Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Karma


__ADS_3

"Saya baru tahu jika Nona Kristin kekasih Albert, ini juga karena saya tak sengaja mendengar pembicaraan anak saya dan mantan suami Nona Kristin," Irwan tersenyum.


"Ya, Tuan. Sebenarnya kami telah menjalin kasih dari usia belia, saat Ka Albe duduk fdi bangku SLTP tapi kita terpisah begitu lama, dan baru bertemu kembali beberapa bulan terakhir," Kristina menyunggingkan senyum.


"Saya juga baru tahu jika anak, Tuan Irwan. Menyukai Ka Albe." Kristina kembali berkata.


"Ya, Yesi sangat mencintai Albert. Namun dia tak pernah meresponnya, bahkan saat di jodohkan dengan Yesi, dia jujur jika telah mencintai wanita lain yang ternyata adalah Nona Kristin." Irwan tersenyum.


"Kalau begitu saya pamit, dan semoga permasalahan ini tidak mengganggu kerja sama kita yang telah terjalin." Irwan menyalami Kristina.


"Baiklah, Tuan. Kita akan tetap menjalin kerja sama." Kristina membalas jabatan tangan Irwan.


Setelah itu berlalu pergi dari kantor Kristina.


Seperginya Irwan, Kristina termenung sendiri di dalam ruang kerjanya.


"Aku sama sekali nggak menyangka, jika Mas Willdan sangat jahat dan licik." Gerutu Kristina.


*******


Sementara di sebuah rumah yang sederhana, seorang lelaki paruh baya sedang mengeluh.


"Hidupku sudah hancur seperti ini, sudah nggak punya apa-apa lagi. Anak di penjara, hidup seorang diri. Untuk makan saja susah, tiap hari harus jadi pemulung atau pengamen," gerutu Melvin menghela napas panjang.


"Harusnya masa tuaku tinggal menikmati kebahagiaan, malah masa tuaku susah seperti ini," gerutunya kembali seraya memijit pelipisnya.


Kini Melvin benar-benar telah bangkrut, apa lagi sejak Sherlyn masuk penjara. Semua rekan bisnisnya sudah tidak mau lagi menjalin kerja sama dengannya. Dan semua yang menanam saham di perusahaannya juga telah di tarik kembali sahamnya. Akhirnya perusahaan tak dapat beroperasi.


"Apa aku minta bantuan, Kristin? ah, tapi sepertinya dia nggak akan bersedia membantuku, setelah apa yang pernah aku dan Sherlyn perbuat padanya," batin Melvin.


"Sudahlah, aku terima saja semua ini. Mau bagaimana lagi, mungkin ini semua juga karma untuk semua kejahatanku yang telah aku lakukan pada Kristin serta pada mendiang orang tuanya " batin Melvin.


Sejenak Melvin ingat akan kesalahan dan dosanya di masa lalu. Dimana Melvin dengan sengaja menyabotase rem mobil yang di gunakan oleh orang tua Kristina.

__ADS_1


Saat mendiang kedua orang tua Kristina akan pergi ke suatu tempat. Hingga akhirnya mengalami kecelakaan dan nyawanya tak terselamatkan.


Semua yang pernah dimiliki Melvin sebenarnya sepenuhnya milik Kristina. Namun Melvin merampasnya dari orang tua Kristina. Bahkan sampai detik ini Kristina sama sekali tidak mengetahuinya.


*******


Di penjara Sherlyn juga hidupnya susah, karena selalu di ganggu oleh para narapidana senior.


Selalu mendapat perlakuan kasar dan jahat. Namun Sherlyn tak bisa melaporkan hal itu pada para petugas polisi, karena selalu saja mendapat ancaman.


"Heh, cepetan pijitin kakiku!" salah satu narapidana melotot dan melambaikan tangan pada Sherlyn.


Sherlyn melangkah lesu menghampiri narapidana tersebut dan melakukan apa yang di perintahkannya.


Namun narapidana senior tersebut masih saja bersikap kasar pada Sherlyn.


"Dasar bego, ini namanya bukan memijit tapi mengusap-usap." narapidana tersebut menarik rambut Sherlyn secara keras dan kasar.


"Auw, sakit," teriaknya lirih dan memegangi rambutnya.


Para narapidana yang melihat hal itu bukannya iba pada Sherlyn, tapi malah semuanya menertawakan dan mengejeknya.


