Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Panik


__ADS_3

Kristin terus saja bersabar menghadapi suaminya yang terus saja bersedih atas kematian orang tuanya.


"Ka, aku mohon padamu. Bangkitlah dari keterpurukan ini. Jika kakak bersedih terus, daddy dan mommy pasti juga ikut bersedih." Kristina mengusap pipi Alberto seraya menatap sendu.


"Bagaimana aku tidak sedih, hanya mereka yang aku punya. Kini malah mereka tiada, itupun dengan cara yang sangat tragis. Ini sepertinya tidak wajar." Alberto terus saja memeluk foto orang tuanya.


"Jadi kehadiranku nggak berguna buat kaka? kaka bilang hanya orang tua kaka yang kaka punya? jika kaka mengatakan meninggalnya orang tua kaka tidak wajar, kenapa kaka berdiam diri. Meratapi kesedihan seperti ini, harusnya kaka bangkit dan lekas selidiki kejanggalan ini. Selidiki kematian orang tua kaka."


"Jika kondisi kaka seperti ini terus, musuh kakak akan merasa menang dan tertawa di atas derita kaka. Buktikan padanya, kaka itu kuat, tidak lemah. Supaya musuh kaka menjadi gentar."


"Ayohlah, ka. Bangkit dan semangat lagi demi aku, istrimu."


Kristina terus saja memberikan suport dan penghiburan pada Alberto. Dia tidak pernah berhenti setiap hari menasehati Alberto, walaupun selalu saja di respon dengan bentakan atau tangisan Alberto.

__ADS_1


Sejenak Alberto terdiam, memikirkan setiap apa yang di ucapkan oleh Kristina.


"Ya Tuhan, kasihan sekali istriku. Karena aku terus saja bersedih memikirkan orang tuaku, sampai aku melupakannya," batin Alberto.


Dia langsung merengkuh Kristina dalam pelukannya dan menciumi kening Kristina.


"Sayang, aku minta maaf. Karena telah mengabailanmu beberapa hari ini, hanya karena aku terlarut dalam kesedihan atas meninggalnya orang tuaku yang sangat tragis," Alberto mengusap surai hitam Kristina.


"Puji Syukur, kaka sudah membaik. Mulai sekarang, jika ada suatu kesedihan janganlah berlarut-larut. Kesedihan sehari cukup sehari, karena hari esok pasti ada suatu permasalahan kembali yang membuat kita sedih. Selama kita masih hidup, tak akan luput dari yang namanya masalah." Kristina melingkarkan tangannya di pinggang Alberto.


Berkat doa dan ketekunan Kristina dalam mensuport Alberto, kini dia telah membaik.


Alberto sudah mulai aktifitas kembali seperti sediakala.

__ADS_1


Bangkitnya dari keterpurukan membuat Exl kecewa, karena yang dia harapkan pupus sudah. Dia berpikir, Alberto akan menjadi gila karena meninggalnya orang tuanya.


"Sialan, kenapa bukannya dia memburuk malah dia membaik!" Exl kelepasan kontrol dalam berucap, hingga tak sengaja Alberto mendengarnya saat melintas.


"Siapa yang uncle maksud? apa uncle mengharapkan aku terus terpuruk? jangan-jangan uncle ada hubungannya dengan kematian orang tuaku." Alberto menatap menyelidik pada Exl.


Exl yang mendapatkan tatapan sinis, menjadi panik dan sangat gugup. Dia memalingkan pandangan kesegala penjuru ruangan.


"Uncle, kenapa sepertinya uncle sangat panik?" Alberto tersenyum sinis.


"Kamu itu bicara apa sih? masa uncle berbuat tega sama orang tuamu, kita kan masih saudara. Seharusnya yang kamu curigai adalah para kolega bisnismu," Exl terus saja mencoba menutupi rasa gugupnya.


Alberto melangkah pergi begitu saja dari hadapan Exl. Seperginua Alberti, Exl menghela napas panjang seraya mengusap dada.

__ADS_1


Dia begitu lega saat Alberto berlalu pergi. Namun dia saat ini sedang mencari cara kembali supaya lekas bisa menyingkirkan Alberto.


*****


__ADS_2