
Setelah mendengar cerita dari Melvin, Sherlyn merasa sanksi pada kebaikan Willdan. Karena dia telah paham sifat Willdan yang sangat licik dan pengecut.
"Pah, hati-hati jangan sampai Willdan memanfaatkan papah." Sherlyn mencoba menasehati Melvin.
"Memanfaatkan bagaimana, kamu jangan berprasangka buruk pada Willdan. Dia telah berubah, karena dia juga pernah mengalami hidup susah seperti papah. Itu yang dia katakan sama papah. Dia pernah juga jadi pemulung seperti papah," Melvin terus saja membela Willdan.
"Jika Willdan pernah hidup susah, terus dari mana dia dapatkan kesuksesan yang sekarang ini?" Sherlyn mengerutkan keningnya.
"Sendy yang telah membantunya." Jawab Melvin singkat.
"Doa saja, pah. Semoga kekhawatiranku tentang Willdan salah, dan semoga papah tidak terpuruk lagi," ucap Sherlyn seraya mata berkaca-kaca.
"Nak, nggak perlu bersedih. Suatu saat kamu pasti bisa bebas dari penjara, asalkan selama di sini kamu selalu berkelakuan baik. Tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan telah berkehendak," Melvin berusaha menghibur hati Sherlyn.
"Iya, pah." Jawabnya singkat seraya tak terasa bulir bening keluar dari matanya.
"Nak, papah pamit pulang ya. Lain waktu pasti papah kemari lagi," Melvin mengusap surai hitam Sherlyn.
"Iya, pah. Hati-hati di jalan ya." Sherlyn menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.
"Kamu juga, jaga diri dan hati-hati." Pesan Melvin.
Melvin pergi meninggalkan lapas tersebut, walaupun sebenarnya enggan meninggalkan Sherlyn sendirian.
"Kasihan juga, Sherlyn. Pasti sangat tersiksa di lapas. Ini semua gara-gara dulu aku tak mendidiknya dengan benar. Aku bukannya menegur dia saat berbuat salah, tapi aku malah terus mendukungnya." Gerutunya seraya melangkah menuju mobilnya.
Melvin melajukan mobilnya menuju ke apartementnya. Sesampainya di apartement, dia langsung beristirahat di kamar. Merebahkan badannya di kasur.
"Enak sekali kasurnya empuk benar, sudah lama tidak merasakan indahnya dan nyenyaknya tidur di kasur empuk," Melvin terkekeh sendiri.
__ADS_1
Tak terasa dia tertidur lelap hingga malam menjelang, dia hanya bangun untuk makan malam. Setelah itu dia tidur kembali hingga pagi.
Sementara di pagi yang cerah, pengacara Sendy sudah siap dengan surat untuk pengajuan naik banding ke pengadilan. Pengacara tersebut datang ke lapas menemui atasan yang bertugas di lapas tersebut.
Sidang naik banding akan segera di langsungkan siang itu juga. Setelah semua pengurus persidangan dari hakim, jaksa dan pengurus persidangan telah terlebih dulu mempelajari berkas pengajuan naik banding dari pengacara Sendy.
Berbeda saat ini, Willdan sedang merencanakan sesuatu buruk untuk Melvin. Setelah dia kelak berhasil kerja di perusahaan Sendy yang ada di luar negeri.
"Setelah aku berhasil pergi dari Indonesia ini bersama mamah. Aku baru merancangkan rencana indah untuk Om Melvin," senyuman licik keluar dari bibir Willdan.
*******
Berjalannya waktu begitu cepat, persidangan naik banding Sendy sedang berlangsung. Pengacara Sendy memang berusaha sangat keras, dengan membujuk para petugas persidangan untuk tidak berlama-lama dalam menyelenggarakan persidangan naik banding. Hingga hanya dalam waktu singkat, persidangan segera di langsungkan.
Keputusan hakim sedikit menguntungkan Sendy, hakim menerima pengajuan banding dari Sendy. Sehingga kini masa hukuman untuk Sendy dari masa hukuman 7 tahun berkurang 2 tahun.
"Pak, terima kasih. Kerja anda sungguh luar biasa sehingga masa hukumanku berkurang 2 tahun," Sendy menjabat tangan pengacaranya.
