
Alberto pulang ke mension dengan rasa resah dan gelisah. Pikirannya tak karuan, dia masih belum percaya dengan apa yang telah di perbuatnya bersama Yesi. Kegelisahan Alberto bisa di rasakan oleh orang tuanya.
"Albe, darimana saja kamu? kenapa kamu nggak pulang? apa ada masalah?" tanya Rachel merasa cemas seraya menatap sendu putranya.
"Iya, nak. Sebenarnya kamu dari mana? baru pertama kalinya kamu nggak pulang, biasanya sesibuk atau selarut apapun kamu selalu pulang ke rumah?" tanya Mickel menyelidik.
Sejenak Alberto terdiam, merenung, dan berpikir.
"Nggak mungkin aku menceritakan yang sebenarnya pada orang tuaku," batinnya resah.
"Dad, mom. Aku nggak apa-apa, cuma semalam aku terjebak di jalan. Saat hujan besar sekali, mobil bannya bocor dan di sebuah perkampungan. Bahkan aku tidak membawa ban cadangan. Saat akan menelpon kalian atau Rony, kebetulan batre habis. Hingga aku putuskan tidur di mobil sampai pagi hari baru aku menunggu ada warga lewat. Dan meminjam ponselnya untuk menelpon Rony." Penjelasan Alberto begitu panjangnya pada orang tuanya.
Setelah mendengar penuturan dari Alberto, orang tuanya hanya berhooh ria tanpa bertanya lagi karena bagi mereka sudah cukup jelas.
Alberto lekas melangkah ke kamar dan membersihkan badannya. Namun dirinya terus saja mengingat peristiwa di villa.
"Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa berbuat hal menjijikkan itu bersama Yesi. Sedangkan aku sama sekali tak mencintainya. Aku telah merenggut kesucian Yesi, aku harus bagaimana?" Gerutunya seraya memejamkan mata berendam di dalam bathup.
Setelah cukup lama merenung dan berendam, Alberto menyudahi mandinya. Namun dia tetap pada rasa gelisahnya. Otaknya tak bisa berpikir jernih,hingga dia kesal sendiri dan memukul-mukul kepalanya sendiri.
Berbeda dengan Yesi dan Sendy, mereka kini sedang merayakan keberhasilannya menjebak Alberto. Mereka sedang berada di sebuah cafe.
"Idemu cemerlang, Sendy. Jebakan kita sukses, dan kali ini aku bisa memiliki Albert seutuhnya." Yesi menyeringai puas.
"Iya dong, Sendy gitu loh." Terkekeh senang sekali.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan dengan bukti rekaman vidio ini?" tanya Yesi mengernyitkan alis.
"Masa kamu nggak tahu sih? Ya itu sebagai senjata untuk kamu bisa memiliki Albert." Sendy melirik sinis.
"Aku sudah membantumu untuk mendapatkan Albert, kini aku memintamu untuk membantuku menghancurkan perusahaan Kristin sehancur-hancurnya." Sendy menaik turunkan alisnya seraya menatap Yesi.
"Tapi aku kan belum sepenuhnya memiliki Albert, nanti kalau aku sudah jelas menikah dengannya, pasti aku akan membantumu." Yesi mengedipkan matanya pada Sendy.
"Baiklah, aku pegang ucapanmu. Awas jangan ingkar, karena jika ingkar kelubang semutpun aku cari dirimu." Ancam Sendy.
__ADS_1
Setelah cukup lama bersenang-senang dengan Sendy, kini Yesi memutuskan pulang ke rumah.
"Nak, kamu darimana kok semalam nggak pulang?" tanya Leni.
"Semalam hujan lebar, aku berteduh dan menginap di rumah teman, mah." Jawab Yesi singkat.
"Ya sudah, mamah tenang jika sudah melihatmu pulang dalam kondisi sehat." Leni tersenyum seraya mengusap surai hitam Yesi.
Yesi lekas melangkah masuk menuju kamarnya dengan rasa yang sangat bahagia. Dia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan dia tidak memikirkan akan sebab dan akibat dari perbuatanya.
Yesi membersihkan badannya, setelah itu merebahkan diri di pembaringan seraya menatap vidio percintaannya bersama Alberto.
