Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Yesi Kecelakaan


__ADS_3

Yesi menghampiri Alberto seraya tersenyum manis.


"Albert, janganlsh ketus. Bagaimanapun aku ibu dari calon anakmu ini." Yesi mengusap perutnya yang masih rata.


"Apa maksud dari ucapanmu?" Alberto masih belum paham.


"Nggak usah pura-pura nggak tahu, percintaan kita waktu itu membuat tumbuh janin di rahimku. Dan aku minta kamu harus mempertanggung jawabkannya, mau tidak mau kamu harus mau menikah denganku," Yesi tersenyum sinis.


"Enak saja, belum tentu pula itu anakku! lagi pula waktu itu bukanlah kemauanku, tapi kelicikanmu yang menjebakku!" Alberto menyeringai sinis.


"Jaga ucapanmu ya, Albert! aku melakukannya hanya denganmu saja, jangan sembarangan kalau berkata! apa aku mau semua orang tahu kelakuanmu ini!" Yesi mengancam Alberto.


"Silahkan kamu berulah, semua orang sudah tahu siapa kamu. Paling kamu akan mendapat cibiran dan malu!" Alberto tersenyum sinis.


Yesi tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya diam saja mendengar celotehan Alberto.


"Aduh, benar juga dengan apa yang di katakan oleh Albert. Tapi bagaimana dengan nasib anakku ini?" Yesi menggerutu di dalam hati.


"Kenapa diam, sedang memikirkan akal licik apa lagi?" tegur Alberto ketus.


"Itu salahmu sendiri, jadi kamu harus tanggung sendiri dari apa yang kamu lakukan," sindir Alberto.


"Apa yang di katakan Albe, benar adanya. Itu buah dari perbuatanmu sendiri, makanya kalau kamu ingin berbuat apapun harus di pikirkan dulu. Jangan langsung saja berbuat sesuka hatimu," Mickel ikut berkata.


"Om, kenapa membenarkan perbuatan anak yang salah? bukannya menasehatinya supaya bertanggung jawab atas benih yang ada di rahimku ini?" Yesi mendengus kesal.


"Albe tidak salah, karena dia telah di jebak olehmu. Jika dalam keadaan sadar, dia tidak akan melakukan hal nista. Sudah lama Albert menjalin hubungan dengan Kristin, dia juga bisa menjaga yang satu itu," Mickel terus saja membela Alberto.

__ADS_1


"Pulanglah, dan urus saja janinmu sendiri. Jangan pernah datang lagi kemari untuk berbuat onar, kalau tahu seperti ini waktu itu aku kasuskan kamu juga. Supaya kamu bisa sadar dan tidak melakukan hal melakukan lagi!" Alberto mengusir Yesi.


"Baiklah, jika kamu tidak mau bertanggung jawab. Biar aku datang ke rumah Kristin dan mengatakan hal ini padanya. Aku tidak akan tinggal diam, aku ingin anakku punya ayah!" Yesi melangkah pergi berlalu begitu saja.


"Dad, bagaimana kalau memang Yesi benar-benar menemui Kristin dan mengacaukan semuanya? karena hari pernikahan telah di tentukan, semua telah di persiapkan. Kita tinggal menunggu hari H nya saja," Alberto gelisah seraya menghela napas panjang.


"Kamu nggak perlu khawatir, pernikahanmu akan berjalan lancar. Daddy yakin Kristin bisa berpikiran positif dan memutuskan dengan bijak. Lagi pula daddy juga punya bukti jika saat Yesi di LA kerja menjadi.. karena ada beberapa teman daddy yang di LA pernah juga jalan dengan Yesi," Mickel menghibur hati dan mencoba menenangkannya dari rasa gelisahnya.


"Masa sih, dad? kok aku sama sekali nggak tahu tentang kabar ini?" Alberto mengerutkan alis.


"Kamu nggak tahu, karena kamu terlalu di sibukkan dengan pekerjaanmu," Mickel terkekeh.