Kabar bahagia ini justru membuat Willdan kesal. Dia menyesal menuruti Sendy meminjamkan ponselnya untuk menghubungi pengacara pribadinya.
"Menyesal aku meminjamkan ponselku pada Sendy. Aku pikir, naik banding itu tidaklah akan berhasil. Ternyata aku salah karena telah meragukan kemampuan pengacara pribadi Sendy," batin Willdan menghela napas panjang.
"Tapi ya sudahlah, mungkin saat ini keberuntungan sedang berpihak pada Sendy. Toh cuma terpotong 2 tahun, dia masih harus jalani hukuman 5 tahun lagi," batin Willdan kembali.
Sendy merasa lega karena masa hukuman bisa berkurang, kini dia akan berusaha selalu berbuat baik selama di dalam tahanan supaya mendapat keringanan hukuman.
"Aku salah, kenapa mau saja membalaskan dendam Ka Willdan yang akhirnya berujunh di dalam jeruji besi ini. Dan sepertinya saat ini Ka Willdan juga punyq niat jahat padaku. Aku akan selalu mengawasi dia lewat semua orang kepercayaanku bukan cuma pengacaraku saja," gerutuan Sendy dalam hati.
"Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padaku lagi. Dan dua perusahaan yang aku rintis dengan susah payah, tidak akan aku biarkan begitu saja dalam genggaman Ka Willdan. Biarkan selama aku di dalam penjara, dia yang mengurusnya tapi bukan memilikinya," batin Sendy.
__ADS_1
Kini Sendy mulai mengerti sedikit demi sedikit tabiat dari Willdan. Karena saat dia mengalami kesusahan, Willdan sama sekali tidak merasa iba ataupun mencari jalan keluar untuk Sendy.
Padahal dia tak sungkan membantu Willdan di tengah keterpurukannya dengan memberikan perusahaan yang ada di Indonesia untuk di kelola olehnya.
"Ka Willdan, terima kasih ya. Masa hukumanku berkurang 2 tahun karena kaka meminjamkan ponsel untuk aku bisa menelpon pengacaraku." Sendy menepuk bahu Willdan
"Ka, jika kaka akan mengurus dua perusahaanku yang ada di luar negeri, bagaimana dengan perusahaan kaka yang di sini?" Sendy mengernyitkan alis.
"Kamu nggak usah khawatir, itu semua sudah aku atur dari waktu pertama kali kamu di bawa ke kantor polisi " jawab Willdan sekenanya.
"Oh, jadi kaka sudah mengatur semuanya. Tapi ingat ya ka, aku bukan memberikan dua perusahaanku yang di luar negeri itu buat kakak. Tapi aku hanya minta tolong pada kakak, untuk sementara waktu mengelolanya."
"Aku sudah memberikan satu perusahaanku untuk kakak yang ada di Indonesia ini."
Demikian penuturan Sendy saat selesai persidangan naik bandingnya.
"Iya, aku tahu kok. Kamu nggak usah khawatir, justru aku ingin mengurus dua perusahaanmu yang di luar negeri itu supaya tidak terbengkalai. Itu juga sebagai tanda terima kasihku padamu, karena kamu telah memberiku satu perusahaanmu untuk di kelola olehku," Willdan menyunggingkan senyum keterpaksaan.
"Sepertinya, Sendy tidak sebodoh dan selemah yang aku pikirkan. Sepertinya dia tahu apa yang sedang aku pikirkan," batin Willdan.
Setelah cukup lama bercengkrama, Willdan memutuskan pulang ke rumah. Dan dia juga akan secepatnya ke luar negeri untuk mengurus dua perusahaan milik Sendy.
"Aku harus bermain cantik secantik-cantiknya, supaya semua usahaku tidak gagal dan benar-benar berhasil," gerutunya seraya melajukan mobilnya.
Entah kenapa yang ada di otak Willdan adalah kelicikan. Dia bahkan tidak memandang siapa orang yang akan dia curangi yakni adik kandung sendiri.
Adik yang sangat menyayangi dirinya dengan tulus dan selalu menghormati serta selalu membelanya mati-matian.
*******
__ADS_1