
Mendengar ucapan Alberto, Kristina akhirnya tak tahan lagi menahan tawanya hingga dia tiba-tiba terkekeh seraya menutupi mulutnya dengan satu tangannya.
Mereka sesekali bercanda ria di dalam butik. Aunty Nia menunjukkan beberapa model baju pengantin pada Kristina dan Alberto. Tapi Alberto selalu saja menolaknya.
"Aunty, aku ingin gaun pengantinnya bagian dada jangan terlalu bawah. Itu semua rata-rata terlalu bawah, aku ingin yang menutupi dada." Pinta Alberto.
"Satu lagi, celana pengantinnya aku minta bagian pinggang memakai karet. Aunty, lihat. Perutku gendut sekali, ini semua gara-gara Kristin yang terlalu banyak memberiku makan." Alberto menunjukkan perut gendutnya seraya di gerak-gerakkan.
Semua yang melihat tingkah Alberto menjadi terkekeh.
"Nanti aunty usahakan merancang sesuai yang kamu inginkan," Aunty Nia terus saja terkekeh.
"Aunty, serius kan? akan membuatkan kami baju pengantin sesuai yang aku minta?" Alberto merasa ragu karena Aunty Nia terus saja terkekeh.
"Iya, Albert sayang. Kamu kok nggak percaya sih sama kemampuan aunty," Nia menepuk bahu Alberto.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi, karena masih akan mengurus yang lain lagi," pamit Alberto seraya menggandeng tangan Kristina.
__ADS_1
"Bukannya tadi kamu mengatakan jika semua telah kamu urus jauh hari sebelumnya?" Nia mengernyitkan alisnya.
"Ya, aunty. Ini urusan yang lain lagi." Ucap Alberto.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu kalian berhati-hati," pesan Nia seraya menyungingkan senyum.
Kristina dan Alberto lekas meninggalkan butik milik Aunty Nia. Mereka akan mengurus surat-surat untuk pernikahan mereka. Karena mereka akan segera mendaftarkan pernikahan mereka.
"Sayang, semua surat yang kita butuhkan sudah di bawa kan? coba di cek, jangan sampai ada yang tertinggal," Alberto mengingatkan Kristina.
"Baik, Ka Albe. Aku akan cek terlebih dahulu." Kristina segera mengecek semua surat-suratnya.
"Syukurlah kalau begitu, jadi kita bisa langsung mendaftarkan pernikahan kita," Alberto merasa lega.
"Kenapa kita nggak minta tolong pengacaraku atau pengacara, Ka Albe. Untuk mendaftarkan pernikahan kita?" tanya Kristina mengernyitkan alis.
"Untuk urusan pribadi, aku mau kita yang mengurus sendiri supaya lebih cepat di proses. Jika perwakilan aku khawatir terbengkalai nggak jelas," Alberto menjelaskan secara detail.
__ADS_1
Kristina hanya berhooh ria mendengar penjelasana dari Alberto. Tak berapa lama, mereka telah sampai di kantor catatan sipil.
Semua orang hormat pada Alberto seraya tersenyum dan sedikit menundukkan kepala. Alberto langsung di ajak masuk ke ruangan kusus pendaftaran pernikahan.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, di dalam ruangan tersebut. Setelah itu Alberto dan Kristina di ijinkan untuk pulang.
"Tuh kan, cepat. Coba kalau kita minta tolong pengacara kita, belum tentu secepat ini. Bisa lambat dengan berbagai macam alasan," Alberto menyunggingkan senyum.
Kristina juga tak berkata apa-apa, dia juga hanya tersenyum seraya iseng memencet hidung mancung Alberto hingga dia memekik kesakitan.
"Auw sakit, sayang. Harusnya di cium bukan di pencet hidung," Alberto mengusap hidungnya yang memerah karena ulah Kristina.
"Wah, hidung Ka Albe keren. Merah seperti tomat, dan mirip hidung pinokio," Kristina memberikan cermin kecil pada Alberto seraya terkekeh.
"Nah kan, sakit tahu." Alberto mengamati hidungnya dengan cermin kecil pemberian Kristina.
Kristina terus saja terkekeh melihat bibir Alberto yang di buat manyun.
__ADS_1
*********