Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Kristina Keracunan


__ADS_3

"Tidak, itu tidak mahal. Tolong jangan tolak pemberianku ini, jika kamu nggak ingin aku kecewa atau bersedih," Alberto memaksa Kristina menerima pemberiannya.


Hingga akhirnya Kristina menerima sekotak perhiasan berlian dari Alberto.


"Ka Albe, sekali lagi terima kasih." kata Kristina seraya tersenyum.


"Iya, Tin. Sama-sama." Alberto tersenyum.


"Bagaimana kerjaanmu hari ini?" tanya Alberto.


"Wah, hari ini aku sedang bahagia, karena telah memenangkan tender dan bisa bekerjasama dengan perusahaan senior di kota ini," jawab Kristina sumringah.


"Hebat kamu, Tin. Aku ikut senang, boleh dong traktirannya?" Alberto menaik turunkan alisnya.


"Siap, bos. Ntar makan kita makan siang bersama di cafe biasa, bagaimana ka? maukah?" Kristina merasa ragu.


"Boleh juga," jawab singkat Alberto.


*********


Setelah menunggu beberapa jam, tibalah waktu untuk makan siang. Alberto lekas menjemput Kristina.


Setelah berada di cafe favorit mereka, segera keduanya memesan menu kesukaan mereka. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata sedang menatap mereka, seseorang yang sangat membenci Kristina.


"Lihat saja, Kristin. Kali ini aku tidak akan gagal melenyapkanmu!" gerutunya.


"Mba, ini pesanan atas nama Kristina dan Alberto bukan?" tanyanya saat seorang pelayan akan mengantar pesanan milik Kristina.


"Iya, benar sekali." Jawab sang pelayan.


"Biar saya saja yang antar, mba. Karena kebetulan saya teman Kristina." ucapnya seraya mengambil paksa nampan yang sedang di pegang pelayan.


Terpaksa pelayan tersebut memberikan nampannya karena merasa tidak enak hati. Dan langsung meninggalkannya begitu saja.


Orang ini diam-diam membubuhkan racun dalam makanan pesanan Kristina tanpa ada yang tahu. Setelah itu dirinya tidak malah menyerahkan pada pelayan lain yang kebetulan sedang melintas.


"Mbak, kemari sebentar. Tolong sajikan pesanan ini ke meja yang paling pojok, karena mendadak saya mules harus ke toilet." Orang ini menyerahkan nampannya pada pelayan tersebut dan pergi begitu saja.


Sementara pelayan ini sempat merasa kebingungan, namun akhirnya membawa pesanan tersebut pada Kristina.


"Terima kasih, mbak." Ucap Kristina seraya tersenyum pada pelayan tersebut.


"Sama-sama," jawabnya seraya tersenyum dan berlalu pergi.

__ADS_1


Kristina lekas menyantap menu makanan pesanannya tanpa ada rasa curiga. Namun baru menyantap beberapa suap, dirinya merasa kesakitan lehernya.


"Aaaauuuuhhhh..sssaaaaakkkiiiittt..." ucapnya lirih tiba-tiba pingsan dan mulutnya mengeluarkan busa.


Orang yang telah meracuni Kristina merasa sangat puas, saat dalam pengintaian melihat kondisi Kristina.


"Mampus kamu, Kristina!" orang ini berlalu pergi dari cafe tersebut.


Berbeda dengan Alberto yang begitu panik melihat kondisi Kristina, dia segera menggendong Kristina.


Dan berlari menuju mobil, serta memerintah Rony untuk melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.


"Bertahanlah, Kristin. Aku mohon..." Alberto panik seraya menggenggam jemari Kristina.


"Bisa lebih cepat nggak, Ron!" Alberto panik sekali.


"Baik, Tuan." Rony mempercepat laju mobilnya sesuai perintah Alberto.


Tak berapa lama kemudian, sampailah di rumah sakit terdekat.


"Suster.. cepat kemari..tolong langsung tangani!" Alberto memanggil perawat yang sedang melintas.


"Baik, Tuan." Segera perawat tersebut membawa Kristina ke ruang penangan, dan perawat tersebut langsung memanggil dokter yang sedang bertugas.


"Hampir aku lupa, ini pasti unsur kesengajaan. Ada yang ingin mencelakai Titin, kenapa aku begitu teledor! tidak benar-benar, ini perlu di selidiki," Alberto lekas menelpon Rony untuk di tugaskan menyelidiki kasus Kristina.


