Pembalasan Kristina

Pembalasan Kristina
Sherlyn Kepergok


__ADS_3

"Pah, bukannya papah senang jika aku berhasil menyingkirkan Kristin? kenapa sekarang malah seperti membelanya?" Sherlyn merasa kesal.


"Karena papah sekarang sadar, sejak kita selalu menyakiti Kristin. Bukannya hidup kita semakin lebih baik tapi malah semakin lebih buruk. Apa kamu tidak sadar, karena perbuatanmu sendiri apa sekarang kamu bahagia. Yang ada sekarang kamu sengsara karena wajah burukmu itu." Melvin melirik sinis.


"Jika papah nggak nuruti maumu, mungkin saat ini usaha papah baik-baik saja. Karena nggak di usik oleh Kristin!" kembali lagi Melvin melirik sinis pada Sherlyn.


"Sekarang papah nggak ingin ikut campur urusanmu lagi, jika terjadi hal buruk padamu jangan minta bantuan papah!" Melvin beranjak pergi.


"Tumben papah emosi, dan menyalahkanku. Biasa papah senang kalau aku berhasil mencelakai Kristin. Tapi kalau memang usaha papah beneran bangkrut, terus nasib hidupku bagaimana?" Sherlyn menggerutu sendiri.


"Oh iya, aku belum tahu kelanjutan kabar Kristin. Apakah sudah mati atau masih koma atau kritis ya?" Sherlyn menyeringai sinis.


"Besok aku akan mencari tahu sendiri," gerutunya kembali.


****


Esok hari menjelang, Sherlyn segera melakukan aksinya. Dia datang menuju ke apartement Kristina dengan mengintai dari jauh.


Tanpa Sherlyn sadari, ada seseorang yang telah mengikuti sedari tadi.


"Gerakan Sherlyn sangat mencurigakan, aku harus terus menguntitnya. Sepertinya dialah yang telah mencelakai Nona Kristin," Batin Rony dari balik pengintaiannya.


Dia lebih mendekat lagi pada Sherlyn, supaya lebih jelas dalam mengintai.


"Kenapa sunyi sepi, tidak ada bendera putih atau kuning di apartement Kristin? membuatku semakin penasaran apakah dia mati atau kritis saat ini," gerutu Sherlyn.


Namun Sherlyn tidak tahu jika gerutuannya sempat di dengar oleh Rony yang menyamar sebagai seorang pemulung yang pura-pura memungut botol di sekitar tempat Sherlyn berdiri mengintai rumah Kristina.


Bahkan Rony sempat merekam ucapan gerutuan Sherlyn yang cukup keras terdengar.


"Benar dugaanku, ternyata memang Sherlyn yang telah mencelakai Nona Kristin. Terdengar dari gerutuannya tadi," batin Rony.


Segera Rony berlalu pergi dan melaporkan hal itu pada Alberto. Untuk segera di tindaklanjuti.


Sebelum menghadap Alberto, Rony menelpon salah satu anak buah Alberto yang sedang bertugas jaga di rumah Kristina untuk segera menangkap basah Sherlyn yang sedang berada di balik pengintaian.


Setelah itu barulah Rony melajukan motornya menuju ke kantor Alberto. Dalam penyelidikan Rony sengaja menggunakan motor supaya bisa bergerak lebih cepat dan bebas.

__ADS_1


"Tok tok tok." Rony mengetuk pintu ruang kerja Alberto.


"Masuk." Jawabnya dari dalam.


"Begini, Tuan. Saya telah menemukan sebuah bukti yang cukup untuk menangkap Sherlyn anaknya Tuan Melvin." Rony menyerah bukti rekaman yang di ucapkan Sherlyn.


"Tadi saya mengikuti kepergian Sherlyn dan ternyata saat ini sedang mengintai apartement Nona Kristina, dan saya tak sengaja mendengar ucapannya itu," kata Rony.


"Sebelum saya kemari juga telah meminta salah satu anak buah Tuan yang saat ini sedang bertugas di sana untuk menangkap basah Sherlyn," kata Rony kembali.


"Hem, baguslah. Jangan langsung di bawa ke kantor polisi, sebelum saya memberi perintah. Karena akan saya selidiki lebih lanjut dulu supaya benar-benar bisa memperoleh informasi yang lebih akurat," kata Alberto.


Sementara Sherlyn yang sedang bersembunyi di dalam pengintaiannya terhenyak kaget saat tubuhnya tiba-tiba di sergap dari arah belakang.


