Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Tak Di Restui


__ADS_3

Sementara saat ini Alberto telah memutuskan untuk lekas meminang Kristina. Agar lebih leluasa dalam melindungi Kristina.


Alberto mengutarakan niat hatinya oramg tuanya. Dia lekas terbang ke AS menemui orang tuanya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Alberto sampai di rumah orang tuanya yang berada di negara AS.


"Sayang, kamu kok nggak kasih kabar dulu kalau mau kemari?" Mommy Rachel mengusap surai hitam Alberto.


"Sengaja, mom. Kan ingin kasih surprise." Alberto mencium tangan Mommy Rachel.


"Untuk apa kamu kemari, daddy dengar dari Yesi kalau saat ini kamu sedang menjalin hubungan denga janda beranak satu?" Daddy Mickel melirik sinis pada Alberto.


"Sialan, secepat ini Yesi telah mendahuluiku memberitahu pada orang tuaku. Pasti Yesi juga telah meracuni dan menghasut pikiran orang tuaku dengan berkata buruk tentang Kristina," batin Alberto mendengus kesal.


"Kenapa kamu diam saja, untuk apa kamu datang kemari?" Daddy Mickel menatap tajam Alberto.


"Memang yang di katakan Yesi benar, dad. Saat ini Albert menjalin hubungan dengan seorang janda beranak satu. Wanita yang dulu Albert cinta saat masih di SLTP ," kata Alberto.


"Sekarang sudah berubah, cinta pertamamu sudah bukan gadis. Jadi untuk apa pula kamu bersamanya, apa kamu nggak malu jika semua rekan bisnis kamu dan rekan bisnis papah tahu, pasti kita akan mendapat cibiran dan hinaan!" Daddy Mickel mendengus kesal.


"Dad, Albert kemari ingin meminta restu. Karena secepatnya Albert akan menikahinya," kata Albert sedikit ragu.


"Sampai kapanpun, Daddy nggak akan merestui pernikahanmu dengan janda tersebut. Jika kamu tetap akan melanjutkan niatmu, daddy tidak akan mengakuimu sebagai anak!" Daddy Mickel mendengus kesal.


"Dad, janganlah seperti itu. Cinta itu tidak bisa di paksakan, mungkin memang janda itu adalah jodoh anak kita," Mommy Rachel mencoba menengahi.


"Mommy nggak usah membela anak durhaka ini, nanti dia semakin besar kepala!" Daddy Mickel mendengus kesal seraya berkacak pinggang melotot pada Mommy Rachel.


"Jadi daddy tetap pada pendirian, tidak akan merestui hubungan Albert dengan Titin? baiklah dad, dengan atau tanpa daddy. Albert akan tetap menikahi Titin," Alberto berkata dengan tegasnya.


"Oh, jadi kamu lebih memilih janda itu daripada daddy. Kamu lebih memilih jadi anak durhaka! baiklah, saat ini juga daddy sudah tak menganggapmu sebagai anak! pergilah kamu dan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapan daddy dan mommy! jangan pernah menghubungi kami lagi!" Daddy Mickel mendengus kesal seraya mengusir Alberto.


Hingga akhirnya Alberto pergi meninggalkan rumah orang tuanya dengan perasaan sangat sedih dan sangat kecewa.

__ADS_1


"Nak, tunggu!" Mommy Rachel mengejar Alberto.


Namun langkahnya di hadang oleh Daddy Mickel.


"Mom, sudahlah. Biarkan anak durhaka itu pergi." Daddy Mickel mencekal lengan Mommy Rachel.


"Dad, janganlah seperti ini pada anak kita. Namanya hati dan perasaan tak bisa di paksakan. Mungkin bagi Albert dia lebih nyaman dekat dengan kekasihnya daripada dengan Yesi." Mommy Rachel berkata seraya matanya berkaca-kaca.


Namun Daddy Mickel tak merespon ucapan istrinya, dia malah berlalu pergi dari hadapan Mommy Rachel.


Daddy Mickel gelisah di kamarnya, dia nggak ingin anak kesayangannya menikah dengan seorang janda beranak satu.


"Aku harus mencari cara supaya janda itu menyingkir dengan sendirinya dari kehidupan Alberto. Karena aku nggak akan rela jika anakku menikah dengan bekas orang alias janda. Dimana pikiran Albert, bisa kecantol dengan janda anak satu!" Gerutu Mickel mendengus kesal.


