
"Ron, kamu kerahkan anak buahmu untuk menyelidiki kematian orang tuaku. Selidiki orang-orang yang menurutmu pantas di curigai." Pinta Alberto pada Rony.
"Satu lagi, aku sangat curiga pada Uncle Exl. Kamu ikuti gerak geriknya kemanapum dia pergi. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan," pinta Alberto kembali.
"Baik, Tuan. Siap laksanakan.
Rony melajukan mobilnya menuju ke kantor Alberto. Setelah itu dia melaksanakan perintah Alberto.
Terlebih dulu dia menyelidiki Exl sesuai permintaan Alberto. Tapi Rony telah kehilangan jejak, karena saat ini Exl sudah pergi dari rumah.
Tidak ada yang tahu kemana perginya Exl, hanya dia sendiri yang tahu.
"Aduh, bagaimana ini? Tuan Alex sudah pergi dulu, bagaimana aku menyelidikinya?" Rony menepuk jidatnya.
Dia langsung melapor pada Alberto supaya tidak di salahkan olehnya.
__ADS_1
"Hem, kemana kiranya Uncle Exl? sayangnya Rony terlambat untuk mengikuti kepergiannya," batin Alberto mengerutkan alisnya.
Sementara saat ini Uncle Exl sedang berada di rumah Mr X. Dia memberitahu pada Mr X jika saat ini Alberto justru telah membaik.
"Bagaimana sih, bukannya Tuan bilang Albert akan menjadi lebih buruk. Tapi ini malah sudah membaik? kacau dong jadinya, apa lagi Albert saat ini telah curigs pada anda." Mr X sangat kecewa dengan Exl.
"Mr X, saya sudah menjalankan sesuai rencana saya. Bahkan anda tahu sendiri, jika saya telah berhasil membuat nyawa orang tua Albert melayang ke akherat. Semua di luar jangkauan saya jika Alberto bisa melewati keterpurukannya," Exl mencoba membela diri.
"Saya inginkan Albert yang celaka, tarjet utamanya. Bukan orang tuanya." Mr X menyeringai ketus.
"Baiklah, jika itu maumu! aku yakin tanpamu aku bisa memyingkirkan Albert sendiri!" Exl pergi meninggalkan rumah Mr X dengan mendengus kesal.
"Dasar penakut, maunya berhasil tapi takut dulu! huh, untuk apa punya uang dan kekuasaan jika tidak bisa mengelolanya. Kalau aku jadi Mr X, cari orang bayaran yang handal untuk menyingkirkan Albert. Dasar Mr X bodoh!" batin Exl menggerutu.
Exl kembali ke rumah Alberto dengan perasaan kecewa, kini tidak ada lagi yang bisa membantu membiayai dia untuk usaha menyingkirkan Alberto.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana, apa aku pulang saja ya? daripada disini aku sudah tidak bisa bergerak untuk menghancurkan Alberto," Exl mulai putus asa.
"Aku juga khawatir, karena Alberto telah mulai curiga padaku. Dari pada suatu saat aku ketahuan, mendingan aku pulang ke luar negeri," batin Exl.
"Tapi di hatiku belum tenang sebelum bisa menghancurkan Albert," hati Exl gelisah diantara pulang ke luar negeri atau bertahan saja di Indonesia.
Exl merasa lelah, dia membaringkan tubuhnya di kasur dan akhirnya terlelaplah dia dalam tidur nyenyaknya.
Sementara saat ini Alberto sibuk di kantornya, banyak sekali berkas yang harus dia urus. Dan banyak proposal baru pengjuan kerjasama dari para klien baru Alberto.
Hal yang sama juga terjadi di kantor Kristina, dia juga sama sibuknya seperti Alberto.
Sejak mereka menikah, belum pernah sekalipun merasakan indahnya malam pengantin gara-gara tragedi tewasnya orang tua Alberto.
*******
__ADS_1