"Uuuuhhh bodymu itu loh, Albert. Atletis dan permainanmu luar biasa, membuatku ingin mengulangnya lagi." Gerutunya dengan sesekali menciumi rekaman vidio tersebut.
"Aku harus bertindak cepat dan tidak akan menyia-nyiakan waktu ini. Aku akan segera memaksa Alberto untuk lekas menikahiku." Yesi tersenyum sendiri.
Tanpa sadar dia tertidur pulas begitu saja.
Hingga menjelang sore, dia baru bangun dan lekas mandi kembali. Dia segera bergerak cepat melajukan mobilnya ke kantor Alberto. Namun ternyata Alberto tidak ada di kantornya.
Apa yang di pikirkan Yesi memang benar, saat ini Alberto berada di kantor Kristina. Yesi melihat Alberto sedang membukakan pintu mobil untuk Kristina. Yesi cemburu, tangannya mengepalkan tinju seraya memukul-mukul kemudi.
"Lihat saja, Kristin! ini yang terakhir kali aku melihatmu tersenyum, aku pastikan besok kamu tak bisa tersenyum lagi seperti saat ini!" Gerutunya mendengus kesal.
Yesi sengaja tidak membuat gaduh di kantor Kristina, tapi dia ingin mengungkap vidio itu di rumah Kristina.
"Aku yakin, Albert akan mengantar Kristin pulang." Yesi mengikuti mobil yang di lajukan oleh Alberto.
Setelah beberapa menit, sampailah di apartement Kristina.
"Benar saja dugaanku, awas ya kamu Albert ! aku akan memperlihatkan vidio ini pada Kristin sekarang juga, supaya dia berubah membencimu sehingga kamu akan jatuh dalam pelukanmu selamanya." Yesi terkekeh sendiri.
"Hay, Kristin." Yesi lekas turun dari mobilnya dan menyapa Kristina yang masih ada di dalam mobil karena mobil masih laju lambat di halaman rumah.
"Nona, anda di larang masuk!" salah sayu bodyguard mencekal lengan Yesi.
__ADS_1
Yesi sengaja parkir mobil di luar pintu gerbang karena dia tahu jika masuk tidak akan di ijinkan oleh para penjaga rumah Kristin.
"Lepaskan!" Yesi mencoba meronta menepis cekalan tangan bodyguard namun tak bisa.
Kristina memutuskan untuk turun, saat melihat Yesi di cekal oleh salah satu bodyguard.
"Tolong lepaskan, dia ini bukan orang jahat tapi temanku." Perintah Kristina pada bodyguard tersebut.
Hingga akhirnya cekalan pada lengan Yesi di lepaskan oleh bodyguard tersebut.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Kristina ketus.
"Aku kemari ingin mengajak pulang calon suamiku!" Jawab Yesi ketus pula.
"Calon suami yang mana yang kamu maksud?" tanya Kristina kembali.
Sementara saat ini Alberto sedang memarkirkan mobil di garasi, hingga tidak tahu akan pertengkaran yang terjadi antara Yesi dan Kristina.
"Alberto adalah calon suamiku, dalam waktu dekat kami akan menikah." Jawab Yesi kembali dengan lantangnya.
"Aku pikir, sekembalinya kamu dari LA membuatmu telah berubah dan tidak terobsesi terus dengan Ka Albe. Ternyata pemikiranku tentangmu salah. Mau sampai kapan kamu terus mengejar cinta Ka Albe yang tak bakal bisa kamu miliki." Kristina menghardik Yesi panjang lebar.
"Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu, vidio kemesraan kita berdua. Kami telah menjadi satu bisa jadi di dalam perutku telah tumbuh anak Albert." Yesi meraih ponselnya dan membuka vidio percintaannya dengan Alberto.
"Lihatlah dan bukalah matamu lebar-lebar," Yesi memberikan ponsel itu pada Kristina.
Namun saat Kristina akan menerima ponsel milik Yesi, tiba-tiba ponselnya di rebut oleh Alberto.
"Heh, Yesi. Kamu mau apa lagi kemari!" Alberto berusaha menghapus vidio tersebut.
"Ini ponselmu, pergilah dari sini sekarang juga!" Usir Alberto pada Yesi.
"Kamu bisa menghapus vidio dari ponselku, tapi ini cuma copyan yang asli masih aku simpan." Yesi menyeringai licik.
*********
__ADS_1