Pembalasan si Gadis Cantik

Pembalasan si Gadis Cantik
J & C


__ADS_3

Siang hari itu, jeon dan jennie makan siang bersama dirumah cindy. Setelah selesai makan, jeon dan jennie mengajak cindy kerumahnya.


Kebetulan hari itu putri dan mamanya sedang berada dirumah. Saat jeon membawa cindy kerumahnya, putri sangat senang dan menyambutnya dengan hangat.


"Cindy?? Kamu apa kabar sayang? Sudah lama sekali kamu tidak main kesini. Apa kamu sudah pulih?" Sapa putri merangkul cindy.


"Aku sudah baikan tante, terimakasih tante selalu menyempatkan diri menjengukku dirumah sakit. Oh iya. Dimana oma?."


"Mari masuk dulu, oma ada didalam." Putri membawa cindy masuk dan bertemu oma jeon itu.


"Cindy? Kamu sudah sehat? Banyak hal yang terjadi padamu, oma mengetahuinya dari jennie. Semoga dengan kejadian yang menimpamu, membuat kamu lebih dewasa lagi ya nak." Ujar oma sembari merangkul cindy.


"Makasih banyak oma, aku sangat bahagia atas dukungan kalian.


Kalianlah penyemangatku. Oma sendiri bagaimana?" Sahut cindy menatap oma.


"Oma baik-baik saja, jangan cemaskan oma. Oma hanya minta satu dari kalian.


Oma kan sudah tua, tidak lama lagi, mungkin oma sudah dijemput ajal, sebelum oma pergi, oma mau melihat kamu dan jeon hidup bahagia dalam pernikahan."


"Oma ngomong apa sih? Kita masih muda! Masih banyak yang harus kita gapai, lagian cindy belum tentu mau nikah sama aku." Sahut jeon mencela oma sembari melirik cindy.


Cindy hanya tertunduk malu. "Oma, cindy doa kan semoga oma panjang umur, supaya nanti oma bisa melihat jeon menikah bahkan punya anak." Tambah cindy.


"Apakah kamu mau jika nanti jeon menikahimu, dia sudah mapan, walaupun umurnya baru 19 tahun. Tapi dia sudah mempunyai perusahaan sendiri, jangan ragu dengan cintanya." Timpal oma meyakinkan cindy.


"Oma. Jodoh itu tidak ada yang tau, walau nanti aku dan jeon berniat menikah, tapi kalau bukan jodohnya, mau gimana?" Sahut cindy.


"Iya oma.. Karna dia gak suka sama aku, sudahlah, jangan bahas soal pernikahan. Hanya aku yang mencintai dia. Aku gak yakin dia juga mencintaiku." Sambung jeon dengan rasa sedikit kecewa.


"Bukan seperti itu jeon, hanya saja kita gak tau kedepannya seperti apa. Tapi akuu.." Cindy menghentikan ucapanya dengan ragu.


Jeon mendekati cindy dan menariknya menjauh dari mama dan oma nya.


"Katakan apa yang mau kau katakan." Ujar jeon menatap cindy dan memegang kedua pundaknya.


Cindy tertunduk malu. "Em.. Gak ada. Aku gak bilang apa-apa kok." Jawab cindy ragu.


"Hmm.. Baiklah.. Ayo kita berkumpul lagi sama mereka." Jeon kembali menarik cindy dengan lembut.


Siang itu cindy terlihat sangat bahagia bercengkraman bercanda gurau bersama keluarga jeon hingga sore hari menjelang. Jeon turut bahagia melihat cindy kembali ceria dan tersenyum.


"Cindy, sudah hampir gelap, mari kuantar kamu pulang." Ujar jeon.


"Baiklah.. Tante, oma, dek jennie. Aku pulang dulu ya, sampaikan salamku buat om stev." Cindy merangkul mereka satu persatu. lalu ia pergi bersama jeon.


Didalam perjalanan, jeon mencari jalan memutar hingga cindy merasa begitu lama dalam perjalanan pulang.


"Jeon, kurasa kita sudah lumayan lama dijalan, kok belum sampai ya, apakah kita tersesat?" Tanya cindy bingung.


"Em.. Gak tau juga ya, aku aja bingung, aku juga gak ngenali jalan ini." Jawab jeon sembari tersenyum.


"Jeon?? Kamu beneran gak tau jalan ini? Serius ah, jangan buat aku takut?" Cindy makin bingung sembari melihat keluar kaca jendela mobil.