Sherlyn diam tertunduk dan tiba-tiba keluar bulir bening dari matanya semakin lama semakin deras. Dia merasa sudah tak kuat lagi mendapat perlakuan kasar di dalam sel nya.


Namun ini yang harus dia terima, dia tidak bisa menolak ataupun membuat suatu pilihan.


"Aku sudah tak kuat lagi di dalam sel, setiap hari aku harus mendapat perlakuan buruk dari teman sesama nara pidana. Aku ingin melaporkannya pada polisi yang bertugas, tapi aku selalu mendapatkan ancaman," batin Sherlyn seraya matanya terus mengeluarkan bulir bening.


******


Waktu berlalu begitu cepat, sejak Willdan di pecat secara tidak terhormat oleh Irwan, hidupnya kembali menderita.


Dia harus bekerja serabutan untuk bisa mendapatkan uang.

__ADS_1


"Aku pikir, kesusahanku telah berakhir saat aku mendapat tawaran kerja di kantor Yesi. Tapi malah aku harus merasakan hal seperti ini lagi." Willdan memijat pelipisnya seraya menghela napas panjang.


"Nak, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu cuma sebentar bekerja di kantor barumu?" Mamah Elsa mencoba mengorek keteranhan dari Willdan.


Sejenak Willdan terdiam, namun kemudian memberanikan diri bercerita pada Mamah Elsa.


Mamsh Elsa dengan seksama mendengarkan semua yang di ucapkan oleh Willdan.


"Dasar bodoh, harusnya kamu jangan ceroboh! jadi nggak kehilangan kesempatan emas ini! kalau sudah seperti ini, paling kamu nggak bisa berbuat apa-apa lagi." Mamah Elsa melotot dan membentak Willdan.


"Padahal waktu itu mamah sudah sangat senang, malah rasa senang mamah hanya sesaat dan sekejap mata saja!" Mamah Elsa mendengus kesal.


"Namanya juga lagi sial, mah. Mana Willdan tahu, sudahlah mamah nggak usah menyalahkan Willdan terus. Kasih suport atau bagaimana, supaya Willdan nggak putus asa dan nggak menyerah." Willdan berlalu pergi dari hadapan Mamah Elsa.


Dia pergi untuk bekerja menjadi pemulung dengan bermodalkan karung.Dia menelusuri jalan setapak memunguti botol- botol bekas dan barang bekas lainnya.


Bajunya kucel, penampilannya kotor tak karuan. Nyaris tak bisa di kenali jika pemulung ini adalah Willdan, yang dulunya seorang pengusaha sukses dan selalu menjaga penampilan tubuhnya.


"Lelah sekali, tapi baru dapat sedikit. Istirahat sejenak dech." Willdan meraih botol minumannya.


Willdan sekilas melihat ada bingkisan makanan yang di buang di tong sampah. Willdan memungutnya.


"Aku lapar dan tak punya uang, nggak apa-apalah, aku makan ini. Setidaknya untuk mengganjal rasa laparku." Willdan meraih bingkisan yang ada di tong sampah dan lekas memakannya dengan sangat lahap.


Dia sudah tak memikirkan rasa kotor,jijik ataupun malu. Yang ada di pikirannya, rasa laparnya bisa hilang, dan dia bisa melanjutkan kerjanya kembali mencari barang bekas.


Setelah merasa kenyang, Willdan melanjutkan langkahnya kembali untuk mengumpulkan barang-barang bekas.


Willdan berjalan berkeliling hingga sore hari pukul 5 sore, barulah dia kembali ke kontrakan. Namun terlebih dulu dia menjual barang bekas tersebut ke pengepul.


"Yah, dari jam 6 pagi hingga jam 5 sore. Berjalan sampai kaki pegal, yang aku dapat cuma tiga puluh ribu perak." Gerutu Willdan menghela napas panjang seraya menatap uang tiga lembar puluhan ribu yang ada di tangannya.


Dia melangkah pulang dengan gontay dan lelah sekali serta tak ada semangat sedikitpun.

__ADS_1


Sampai di rumah,Willdan menyerahkan uang tiga puluh ribu tersebut pada Mamah Elsa. Bukannya Mamah Elsa bersyukur malah memarahi Willdan.


*******


__ADS_2