
Hari ini cindy bersama putri mamanya jeon pergi kekantor jeon, putri mengumumkan pada semua karyawan bahwa saat ini perusahaan jeon diambil alih oleh cindy dan diawasi oleh putri sampai jeon sembuh dari sakitnya.
Semua karyawan itu merespon dengan baik, karna selama ini mereka suka dengan cindy dan kebaikan juga keramahanya. Mereka setuju bahwa perusahan itu dipimpin oleh cindy meskipun sudah ada direktur utamanya dan umurnya juga masih sangat muda untuk pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran itu, namun itu bukan masalah kecil buat cindy, dia tetap bersemangat.
Walaupun berat menjalankan kuliah sambil bekerja dan juga mendesign tiap hari dan tiap malam, namum cindy tetap menjaga kesehatanya dibantu oleh mamanya yang selalu mengingatkan untuk makan, minum obat dan istirahat secara teratur, karna cindy mempunyai riwayat sakit lambung dan magh.
Cindy menjadi orang yang sangat berbeda dari sebelumnya, dia sangat bekerja keras demi jeon, dia pun mengubah jadwal kuliah nya menjadi weekend yang hanya ngampus dua hari saja dalam seminggu.
Cindy mengikuti kursus bahasa inggris dan juga kursus mengemudi demi membantu pekerjaanya. Walaupun jadwalnya sangat padat, tapi tiap hari dia menyempatkan diri untuk menjenguk jeon walaupun hanya sebentar.
_
Empat bulan berlalu..
Cindy menyelesaikan kedua kursusnya. Lalu dia membuat sim untuk berkendara sendiri, karna umurnya sudah 18 tahun setelah dia ulang tahun dua bulan yang lalu, dia merayakanyan ulang tahun dirumah sakit dengan membawa kue dan meniup lilin disamping ranjang jeon yang masih belom sadarkan diri itu.
Saat ini cindy sudah bisa mengendarai mobil sendiri, dia selalu menggunakan mobil jeon kemanapun dia pergi. setelah pulang kerja, dia mengajak mamanya untuk menjenguk jeon kerumah sakit. Saat itu hanya ada mama jeon dan jennie yang menjaganya.
"Nak cindy? Jesica? Kalian kemari lebih awal dari biasanya?" Sapa putri dengan ramah melihat kedatangan cindy dan mamanya.
"Iya tante, soalnya ada yang ingin cindy bicarakan sama jeon." Sahut cindy sambil melangkah dan duduk disamping ranjang jeon.
"Cindy, sudah hampir lima bulan jeon dirawat disini, sampai sekarang belum ada tanda tanda untuk dia bangun, tante kasian sama kamu yang harus bekerja keras menggantikan jeon, bagaimana kalau kita membawanya keamerika untuk berobat disana, mungkin dia bisa pulih lebih cepat dengan kecanggihan alat mereka." Putri mengutarakan pendapatnya pada cindy karna sudah tidak sanggup melihat jeon yang masih terbaring.
"Tapi nanti siapa yang akan menjaganya disana, aku gak mungkin ninggalin kerjaan dan kuliah disini, bukankah tante juga sibuk?." Sahut cindy dilema dengan keputusan itu.
"Tante bisa meninggalkan kerjaan karna ada om kamu yang bisa memantaunya. Gimana menurut kalian?, tapi tante juga harus bicarakan ini sama keluarga terlebih dahulu. Kalau mereka setuju, maka kita bisa membawa jeon ke amerika."
"Tante, kebetulan lusa aku ada pertemuan bisnis dengan clien diamerika, kita bisa berangkat bareng jika jeon akan dibawa kesana. Lagian, aku baru pertama kalinya keluar negri, jadi aku butuh teman untuk memberi petunjuk." Cindy merasa sedikit lega setelah tujuan mereka sama.
"Em,, aku telpon stev dulu deh, biar lebih cepat, jika dia setuju, maka tante akan segera urus surat-surat yang diperlukan." Putri pergi dari ruangan itu sambil menggenggam hp ditanganya,
Saat diluar ruangan, dia menghubungi stev dan menceritakan pendapatnya. Ahirnya stev juga setuju kalau jeon dibawa keamerika.
__ADS_1
Putri kembali masuk dan memberitahukanya pada cindy.
"Nak cindy, sukurlah om kamu menyetujuinya. Lusa kita bisa berangkat bersama. Tante urus surat-suratnya dulu ya." Dengan tergesa-gesa, putri pergi dari ruangan itu untuk mengurus berbagai hal.
"Kak, jika kalian semua pergi, aku akan sedih, dan akan sangat merindukan kalian, maaf aku tidak bisa ikut, karna aku harus sekolah, tapi aku akan mendoakan yang terbaik buat kesembuhan kak jeon." Tutur jennie sembari menangis merangkul cindy saat mereka akan pergi meninggalkanya dalam waktu yang lama.
"Dek, kita pergi untuk kembali, disini ada tante bianca dan om stev, juga om shine yang akan menemanimu, oh iya ada oma juga kan, jadi kamu gak perlu sedih." Cindy mengusap kepala jennie yang tengah tertunduk sedih.
_
Dua hari kemudian, mereka pergi ke amerika, putri dan cindy yang menemani jeon, diantar oleh stev dan shine yang juga ikut keamerika tapi setelah itu mereka kembali lagi.