__ADS_1


"Nggak kok, aku sengaja ambil jalan yang memutar, supaya bisa lama berdua sama kamu hehe.. Maaf ya." Jeon mengacak rambut cindy dengan gemas.


"Kamu apaan sih, aku udah takut banget, kirain kita tersesat beneran. Lagian hari sudah gelap gini."


"Udah, biasa aja mukanya.


Nah. Kita sudah sampai. Ayo turun. Tunggu disini, biar aku bukain pintunya." Jeon segera turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu mobil untuk cindy.


"Jeon. Bukankah ini kantor kamu? Kenapa kamu membawaku kesini? Bukankah kita akan pulang, aku takut orang tuaku cemas." Ujar cindy sembari turun dari mobil.


"Disinilah kita memulai permasalahan dan kesalah fahaman itu, maka dari itu aku mau kita menyelesaikanya disini juga. Ayo masuk. Kamu tenang saja, aku sudah minta izin sama orang tuamu." Jeon menggenggam tangan cindy dan membawanya masuk kekantor.


"Tapi ini sudah malam jeon, karyawan kamu juga sudah pada pulang kan." Sahut cindy sembari mengikuti langkah jeon.


"Gak apa-apa.. Masih banyak karyawan yang lembur. Kantor ini gak pernah sepi bahkan sampai pagi." Jeon mengajak cindy pergi keruangan pribadinya.


"Nah, kita sudah tiba, ayo masuk! sejak aku pulang dari paris, aku belum pernah ngantor. Kau tau? Aku sangat merindukan ruangan ini bersama kamu. Ayo duduk."


Mereka duduk saling barhadapan.


Jeon meraih tangan cindy dan menggenggamnya.


"Cindy. Masalah yang kemarin sudah selesai, dan sekarang, aku minta kamu kembali lagi kekantor ini. Apakah kau bersedia?" Tutur jeon menatap mata cindy dengan sungguh-sungguh.


Cindy tertunduk. "Em.. Iya.. Aku bersedia." Jawab nya pelan.


"Aku senang sekali. Makasih ya cindy." Jeon menepuk lembut kepala cindy.


Setelah 30 menit, jeon kembali lagi dengan tangan kosong.


"Jeon? Kamu lama sekali, tapi kok kamu gak bawa apa-apa. Apakah terjadi sesuatu padamu?" Tanya cindy cemas.


Jeon mendekati cindy perlahan. "Iya, sudah terjadi sesuatu padaku, dan aku takut akan hal itu, tapi maaf sudah membuatmu cemas dan sudah menunggu lama.


Aku akan membawamu untuk makan malam sekarang. Ayo ikut aku." Jeon meraih tangan cindy dan membawanya keuar dari ruangan itu.


"Tapi katakan dulu apa yang sudah terjadi padamu?." Ujar cindy sambil melangkah mengikuti jeon.


"Sudah, jangan banyak tanya." Jeon terus menarik tangan cindy dan terus berjalan ketempat yang tidak dikenali cindy, membuat cindy bingung dan bertanya-tanya.


"Nah, sekarang kita sudah tiba. Bagaimana menurutmu?"


Cindy kaget melihat apa yang ada didepan matanya. Jeon mengajaknya keatas balkon kantor, balkon itu dihias dengan indah, banyak bunga mawar ditiap sudut balkon, meja makan yang dihiasi lampu lilin yang terang, dan hidangan makan malam yang sudah tersaji diatas meja dengan dua kursi yang berhadapan.


"Kok bengong, kamu kaget? Ayo sini duduk." Jeon merangkul cindy mendorongnya perlahan dan membukakan kursi untuknya.


"Jeon, aku bingung, sebenarnya ada apa ini?" Tanya cindy sembari duduk.


"Maaf ya kalau tadi aku meninggalkan kamu cukup lama, sebenarnya aku sedang menyiapkan ini dibantu oleh staf kantor. Tapi, apa kamu menyukainya.?"


"Jeon.. Aku sangat menyukainya, tapi harusnya kamu gak perlu menyiapkan ini semua."


"Sttt!! Dilarang berkomentar." Jeon meraih tangan cindy dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Cindy, aku tidak keberatan menyiapkan ini untukmu, aku hanya ingin menikmati waktu berdua bersama kamu, karna sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia."


Jeon mengambil setangkai mawar merah dari dalam vas bunga itu. "Cindy kamu sudah tau dengan perasaanku kan? Jika kau menerima perasaanku, ambilah mawar ini sebagai jawabmu. Tapi kamu boleh membuangnya jika kamu tidak menyukaiku." Jeon manatap mata cindy dengan senyuman.


