingkan senyum.
"Hem, aku ingin tahu bagaimana reaksi Titin saat melihatku bersama dengan Yesi," batin Alberto.
Sementara Yesi sangat puas karena usahanya telah berhasil dalam menghancurkan hubungan Alberto dan Kristina.
******
Menjelang sore hari, Rere menyambangi apartement Kristina.
"Kristin, sebenarnya apa yang telah terjadi? sepertinya kamu sedang ada masalah?" Rere menatap sendu Kristina.
"Re, ternyata apa yang kamu ucapkan tentang Mr X benar." Mata Kristina berkaca-kaca.
"Maksudmu, dia menyatakan cintanya padamu?" Rere semakin penasaran.
"Lebih parah dari itu." Kristina menghela napas panjang.
"Maksudmu bagaimana, aku jadi bingung?" Rere mengernyitkan keningnya.
Kemudian Kristina menceritakan semuanya pada Rere. Dari awal Mr X mengajaknya bertemu di sebuah cafe. Dan tiba-tiba dia ada di kamar hotel bersama Mr X.
"Hem, fix. Kamu itu telah di jebak, kalau nggak oleh Yesi bisa juga oleh Mr X. Bagaimana bisa Yesi tiba-tiba ada di hotel tersebut. Dan tahu ada kamu, tepat di kamar hotel tersebut." Rere mengatakan tentang penafsirannya.
"Entahlah, Re. Aku sedang memikirkan apa mungkin aku telah berbuat dengan Mr X? karena saat aku terbangun, tubuhku polos tanpa sehelai pakaianpun. Tapi kok aku nggak sadar telah melakukannya." Pandangan Kristina menerawang jauh entah kemana.
*********
Mohon dukungan like, vote, favoritnya..
__ADS_1