"Sekarang kamu fokus saja dengan pernikahanmu yang kurang beberapa hari lagi. Dan kamu hubungi semua anak buahmu yang berada di rumah Kristin, supaya selalu berjaga. Dan jangan sampai mengijinkan Yesi untuk bisa masuk ke sana," saran Mickel.


"Oh iya, dad. Benar juga apa yang daddy katakan, kenapa aku dari tadi nggak terpikiran jika banyak anak buahku berjaga di rumah Kristin," Alberto menepuk jidatnya sendiri.


Setelah mendapatkan saran dari Mickel, hati Alberto menjadi lega karenanya. Dia sudah tidak mengkhawatirkan Yesi lagi.


Sementara Yesi benar-benar menjalankan aksinya, dia saat ini dalam perjalanan menuju rumah Kristina.


Namun saat ini di samping pintu gerbang sudah ada posko jaga, tidak seperti dulu. Penjagaan hanya ada di halaman rumah Kristina. Sekarang rumah Kristina benar-benar di jaga ketat layaknya orang pemerintahan saja.


Saat Yesi keluar dari mobilnya dan akan memencet bel, sudah di cekal oleh dua orang pria bertubuh tegap dan kekar. Yesi tidak di ijinkan masuk, bahkan dua orang tersebut mengusir paksa Yesi. Yesi di bawanya ke mobilnya dan di perintahkan untuk pergi.


Yesi sangat emosi karena belum apa-apa usahanya gagal dan dia kesal karena di perlakukan kasar oleh anak buah Alberto.


"Pasti ini ulah Albert, sialan sekali! belum juga aku bertemu Kristin sudah gagal dulu!" gerutunya seraya memukul-mukul kemudi.

__ADS_1


"Oh iya, sebaiknya aku datangi saja Kristin di kantornya nanti pada saat jam kerja." Yesi menyeringai licik seraya melajukan mobilnya.


Sejenak dia pergi ke suatu cafe untuk sarapan, setelah itu dia berangkat menuju ke kantor Kristina.


Hanya beberapa menit saja Yesi telah sampai di depan kantor Kristina. Namun kembali dia harus menelan kekecewaan, karena saat ini Kristina sedang bersama Alberto.


"Sialan, kenapa pula ada Albert! kalau seperti ini aku sama sekali nggak bisa mendekati Kristin!" Yesi memukul kemudi mobilnya.


Dia mengurungkan niatnya, dan akhirnya melajukan mobil arah pulang. Dia sangat geram melajukan mobil dengan terus menggerutu.


Bahkan dia tak sadar jika dia melajukan mobilnya dengan sangat kencang karena rasa emosi yang teramat sangat. Hingga pada akhirnya dia mengalami kecelakaan.


Pada saat di lampu merah, dia nekad menerobos saja menjalankan mobilnya. Padahal ada sebuah truk yang sedang melintas. Hingga mobil dia tertabrak oleh truk tersebut.


Kejadian itu membuat heboh para pejalan raya, bukan hanya pejalan kaki yang sempat melihat hal itu dari emperan toko. Tapi para pengguna kendaraan yang lain sontak berkerumun, bahkan ada yang menguhubungi pihak kepolisian.


Hingga beberapa menit kemudian, datang beberapa ambulance untuk mengurus Yesi dan sopie truk. Serta beberapa polisi lalu lintas turut serta mengurus kegaduhan tersebut.


Kabar kecelakaan tersebut sampai ke telinga orang tua Yesi. Mereka segera datang kerumah sakit dimana saat ini Yesi di rawat. Kondisinya sangat mengenaskan, dan saat ini Yesi tak sadarkan diri.


"Pah, bagaimana ini? mamah khawatir dengan kondisi Yesi," Leni menitikkan air mata.


"Mah, lebih baik kita berdoa saja supaya Yesi lekas sadar dan kondisinya baik-baik saja," Irwan menepuk bahu Leni.


Leni terus saja menitikkan air mata, hatinya di liputi oleh kegelisahan dan kekhawatiran.


Baik Leni maupun Irwan terus saja hilir mudik mondar mandir menunggu kabar dokter yang saat ini sedang memeriksa kondisi Yesi di dalam ruang periksa.

__ADS_1


*******


__ADS_2