Sementara saat ini, Alberto dalam perjalanan untuk kembali ke Indonesia. Dia juga sangat kesal akan sikap Mickel yang tak bersedia memberinya restu.


Dia juga sangat kesal dengan ulah Yesi, yang telah menghasut Daddy Mickel.


"Ini semua gara-gara ulah Yesi, kalau dia tidak menghasut daddy. Nggak akan mungkin daddy bersikeras menolak niatku untuk menikahi Titin! dasar wanita keras kepala, sebaiknya aku beri hukuman apa ya, buat Yesi supaya dia jera dan tidak berulah lagi!" gerutu Alberto dalam hati seraya terus menahan rasa kesalnya.


Dia langsung menelpon Yesi.


📱" Hallo, sayang. Akhirnya kamu menelponku juga, kangen ya."


📱" Kamu nggak usah terlalu percaya diri, aku menelponmu karena ingin bicara padamu."


📱" Bicaralah, sayang. Aku akan mendengarkannya."


📱" Untuk apa kamu menghasut daddy supaya tidak merestui hubunganku dengan Kristin!"


📱" Kenapa masih bertanya untuk apa aku melakukan hal itu? harusnya kamu peka dan tak usah mempertanyakan hal yang tak perlu jawaban. Kamu bisa jawab sendiri pertanyaanmu itu."


📱" Hem, keras kepala juga ya kamu! jangan salahkan aku jika hilang kesabaranku, aku akan memberimu sebuah pelajaran dan tamparan yang cukup keras. Supaya kamu jera!"

__ADS_1


📱" Aku tidak takut dengan ancamanmu itu, silahkan saja lakukan sesuka hatimu apa yang ingin kamu lakukan. Seperti halnya apa yang aku lakukan."


📱" Kamu pikir, aku cuma mengancammu saja? aku serius dengan ucapanku!"


📱"Aku juga serius dengan ucapanku, aku tidak takut dengan siapapun. Selama apa yang aku inginkan belum tercapai, aku akan selalu mencoba dengan berbagai cara walaupun dengan cara licik sekalipun."


📱" Hem, baiklah. Jika itu maumu, sekarang juga aku anggap kamu adalah musuhku! dan kerja sama kita yang telah terjalin akan aku cansel..Begitu pula dengan kerjasamaku bersama papahmu." ucap Akbert panjang labar.


Setelah itu Alberto menutup telponnya, dan menghubungi Irwan. Alberto sudah hilang kesabaran hingga memutuskan kerja sama yang di jalinnya bersama Irwan.


Irwan merasa geram tingkah putrinya yang selalu saja berulah tanpa ada rasa jera sedikitpun.


Irwan bingung harus bagaimana cara mendidik Yesi, supaya tidak membuat masalah dengan Albert.


Irwan mencoba menasehati Yesi kembali.


"Nak, papah ingin bicara padamu sebentar." Irwan menghampiri Yesi yang sedang bersantai di ruang tengah.


Yesi hanya menoleh tanpa menjawab apapun.


"Nak, tolong dengarkan papah kali ini saja. Berhentilah kamu berbuat keonaran dan masalah dengan Albert." Irwan menatap tajam Yesi.


"Hem, pasti Albert ngadu. Dasar lelaki pengecut." Yesi menyeringai sinis.


"Nak, gara-gara ulahmu. Albert telah memutuskan kerja samanya dengan papah. Padahal kerja sama ini sudah lama papah harapkan. Perusahaan Albert sangat menguntungkan bagi papah. Gara-gara Albert membatalkan kerjasamanya, papah jadi rugi besar," Irwam menghela napas panjang.


"Pah, nggak usah di bikin pusing. Memangnya yang punya perusahaan besar cuma Albert. Masih banyak kok, untuk apa di bikin ribet sendiri." Yesi beranjak bangkit dan berlalu dari hadapan Irwan.


Sementara Alberto bercerita pada Kristina jika daddy tak merestuinya, hinggga Albert tetap akan menikah walaupun tanpa restu daddy.


Namun tidak dengan Kristina, dia menolak jika kelak pernikahannya tanpa ada restu dari orang tua Alberto.


****

__ADS_1


Mohon maaf jika karya jelek, karena tahap belajar mohon di maklumi🙏🙏🙏🙏


__ADS_2