
Siang hari itu, anak buah shine dari jepang telah tiba dikorea, shine langsung mengarahkan mereka dan membimbing mereka untuk mengatur strategi penyeranganya pada rumah orang tua yogi.
Setelah menyusun siasat, shine dan yang lainya berangkat menuju rumah yogi dengan beberapa mobil yang diambil dari kantor putri.
Stev, putri dan jennie juga menyusul mereka dari belakang.
Setibanya mereka disebrang jalan depan rumah yogi. Mereka memarkirkan mobil dilahan kosong seberang jalan.
"Bos. Penjagaan rumah itu cukup ramai. Apakah orang tua pria itu ada disana?" Tanya seorang anak buah shine.
"Sepertinya tidak ada, aku sudah mengeceknya kemarin. Pria itu tinggal sendirian. Ayoo sekarang kita turun, kerjakan sesuai yang kuperintahkan tadi. Ingat! Jangan menembakan sejata jika tidak mendesak." Tegas shine.
Shine dan anak buahnya keluar dari mobil dan berlari kecil mengepung rumah yogi dengan senjata api yang mereka sembunyikan dibalik baju.
Disisi lain. Cindy yang duduk menghadap jendela itu melihat shine yang baru saja keluar dari mobil disebrang jalan itu.
"Heh!! Ahirnya mereka tiba juga. Tamatlah kamu yogi.!!" Gerutu cindy menyeringai.
"Sepertinya aku harus membantu mereka." Cindy beranjak dari kursinya menuju pintu kamar.
"Heii penjaga!! Tolong buka pintunya!, aku ingin menemui yogi." Cindy mengetuk pintu kamar itu dengan kuat.
"Kami tidak bisa membuka pintu ini, tapi kami akan memberitahu tuan kalau kau ingin menemuinya." Sahut pejaga itu dari luar.
"Baiklah, katakan segera.!"
"Huhh.. untung saja mereka tau bicara bahasa inggris, kalau cuma taunya bahasa korea, aku gak akan bisa berkomunikasi dengan mereka."
Beberapa menit kemudian, yogi datang membuka pintu dan menemui cindy.
"Kau sudah datang? tolong tutup pintunya!" Ujar cindy dengan santai duduk dikursi dan menutup gorden jendela supaya yogi tidak melihat shine dan anak buahnya.
"Ada apa kau mencariku?" Yogi berjalan mendekat cindy.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin ditemani sama kamu disini. Aku suntuk. Bolehkah kamu tetap disini sekalian menjagaku supaya aku tidak kabur. Dan tolong putarkan musik dengan kencang." Dengan santainya cindy menyuruh yogi duduk bersamanya.
Secara tidak sadar, yogi telah masuk dalam jebakan cindy. Diapun memutar musik diponselnya dengan keras. Musik itu bertujuan untuk mengalihkan pendengaran yogi dari kebisingan yang terjadi diluar.
"Huhh.. Terimakasih. Aku sedikit terhibur. Aku bisa berbaring dikursi ini dengan santai." Cindy menyandarkan kepalanya dikursi dan memejamkan mata.
Merasa ada yang janggal diluar rumah, yogi berdiri dan hendak keluar.
"Yogi.!! kamu mau kemana? Apa kamu tidak takut kalau aku mengambil hp kamu ini dan menghubungi keluargaku?" Cindy tetap menahan yogi supaya tidak keluar dari kamar itu sampai shine dan anak buahnya mengalahkan anak buah yogi.
"Aku ingin keluar sebentar." Yogi mengambil hp nya dan akan pergi, namun cindy menahan tanganya dengan kuat.
"Ada apa ini? Kenapa kau menahanku?" Tanya yogi bingung.
"Tetap disini, atau aku akan menusukmu dengan pisau buah ini." Dengan cepat cindy meraih pisau kecil itu dan menodongkannya didekat perut yogi.
"Apa apaan ini? Kau pikir aku takut hanya dengan pisau buah itu?. Lepaskan tanganku.!!" Yogi menepis tangan cindy yang mencengkram tangannya dengan kuat.
"Haha.. Yogi.. Yogi.. Aku hanya bercanda, kamu sudah terlihat panik gitu. Apa kamu tidak menyimpan senjata api dalam saku mu?" Cindy melepaskan tangan yogi dan berjalan perlahan menuju pintu.
Yogi hanya diam dan bengong.!
Perlahan cindy membuka pintu kamar itu.
"Kau mau kabur?. " Ujar yogi menatap sinis wajah cindy.
"Kabur? Kenapa aku harus kabur?, aku hanya membuka pintu dan keluar sebentar." Cindy melempar pisau buah itu kelantai kamar.