Saat diamerika, jeon mendapatkan perawatan dengan alat kecanggihan mereka.
Setelah diperiksa, seorang dokter menyatakan bahwa ada pergeseran saraf kecil pada otak belakang jeon yang menyebabkanya susah untuk sadar, padahal keadaanya sudah stabil, bahkan lukanyapun sudah sembuh.
"Dok, bagaimana? Apakah kita harus melakukan oprasi?" Tanya putri dengan cemas saat mendengar penjelasan dokter.
"Tante, lebih baik kita jangan melakukan oprasi dulu untuk jeon.
Dokter! Lakukanlah pengobatan yang terbaik dan termahal untuk kesembuhan jeon, jangan dioprasi dulu, aku lebih baik menunggunya sadar bertahun-tahun dari pada aku harus melihatnya hilang ingatan dan melupakan kita semua." Ujar cindy cemas, ia sangat takut jika jeon akan hilang ingatan dan melupakannya.
"Baiklah, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien, kalau begitu saya permiai dulu." Dokter itu berlalu, membawa beberapa dokter keruangan jeon untuk melakukan pengobatan yang intensif.
"Cindy, kita berdoa saja yang terbaik buat jeon, tante mengerti dengan perasaan kamu, tante juga gak mau kalau jeon hilang ingatan." Putri merangkul cindy yang sedang duduk lemas sambil menangis tersedu-sedu.
"Tante, aku merasa sangat bersalah pada jeon, aku menyesal, sangat Menyesal. Hikss.."
"Cindy.. Ini bukan salah kamu, ini sudah jalan takdir, lagian lucy sudah mendapatkan balasan atas apa yang dia lakukan." Putri berusaha menenangkan hati cindy yang gundah dan sedih karna menyalahkan dirinya sendiri.
"Gak, dia belum mendapatkan balasan yang setimpal." Cindy beranjak bangun dari duduknya, dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon polisi yang ditugaskan untuk mengawasi lucy.
Cindy meminta polisi itu untuk membuat lucy merasakan kesakitan didalam penjara, buat dia merasakan hidup seperti dineraka. Cindy benar-benar dendam pada lucy.
__ADS_1
Keesokan harinya, cindy harus pergi karna ada urusan bisnis untuk menggantikan jeon. Walaupun baru pertama kalinya dia menghadiri rapat diluar negri, tapi dia tidak gugup sama sekali, keberanianya sangat kuat, rapat itu berjalan lancar dibawah arahan cindy.
Cindy merasa sangat puas dan senang karna bisa melakukan pekerjaan dengan hasil yang memuaskan. Ahirnya mereka bekerja sama dengan cindy untuk membangun perusahaan perhiasan di new york.
Kabar baik itu membuat cindy tidak tahan lagi untuk memberitahunya pada jeon. Tapi lagi-lagi dia harus kecewa melihat jeon terbaring diam saja. Dia hanya bisa berbagi cerita pada putri.
"Nak, kamu memang hebat! Tante bangga sama kamu, jika jeon tau, dia pasti senang melihat kamu sukses dalam pekerjaan kamu." Putri mendekap cindy yang tertunduk sedih sambil menggenggam tangan jeon.
"Tante, kita harus menunggu berapa lama lagi, aku sudah merindukan jeon. Minggu depan ulang tahunnya, tapi gimana kalau dia masih belum sadar juga.?"
"Kita harus sabar dan berdoa, dokter sedang menanganinya, mudah-mudahan dia sadar secepatnya."
_
Sementara itu. Seorang polisi masuk kadalam sel untuk melihat keadaan lucy yang sedang terpuruk kesakitan dan kedinginan dengan siksaan yang dia berikan. Namun semua itu tidak mengubah lucy untuk berubah menjadi lebih baik.
"Heii kamu, apakah kamu betah tinggal dineraka ini, tapi kamu belum mendapatkan hukuman yang setimpal. Kamu sudah hampir membunuh tiga nyawa." Ujar polisi itu sambil menarik rambut lucy dengan kuat.
"Heh!! Aku gak peduli, kenapa mereka semua tidak mati saja sekalian!! Aku gak peduli apa yang kurasakan saat ini, karna mereka lebih tersiksa dari pada aku." Jawab lucy dengan senyuman jahatnya.
"Dasar manusia biadab!, bukanya berpikir untuk berubah, malah mendoakan orang cepat mati. Kamu saja yang mati sana!! Sudah salah tapi kayak gak punya dosa!!" Polisi itu menghantamkan pukulan dengan mencambuk belakangnya.
"Ahhh!!!!.. Sakit!! Liat saja kalian, jika aku sudah keluar nanti, aku akan membalas kalian semua. Termasuk kamu polisi jahanam!!!" Teriak lucy sambil menahan sakitnya.
Polisi itu kembali mencambuknya dengan kesal.
Lucy hanya pasrah dan tertunduk tanpa menangis sedikit pun, hatinya benar-benar keras. Yang ada dipikiranya hanyalah dendam tanpa memikirkan keadaanya sendiri.
Tubuhnya sudah kurus dan dipenuhi luka-luka disekujur tubuh. Tapi semua siksaan itu sama sekali tidak bisa mengubah sifatnya. Bahkan dendamnya makin bertambah.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1