
📱" Hallo, Tuan Alberto. Di halaman rumah Nona Kristin ada mantan suaminya. Saya sudah melarangnya, tapi dia memaksa masuk ingin bertemu anaknya. Bahkan membawa banyak mainan untuk anaknya. Bagaimana, Tuan? apakah di ijinkan masuk atau tidak?"
📱" Coba kamu vidio call, biar aku bicara langsung dengannya."
Kemudian body guard ini mengalihkan panggilan telponnya menjadi panggilan vidio call.
Setelah itu menyerahkan ponselnya pada Willdan. Supaya Willdan berkomunikasi sendiri dengan Alberto.
📱" Untuk apa kamu datang lagi ke rumah Kristi?"
📱" Aku kemari hanya ingin bertemu dengan anakku, lihatlah semua ini mainan kesukaan Mila. Aku ingin memberikannya."
📱" Kalau begitu titipkan saja pada salah satu anak buahku, biar dia yang memberikannya pada Mila."
📱" Memangnya siapa kamu, melarangku bertemu dengan anak kandungku! lagi pula aku ingin bertemu langsung, karena aku sangat merindukannya!"
📱" Kamu tanya siapa aku, aku adalah calon suami Kristin. Jadi aku berhak mengatur siapa saja yang boleh menemui Kristin dan Mila. Karena aku nggak ingin hal buruk terjadi lagi pada Kristin!"
📱"Statusmu baru calon belum jadi suami. Jika kamu tetap melarangku bertemu dengan anak kandungku, aku pastikan kita bertemu di pengadilan. Bagaimana pun aku ini ayah biologisnya, jika kamu tetap melarangku, aku pastikan kamu yang akan mendapat malu di pengadilan nanti!"
📱" Hem, baiklah. Aku ijinkan kamu menemui Mila, tapi hanya beberapa menit saja dan seminggu 1x saja."
📱" Terserah aku mau bertemu anakku kapanpun aku mau, itu bukan urusanmu dan jangan pernah mengatur jadwal pertemuanku dengan anakku."
Setelah itu tiba-tiba ponsel milik body guard tersebut mati. Karena daya batrenya telah habis.
"Kamu sudah jelas kan, bosmu mengijinkanku bertemu anakku." Willdan memberikan ponselnya pada body guard tersebut.
"Baiklah, Tuan. Mari ikut saya ke halaman belakang, karena saat ini Mila anak anda sedang bermain dengan Nona Kristin di halaman belakang." Body guard melangkah ke halaman belakang di ikuti oleh Willdan.
Kristina merasa kaget saat melihat kedatangan Willdan yang secara tiba-tiba.
"Untuk apa kamu kemari, bukankah sudah pernah aku bilang jangan pernah menampakkan diri di hadapanku!" Kristina bangkit dari duduknya dan langsung menggendong Mila.
"Sampai kapan kamu akan memendam emosi dan benci padaku, aku kemari ingin bertemu Mila. Aku ingin menyerahkan ini untuknya." Willdan menunjukkan bebarapa kantong berisi mainan.
__ADS_1
"Turunkan Mila, biarkan dia bermain denganku sebentar saja." Perintah Willdan menatap sendu Kristina.
Kristina menurunkan Mila, namun Mila tak mau lepas dari gendongan Kristina.
"Nak, kemarilah ikut papah. Papah bawakan banyak mainan untukmu." Willdan menghampiri Mila dan akan menggendongnya.
Namun Mila malah ketakutan dan menangis kencang sekali.
"Kamu lihat, anakmu yang tak mau ikut denganmu. Dan bukan aku yang melarangnya," Kristina mencoba menenangkan tangis Mila dengan mengusap punggungnya.
"Pergilah dari rumahku, dan bawa semua mainan itu. Karena Mila sudah punya banyak mainan, jadi kamu tak usah repot membelikannya." Kristina melangkah pergi membawa Mila masuk dalam rumah.
Sementara Willdan menghela napas panjang dan meletakkan semua mainan dan beberapa baju untuk Kristina di lantai.
"Tolong, berikan itu semua untuk anakku." Kata Willdan menatap pada body guard tersebut.
Setelah itu Willdan berlalu pergi meninggalkan apartement milik Kristina dengan perasaan yang sangat kesal.