__ADS_1
Cindy melirik sekitar, tidak ada lagi orang yang berjaga didepan pintu kamar itu. Cindy menyeringai kecil.
"Sepertinya ayah shine sudah berhasil." Gumam cindy tersenyum.
"Cindy!! Kembali kamu kesini.! Penjaga!! Bawa dia kemari." Teriak yogi dari dalam kamar.
"Maaf yogi!" Dengan cepat, cindy menutup pintu kamar itu dan langsung menguncinya dari luar, mengurung yogi didalamnya.
"Heii pengawal!! Cepat tangkap gadis jahanam itu.!! Kamu gak akan bisa kabur cindy!!! Penjagaan diluar sangat ketat.!!".Teriak yogi sambil menggedor pintu itu dengan kuat.
"Haha.. Yogi.. Yogi.. Kau begitu santai terhadap tawanan kamu. Kupikir anak buahmu sudah pada tewas. Mereka tidak akan datang untukmu." Sahut cindy dari luar kamar.
"Apa maksudmu?? Lihat saja nanti, aku akan sungguh-sungguh membunuhmu cindy!!" Teriak yogi dengan kesal.
"Silahkan saja!! Kurasa kamulah yang akan mati.!! Aku sudah memperingatkan kamu dari kemarin, bahwa keluargaku tidak akan tinggal diam. Tapi kamu tetap menyangkalnya. Kau lihat? Sekarang anak buahmu itu tidak bersuara lagi.".Timpal cindy dengan tegas.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?, kamu tidak akan bisa mengalahkanya." Sahut yogi dari balik pintu kamar.
"Heh!! Kamu itu masih bodoh!! Pikiran kamu masih sempit. Aku mana mungkin bisa melawan anak buah pecundangmu itu. Tapi ayahku dan anak buahnya lah yang akan menghabisi kalian, siap siap kamu akan menerima kekalahan, karna mereka sudah menuju kesini." Timpal cindy dengan suara tegas nya.
"Haha.. Kamu kebanyakan nonton drama ya?? Sejak kapan kamu bisa berubah jadi tegas seperti itu, bukankah dulu kamu selalu menundukan kepala karna takut dan malu pada orang lain. Aku mana percaya pada omong kosongmu itu cindy.
Sekarang buka pintunya.. Atau aku akan menelpon polisi dan melaporkan kamu sebagai perampok." Yogi tertawa lepas dalam kamarnya seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan cindy.
Perlahan pintu kamar itu terbuka. Kemudian beberapa polisi masuk kekamar itu.
"Nah ini polisinya. Pasti anak buahku yang menelpon kalian kan.?" Tanya yogi dengan bangga pada polisi tersebut.
"Cepat borgol dia.!!" Teriak polisi itu pada kedua bawahanya.
"Siap!!"
"Heii apa apaan ini, yang seharusnya kalian tangkap itu adalah cindy, dialah yang mengurungku dikamar ini? Dia mau merampok rumahku. " Teriak yogi sambil berontak melepaskan cengkraman tangan polisi.
Lalu cindy masuk bersama shine, stev, putri dan jennie.
"Siapa yang mau merampok?? Bukankah kamu yang mengurungku selama tiga hari ini?" Cindy mendekat pada yogi dan menatapnya dengan tajam.
"Shine?? Kalian??!! Tidak mungkin, bagaimana bisa kalian menemukan rumahku??" Yogi kaget melihat keberadaan shine dan stev disana.
Pakkk!!
Cindy menampar yogi dengan kuat.!!
"Umur kamu baru 21 tahun, beraninya kamu memanggil ayah shine dengan hanya menyebutkan namanya saja.
Dia adalah orang tua!!. Heh.!! Bukankah kemarin aku sudah mengatakanya padamu kalau hari ini akan datang.!! Sekarang rasakan bagaimana hidup dalam penjara kembali.!!
Pak polisi.!! Silahkan bawa dia kedalam sel tahanan.!!" Dengan tegas nya cindy memerintah polisi itu untuk membawa yogi.
"Siap nyonya.!! " Ketiga polisi itu bergegas membawa yogi keluar rumahnya.
"Awas kalian semua..!! Suatu saat aku akan kembali membalas dendam pada kalian." Teriak yogi sembari berontak.
"Silahkan saja. Aku akan menunggunya." Sahut cindy tersenyum.
Putri dan jennie langsung menghampiri dan memeluk cindy.
"Sayang, kamu gak apa-apa??" Tanya putri dengan cemas.
"Aku baik-baik saja ma. Untung saja yogi itu orang bodoh, hingga aku berhasil mengurungnya dikamar ini." Sahut cindy tersenyum senang bisa melihat orang yang dia sayang berada didepan mata dan menyelamatkanya.