Rony bergerak cepat dengan segera menyelidiki ke cafe dimana Kristina dan Alberto barusan singgah untuk makan.


CCTV di cafe tersebut langsung di cek oleh pemilik cafe. Dan di temukan ada seorang wanita yang memakai kerudung dan masker yang sempat menjadi salah satu orang yang di curigai.


Namun wanita tersebut tak bisa di tangkap, lolos begitu saja. Walaupun jejaknya di telusuri namun tetap tidak di temukan.


Rony lekas kembali ke rumah sakit dan melaporkan hal tersebut pada Alberto.


"Maaf, Tuan. Jejak pelaku tidak bisa di telusuri lebih lanjut," Rony menunduk seraya ketakutan.


"Dasar bodoh! di tugaskan untuk satu macam saja gagal! ya sudah, mulai sekarang kamu jangan teledor lagi! kalau perlu kerahkan semua orang kita untuk stand bay di rumah Titin! aku nggak mau, hal yang sama terjadi pada anaknya!" bentak Alberto seraya mendengus kesal.


"Baik, Tuan." Rony akan melangkah pergi, namun di cegah oleh Alberto.


"Tunggu!"


"Ya, Tuan."

__ADS_1


"Tolong kamu bawa pemilik cafe kemari beserta bukti CCTV, aku ingin mengecek sendiri. Apa kamu punya nomor ponselnya? jika iya, suruh pemilik cafe mengirimkan rekaman CCTV ke ponselku!" perintah Alberto.


"Baik, Tuan." Rony gerak cepat dengan menghubungi pemilik cafe tersebut.


Sejenak ponsel Alberto bergetar, ada notifikasi pesan masuk yang ternyata dari pemilik cafe yang mengirimkan rekaman CCTV.


Alberto lekas membuka notifikasi chat pesan yang berisikan vidio rekaman CCTV. Dengan seksama, Alberto melihatnya.


"Siapa wanita aneh ini, berarti dia yang telah mencelakai Titin! Tapi memang benar apa yang di katakan Rony, wanita ini tak bisa di lacak karena memakai penyamaran," gerutu Alberto seraya memijit pelipisnya.


"Sial, pasti wanita ini telah mengatur strategi sebelumnya, hingga penyamaran tidak bisa di ketahui sama sekali. Lapor polisi pun percuma saja!" gerutunya kembali seraya mendengus kesal.


Setelah menunggu satu jam lamanya, akhirnya dokter ke luar dari ruang periksa tersebut.


"Dok, bagaimana kondisi pasien?" Alberto langsung memberondong dokter dengan pertanyaan.


"Tuan Albert nggak usah khawatir, kondisi pasien sudah stabil namun saat ini belum sadarkan diri," jawab dokter tersenyum ramah.


"Untung racunnya belum sempat menyebar ke seluruh penjuru tubuh pasien. Jika terlambat sebentar saja, nyawa pasien bisa terancam keselamatannya," ucap dokter kembali.


"Kira- kira berapa lama lagi pasien sadar, Dok?" kembali lagi Alberto bertanya.


"Beberapa menit lagi, pasien akan sadarkan diri." Jawab dokter kembali.


"Baiklah, Dok. Terima kasih." Alberto tersenyum.


Dokter pun berpamitan pada Alberto karena masih ada pasien yang lain yang harus segera mendapat pemeriksaan darinya.


Beberapa menit kemudian, Kristina telah sadarkan diri. Namun kondisinya masih lemah, tatapan matanya masih sayu.


"Titin, bagaimana kondismu?" Alberto meraih jemari Kristina dan menggenggamnya.


"Aku nggak apa-apa, ka." Jawabnya lirih.


Alberto merasa lega setelah mengetahui kondisi Kristina baik-baik saja. Namun Alberto masih saja penasaran dengan wanita yang telah mencelakai Kristina. Dia tetap akan mengusut tuntas tentang hal ini tanpa bantuan dari aparat polisi. Dia akan menyewa beberapa detektif untuk menyelidikinya.


******


Sementara di tempat lain, seorang wanita sedang tertawa terbahak-bahak karena keberhasilannya telah mencelakai Kristina.


"Hhhaaa, aku yakin kali ini usahaku tidak akan gagal lagi! aku pastikan saat ini nyawamu telah melayang, Kristin! puas rasanya telah berhasil menyingkirkan musuh terbesarku," gerutunya tersenyum sinis.


******

__ADS_1


Mohon dukung like,vote, favorit...


__ADS_2