"Ini semua salahku, karena saat aku masih menjadi suami Kristin. Aku tak pernah sekalipun bermain dengan Mila, jadi Mila tak bisa dekat denganku." Gerutunya seraya melangkah ke arah mobilnya.
Berbeda dengan Alberto yang saat ini sedang resah gelisah karena memikirkan Kristina.
"Sialan mantan suami, Titin! aku kok jadi khawatir suatu saat Titin kembali lagi pada Willdan. Apa lagi ada ikatan kuat yakni anak mereka, aku harus secepatnya menikahi Titin supaya statusku lebih kuat dari Willdan. Tidak seperti tadi, aku di sepelekan olehnya!" gerutu Alberto mengepalkan tinjunya geram.
Alberto menelpon body guardnya yang tadi, namun tak tersambung karena memang batre ponselnya sudah habis.
Hingga akhirnya Alberto menelpon Kristina.
📱" Sayang, kamu sedang apa?"
📱" Habis ngelonin Mila, ka. Bagaimana kabar kakak, baik bukan?"
📱" Ngelonin Mila apa Mila?"
📱" Kok kakak ngomongnya seperti itu? ya sudah aku alihkan panggilan vidio biar kakak percaya."
__ADS_1
Kristina mengalihkan panggilan telponnya menjadi panggilan vidio. Hingga Alberto bisa melihat Kristina.
"Lihatlah kak, di sekelilingku tidak ada siapa-siapa." Kristina mengedarkan vidio call keseluruh penjuru ruangan.
"Bukankah tadi Willdan ke situ?" tanya Alberto."
"Ya, tapi hanya sebentar. Bahkan nggak ada lima menit, aku tinggal masuk rumah. Karena Mila malah takut melihat dia, jadi aku nggak tega," jawab Kristina.
"Syukurlah kalau dia nggak lama di situ. Sayang, aku ingin segera menikahimu supaya aku bisa memilikimu seutuhnya," Alberto berucap di panggilan vidionya.
"Hhhee pasti cemburu ya, ka. Aku sama sekali sudah nggak punya perasaan apa pun padanya, kenapa kakak masih saja nggak percaya?" Kristina meyakinkan Alberto.
"Aku baru percaya padamu jika kamu bersedia menikah denganku," kata Alberto.
"Tapi aku masih trauma dengan pernikahanku yang dulu, ka. Tidakkah kakak bisa sedikit bersabar lagi?" Kristina manyun di vidio call.
"Sampai kapan lagi, aku harus bersabar menunggumu? Padahal aku sudah bersabar begitu lamanya, sampai puluhan tahun hanya ingin memilikimu seutuhnya. Apa kamu masih saja meragukan cintaku ini? kamu masih belum percaya padaku juga?" Alberto menaik turunkan alisnya di balik panggilan vidionya.
"Hem, iya iya." jawab Kristina singkat.
"Berarti kamu setuju kan, jika aku pulang dari sini kita segera meresmikan hubungan kita dengan ikatan suci pernikahan?" Kembali lagi Alberto membujuk Kristina untuk menikah dengannya.
"Jika Tuhan berkehendak kita pasti akan segera bersama, kak. Kakak nggak usah khawatir lagi dong." Kristina menyunggingkan senyum.
"Hem, ya sudahlah. Terserah kamu saja baiknya bagaimana. Tapi aku akan selalu menunggumu sampai mengucap kata iya tanpa ada unsur paksaan." Alberto menghela napas panjang.
"Ya sudah, aku matikan telponnya. Ntar kalau aku sedang santai pasti akan menelponmu lagi. Peluk cium dariku untukmu dan Mila, jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku. I love you Titin, mmuuacchh." Alberto kiss by di balik vidio callnya.
Setelah itu panggilan vidio nya mati. Kristina lekas membaringkan tubuhnya di samping Mila dan tertidur pulas.
Sementara Alberto masih saja resah gelisah, karena susah sekali mengajak Kristina untuk menikah secepatnya.
"Apa aku harus melakukan dengan cara curang, seperti memperdayainya dengan minuman dan aku...ah itu bukan sifatku. Tpi selama Kristina masih berstatus janda, pasti Willdan akan selalu mendekatinya," Alberto semakin tak tenang hatinya.
*****
__ADS_1
Mohon dukungan like, vote, favorit..