__ADS_1
"Sukurlah. Sekarang kita balik keapartemen dulu ya." Sahut stev sambil mengelus kepala cindy
"Terimakasih pa, makasih juga buat ayah shine yang sudah banyak membantu. Makasih untuk kalian semua. Aku bisa kuat karna mengharapkan dan menunggu kedatangan kalian." Cindy menangis terharu. Dipelukan mama mertuanya itu.
"Tidak perlu berterimakasih, sudah seharusnya kita saling membantu sesama keluarga. Ayo kita pulang dulu." Putri mengelus kepala cindy.
"Baiklah."
mereka kembali menuju apartemen putri untuk beristirahat setelah mengeluarkan cukup banyak tenaga karna pertarungan hari ini.
"Ma. Aku belum ingin pulang, aku mau menemui jeon di new york. Dia pasti sangat menghawatirkan aku karna beberapa hari ini aku tidak memberinya kabar."
"Cindy, silahkan kamu pergi menemui jeon, mungkin dia juga merindukan kamu. Oh iya, bagaimana bisa pria itu menculik kamu. Tolong ceritakan." Stev bertanya pada cindy dengan penasaran.
"Namanya yogi, teman SDku dan jeon, dan ternyata dia juga cucunya dari tuan kiim, dia ingin membalas atas kematian kakek nya itu, dia ingin melihat jeon dan keluarga kita menderita. Dan dia juga berkomplot dengan lucy saat menculiku malam itu." Jelas cindy dengan penuh amarah mengingat kejadian itu.
"Jadi ternyata dia adalah cucunya tuan kiim.? Heh! Bocah ingusan mau melawan orang tua yang sudah berpengalaman, mau cari mati dia??" Timpal shine dengan kesal.
"Tapi sukurlah dia sudah kembali dipenjara, tapi dimana orang tuanya, apakah mereka tau dengan kelakuan anaknya ini?" Sahut putri.
"Untuk itu biar aku yang menyelesaikan masalah ini hingga tuntas, jika orang tuanya tau atau bahkan mereka yang menyuruhnya, maka aku akan melahap habis perusahaan mereka hingga mati dan tidak akan pernah bangkit lagi. Tapi jika orang tuanya tidak tau, maka aku hanya memberi peringatan pada mereka.
Kalian berempat pergilah ke new york sore ini, kalian juga sudah lama tidak bertemu jeon, kalian temani cindy kesana, untuk masalah lainya biar aku yang menuntaskanya." Tambah shine.
"Oh iya. Ayah, aku ingin lucy kembali dipenjara, supaya dia tidak berulah lagi." Pinta cindy pada shine.
"Kamu tenang saja. Itu hal yang kecil. Aku akan mencari bukti terlebih dahulu." Timpal shine tersenyum pada cindy.
"Makasih ayah."
_
Disisi lain, jeon tengah kebingungan menunggu kabar dari cindy.
"Ya tuhan, kemana dia ini, kenapa berapa hari ini tidak menghubungiku? Aku sangat khawatir padanya." Gerutu jeon sembari bolak balik mengecek hp nya.
Ddrrttttt.. Drtt.. (Telpon masuk diHp jeon)
"Ahh,, mama nelpon". Dengan cepat jeon menjawab telpon itu.
"Halo ma.. Kenapa tidak pernah mengangkat telpon dariku. Kemana saja kalian, dimana cindy? katanya cindy sedang sakit? Apakah sekarang dia sudah sembuh,? Aku sangat menghawatirkanya."
Dengan nada yang panik, jeon bicara dan bertanya tanpa henti.
"Halo sayang, aku istri kamu." Sahut cindy dengan suara lembut nya.
"Sayang,, kamu kemana saja?? Aku sangat mencemaskan kamu. Apa kau sudah sembuh. Kenapa kamu menelpon pakai nomor mama."
"Em.. Maaf,, hp ku sedang abis batre, dan tinggal dirumah, sekarang aku lagi menginap dirumah mama putri. Aku baik-baik saja sekarang, kamu apa kabar? Aku sangat merindukan kamu."
"Sukurlah kalau kamu baik-baik saja, aku juga sangat kangen sama kamu, jangan lagi menghilang tanpa kabar ya, bisa-bisa aku mati berdiri."
"*Iya. Maaf.. Telpon saja kenomor mama ya kalau ada perlu. Aku tutup dulu telponnya..Daah sayang i love u."
"Baiklah.. I love u to*."
Setelah telpon terputus, jeon mengusap wajahnya dengan lega Karna sudah mendengar suara istri tercintanya.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1