"Kena kau!" dua body guard menyergap Sherlyn.


"Lepaskan, siapa kalian berdua? dengan seenaknya menyergap aku!" teriaknya melotot pada dua body guard yang telah menangkapnya.


"Kami adalah orang-orang yang menjaga rumah Nona Kristin yang telah di perintahkan oleh majikan kami untuk menangkapmu yang sedang mengintai rumah Nona Kristin!" bentak salah satu body guard.


"Lepasin! aku mau di bawa kemana?" Sherlyn terus saja berteriak.


"Diam! apa perlu kami bertindak kasar padamu!" bentak salah satu body guard.


"Aku tidak takut!" Kembali Sherlyn meronta mencoba melepasksn diri.


"Baiklah, kamu ingin sejenak bermain dam melayani kami berdua?" salah satu body guard akan melucuti semua pakaian Sherlyn.


Namun Sherlyn terisak menangis dan memohon serta memelas.


"Aku mohon, jangan apa-apakan aku. Aku janji nggak akan berteriak lagi," Sherlyn ketakutan dan panik.


"Hem, baguslah kamu kamu menurut. Lagi pula kami juga nggak berselera denganmu yang berwajah menyeramkan bagai monster, kami hanya ingin menakutimu saja hhaaa," ejek salah satu body guard terkekeh, di ikuti gelak tawa temannya.


Tak berapa lama kemudian, sampailah mobil yang membawa Sherlyn di sebuah rumah di pelosok desa.


Sherlyn di bawa masuk oleh kedua body guard tersebut ke dalam rumah tersebut. Sembari menunggu datangnya Alberto.

__ADS_1


Hanya lima menit penantian, akhirnya datang juga Alberto.


"Oh, jadi mereka berdua ini anak buahmu?" tiba-tiba Sherlyn berucap saat melihat kedatangan Alberto.


"Hem, iya. Memangnya kenapa?" Alberto menghampiri Sherlyn seraya menyeringai sinis.


"Aku bisa kok datang sendiri menemuimu, tanpa harus di culik paksa seperti ini?" Sherlyn tersenyum genit.


"Kamu jangan salah paham, pikirmu aku menyukaimu? oh tentu saja tidak. Saat parasmu masih cantik saja aku enggan, apa lagi parasmu yang sekarang bagaikan monster, nggak ada satu lelaki pun yang sudi dekatmu." Alberto menyeringai sinis.


"Terus untuk apa kamu menculikku?" Sherlyn meminta penjelasan untuk apa dirinya tiba-tiba di tangkap.


"Untuk apa kamu mengintai rumah Titin, dan apa maksud ucapanmu ini? jujur saja, apa kamu yang telah meracuni Kristin saat di cafe!" Alberto menyeringai sinis.


"Oh, jadi kamu ini berpihak pada Kristin? Hem, apa maksud ucapanmu? aku sama sekali nggak tahu?" Sherlyn pura-pura tak tahu.


"Nggak usah ngelak lagi, apa mau kamu di kerjain semua anak buahku sekarang juga!" Alberto menunjukkan lima body guardnya.


"Kalian, mendekatlah pada wanita itu dan puaskan diri kalian. Mumpung ada gratisan," Alberto melirik pada lima anak buahnya.


Ke lima anak buahnya segera menghampiri Sherlyn dengan tampang wajah menyeramkan. Hingga Sherlyn panik dan ketakutan.


"Mau apa kalian, jangan mendekat!" Sherlyn yang sedang terikat di kursi ketakutan.


"Kami ingin sejenak mengajakmu bersenang-senang, mumpung ada yang gratisan," kata salah satu body guard.


"Ya sudah, aku keluar dulu ya. Jika kalian telah selesai bersenang-senang, lekas kabari aku." Alberto akan melangkah keluar pintu.


Namun Sherlyn berteriak memanggilnya, hingga Alberto mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Tunggu, jangan pergi dulu. Tolong singkirkan mereka dari hadapanku. Aku ingin berkata sesuatu padamu!" teriak Sherlyn seraya ketakutan.


"Baiklah, kalian pergilah dulu." Alberto membalikkan badan dan melangkah menghampiri Sherlyn. Sedangkan para anak buah Alberto keluar semua dari tempat itu.


********


Mohon maaf jika karya masih remahan rengginang karena tahap belajarπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2