
Mickel dan Leni segera melangkah ke kamar Yesi. Alangkah terkejutnya mereka saat membuka kamar Yesi, barang pecah berserakan di lantai.
"Yesi, apa yang kamu lakukan? menghancurkan seisi kamarmu, besok apa lagi yang akan kamu hancurkan! ruang makan, ruang tengah, ruang tamu!" Irwan menggelengkan kepala seraya memijit pelipisnya.
"Yesi, kamu kenapa seperti ini? jika ada masalah di bicarakan sama kita, jangan sukanya sebentar-sebentar menghancurkan barang yang ada di kamar," Leni menegur Yesi seraya menghampirinya menatapnya lekat.
"Mamah sama papah itu nggak pernah peduli sama aku! apa lagi papah, dia malah peduli dengan Albert yang bukan anaknya!" Yesi berkata lantang.
"Nak, justru kami peduli padamu. Makanya saat kamu melakukan kesalahan, kami selalu menegurmu supaya kamu sadar dan tak mengulanginya lagi," Leni mencoba memberi pengarahan.
"Tapi kamu bukannya sadar, malah tambah parah!" Irwan berkata lantang seraya pergi berlalu begitu saja.
"Mamah lihat kan, papah seperti itu sama aku," Yesi mengerucutkan bibirnya.
"Nak, papahmu sangat sayang padamu. Walaupun kamu kerap kali membuatnya kecewa, tapi papah selalu saja membantumu menyelesaikan setiap permasalahan yang kamu buat," Leni terus saja berusaha menasehati Yesi.
"Sayang apa? papah tidak membantuku untuk mendapatkan Albert, dia malah membuat Albert semakin benci padaku," terus saja Yesi menyalahkan Irwan.
__ADS_1
"Nak, harus bagaimana caranya supaya mamah bisa menyadarkanmu akan semua kesalahanmu?"
"Jika papah tak membantumu, mungkin saat ini kamu telah berada di dalam penjara seperti si Sendy."
"Harusnya kamu berbuat yang positif supaya Albert terpesona dan kagum padamu, serta bisa luluh. Bukan cara menjebaknya seperti yang kamu lakukan."
"Mulai sekarang, belajarlah untuk bisa berbuat baik. Jika ingin berbuat sesuatu, kamu pikirkan dengan matang.Untung dan ruginya, sebab dan akibatnya jika hal itu tetap kamu lakukan."
Panjang sekali, Leni menasehati anaknya. Walaupin entah di dengar atau tidaknya, dia tetap berusaha untuk menyadarkan Yesi.
"Mah, sudah belum ceramahnya? kalau sudah, mamah pergi. Aku ngantuk mau tidur, mah." Yesi berbaring dan membelakangi Leni.
Leni hanya bisa menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang, dia segera keluar dari kamar Yesi. Batinnya bingung, harus seperti apa dan bagaimana untuk merubah tabiat buruk Yesi.
"Ya Tuhan, bagaimana nasib Yesi? jika kami telah tiada, tapi tabiatnya tidak berubah juga? akan jadi apa dia kelak?" gerutu Leni seraya melangkah ke kamar.
***************
__ADS_1
Pagi menjelang, matahari pagi begitu menyilaukan. Menerobos masuk lewat celah jendela membuat Alberto mengerjapkan matanya karena silau.
Dia lekas bangkit dari peraduannya, melakukan ritual mandi paginya. Dia akan mengajak Kristina untuk fitting baju pengantin.
Alberto sudah tidak ingin berlama-lama melajang, dan ingin segera bisa menjaga Kristina dan Mila lebih leluasa lagi.
Permasalahan demi permasalahan begitu menyita waktu, begitu pula pekerjaan yang terlalu padat,hingga selalu mengesampingkan urusan pribadi.
Kini Alberto akan mengutamakan urusan pribadinya terlebih dulu, dan untuk sementara mengesampingkan urusan perusahaanya. Begitu pula Kristina, dia juga akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Alberto.
Kali ini mereka benar-benar ingin menuntaskan hubungan percintaan mereka ke jenjang pernikahan. Mereka tidak ingin menundanya lagi.
**************
Hay ka, mampir karya remahan author yang satunya yuk...
__ADS_1