Dengan tertunduk dan mata terpejam, perlahan tangan cindy meraih bunga yang diberikan jeon, lalu dia mencium mawar itu sembari tersenyum.


"Cindy?? Kamu menerima mawar nya.!? Ahh aku sangat senang, itu berarti kamu sudah mengakui perasaanku terhadapmu. Tapi bukan berarti dengan mawar ini kita sudah pacaran loh."


Cindy kaget dan manaruh mawarnya dimeja.


Dengan tersenyum manis, jeon kembali meraih tangan cindy.


"Karna... Yang akan membuat kita bersatu adalah ini." Jeon mengularkan kotak kecil berbentuk mawar merah itu, lalu membukanya dihadapan cindy.


"Cincin?? " Cindy kaget sekaligus terharu melihat cincin mungil dari jeon yang berhuruf C yang dibuat dari berlian murni.


"Iya, ini cincin yang aku buat sendiri selama diparis. cindy! apakah kamu mau menjadi bagian dari hidupku? Aku tidak hanya ingin menjadikan kamu pacar, tapi aku juga ingin menjadikan kamu istri dan belahan jiwaku. Aku ingin suatu saat kita menikah jika kamu sudah benar-benar siap. Tapi yang pasti kita jalani saja dulu dengan tahap pacaran. Apakah kamu mau jadi pacarku?" Jeon memegang pipi kiri cindy sembari menggenggam tanganya.


"Jeon, aku sangat terharu, aku sangat bahagia, dan aku sangat berterimakasih karna kamu telah melindungiku sejak kita SD dulu. Kurasa kamu pun tau apa yang aku rasakan, dan bagaimana perasaanku terhadapmu, sejak kamu pergi dariku 10 tahun lalu, aku selalu berharap bisa bertemu kembali denganmu, dan sekarang aku sangat bersukur bisa melihatmu kembali.


Aku,, sangat bahagia bersamamu, aku juga mencintaimu." Cindy menjawab pertanyaan itu dengan meneteskan air mata bahagia.


Jeon mengusap air mata cindy dengan jemarinya. "Nangis bahagia itu boleh, tapi jangan sampai sebanyak ini. Terimakasih kamu sudah menerimaku. Aku sangat menyayangimu."


Jeon mengambil cincin itu dan melingkarkanya pada jari cindy. Lalu dia berdiri dan mencium kening cindy.


Jeon berjalan mendekati cindy dan berdiri dibelakang kursinya. "Cindy, sekarang kita sudah resmi pacaran, apakah aku boleh memanggilmu sayang." Bisik jeon didekat telinga cindy.


Cindy pun turut berdiri menghadap jeon.


"Bo.. leh." Jawab cindy tertunduk malu.


"Makasih ya sayang, oh iya ada satu lagi." Jeon kembali mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, lalu dia mengeluarkan sebuah kalung berwarna perak.


"Sayang, ini hadiahku untukmu, sebenarnya kalung ini adalah pasangan dari cincin tadi, aku pasangin ya." Jeon melingkarkan kalung itu dileher cindy dengan hati-hati.


"Jeon, terimakasih banyak! Aku gak tau harus bilang apa, aku sangat bahagia bersamamu." Ujar cindy menatap jeon.


Jeon langsung menarik tubuh cindy dan memeluknya. "Sayang, gak perlu berterimakasih, aku melakukan ini untuk membuatmu bahagia. Kau harus ingat, mulai saat ini aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Karna senyumu sangat berarti untuku. Dan kebahagiaan kamu akan jadi tanggung jawabku. Makasih ya sudah membalas cintaku." Jeon mengecup kening cindy dalam dekapanya.


Cindy hanya mengangguk, ia bingung harus mengatakan apa, karna ia sangat bahagia.


Malam itu menjadi malam yang paling bahagia yang belum pernah cindy rasakan selama hidupnya. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah melupakan kejadian malam ini.


Cindy merasa sangat beruntung bertemu pria seperti jeon yang selalu melindunginya dan memberi kasih sayang padanya.


Keduanya terhanyut dalam kebahagiaan, jeon sangat bahagia dan juga lega karna bisa mengutarakan perasaanya yang selama ini dia pendam, dia sangat mencintai cindy, dan akan selalu menjaga orang yang dia sayang itu.


•••


BERSAMBUNG...


Berikan VOTE!😉

__ADS_1


__ADS_2