Pembalasan si Gadis Cantik

Pembalasan si Gadis Cantik
Strategi


__ADS_3

Malam hari itu, yogi mengantar makanan kekamar cindy beserta buah dan makanan ringan.


Cindy yang sedang duduk santai sambil menatap keluar jendela dan memandangi bulan dan bintang itu dikagetkan dengan kedatangan yogi.


Dengan cepat cindy mengelap air matanya yang mengalir dipipi, karna merindukan suaminya yang jauh dimata.


"Nih. Makan!! " Yogi meletakan makanan itu dimeja didepan cindy.


Cindy hanya melirik makanan itu dengan cuek tanpa bicara.


"Tenang saja, makanan itu tidak ada racunya." Ujar yogi sembari duduk didepan cindy.


"Aku lebih senang jika makanan ini ada racunnya, supaya aku cepat mati, biar kamu lega."


Cindy sebenarnya sengaja memancing yogi mengatakan itu, jujur saja, diapun takut kalau makanan itu ada racunnya.


"Kamu pikir aku akan membunuhmu secepat itu? Sebelum aku melihat jeon menderita. Maka aku akan terus menahanmu disini, kamu tenang saja, aku tidak akan menyakitimu selagi kamu menurut." Timpal yogi terseyum sinis.


Dengan santai, cindy meraih makanan itu, dan menyantapnya dengan lahap.


"Kamu ini santai sekali, apa kamu tidak takut? Kamu adalah tahananku sekarang." Ujar yogi heran sembari memperhatikan cindy yang sedang makan.


"Kenapa aku harus takut.? Aku hanya menjalani apa yang sedang direncanakan tuhan. Apapun yang terjadi, aku harus menghadapinya bukan? Begitupun dengan kamu, Kamu harus menghadapi apa yang akan terjadi nanti." Timpal cindy sembari menghabiskan makanannya.


"Kamu tidurlah, aku akan pergi. Inget! Awas kalau kamu berpikiran untuk kabur, aku tidak akan mengampunimu! Diluar pintu ini ada dua penjaga yang akan mengawasimu.!!" Yogi pergi dan mengurung cindy kembali.


"Mau dua atau berapapun penjagamu itu, aku gak akan takut yogi!! Aku juga tidak akan kabur! Karna aku ingin melihatmu menderita besok!!" Timpal cindy dengan suara kuat.


"Heh!! Baguslah.. Kamu gadis yang penurut. Aku akan menunggu besok, apa yang akan terjadi dengan ancaman kamu itu." Sahut yogi sembari menutup pintu.!


"Dasar bodoh!! Nyawa kamu sudah terancam! Masih sempat tertawa kamu!." Gerutu cindy dengan kesal.


"Setidaknya aku tidak khawatir lagi sekarang, aku yakin ayah shine pasti bisa menemukanku. Aku bisa tidur dengan nyenyak." Cindy berbaring dan menarik selimutnya, lalu dia tidur untuk menyambut esok hari.


_


Disisi lain. Jeon yang sedang galau sekaligus khawatir pada cindy karna dari kemarin tidak ada kabar.


"Ya ampun!! Istriku ini kemana sih?, dia ini selalu membuatku khawatir. Dari kemarin telponku gak dijawab. Apa dia marah padaku? Tapi kenapa??" Jeon bolak-balik menghitari kamarnya sembari memutar ponsel ditangannya, menunggu kabar dari cindy.


"Kenapa perasaanku jadi gak tenang gini. Semua nomor keluarga tidak ada yang bisa dihubungi, dan tidak ada yang menjawab. Bahkan telpon rumah pun tidak ada yang angkat. Apakah pembantu dirumah tidak ada? Ah.. Aku cemas sekali. Aku akan telpon kerumah lagi."


Jeon tak henti-hentinya menelpon beberapa nomor dan melakukanya berulang-ulang.


Setelah kesekian puluh kalinya dia menelpon. Akhirnya telpon kerumahnya terjawab.

__ADS_1


"Ahh sukurlah, ahirnya dijawab juga." Jeon mengusap wajahnya.


"Halo.. ini dengan siapa?" Tanya bik jia.


"Bik jia. Ini aku jeon! Bik dimana cindy? Kenapa dari kemarin dia tidak menjawab telponku? Katakan padanya angkat telponya sekarang."


"Maaf tuan, nyonya cindy sedang tidak enak badan saat pulang dari kantor kemarin malam. Dia bilang kalau kita semua jangan memberitahunya karna nyonya tidak ingin tuan khawatir dan pekerjaan tuan akan tergangnggu."


"Ya ampun,, sayang..!


Oh iya bik, bisa panggilkan dia sebentar gak, aku mau ngomong, aku ingin mendengar suaranya."


"Maaf tuan, nyonya sudah tidur. Karna hari ini dia tidak bisa tidur, nyonya juga bilang kalau dia merindukan tuan, nyonya akan segera menghubungi tuan kalau dia sudah kembali pulih, karna saat ini dia ingin istirahat total, ponselnya diletakan dalam laci."


"Oh begitu! Ya sudah! Besok aku akan telpon lagi, tapi dijawab dengan cepat bik, jangan membuatku menunggu.!"


"Baik tuan."


Setelah jeon menutup telpon, dia berbaring lemas dikasurnya.


"Ya tuhan! Ternyata dia sedang sakit. Apa karna dia merindukanku. Aku jadi ingin cepat pulang untuk memeluknya. Sayang, kamu cepat sembuh ya. Aku sangat menghawatirkanmu." Jeon berbicara sendiri sambil memandangi foto cindy dalam ponselnya.


Disisi lain. Putri dan yang lainya tengah berada dalam penerbangan menuju korea selatan.


"Shine, bagaimana rencana kamu?" Tanya stev yang duduk bersebelahan dengannya.


"Shine, apa kamu sudah menemukan tempat cindy dikurung itu?" Tanya putri.


"Aku sudah mengetahuinya dengan jelas dari sinyal yang dikirimkan cindy. Setelah sampai besok pagi, aku akan mengeceknya langsung untuk mengetahui jumlah mereka. Kalian langsung saja ke apartemen."


"Baiklah. Kamu memang lebih pandai dalam hal ini, kuserahkan padamu. Sekarang kita tidur dulu."


_


Tidak terasa dalam pesawat waktu begitu cepat berlalu.


Setelah tiba dibandara kota seoul, korea selatan, mereka berempat naik taxi untuk menuju perusahaan putri karna ingin mengambil mobil.


"Sayang, mending kamu hubungi dulu orang kantor, supaya mereka bisa menyiapkan mobilnya." Ujar stev pada putri.


"Iya kamu benar. Aku akan menghubungi direktur nam yoon."


Dengan segera putri mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi bawahanya itu.


"Halo nyonya lee. Ada keperluan apa menghubungiku." (Dalam bahasa korea)

__ADS_1


"Tuan nam yoon. Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku saat ini sedang dalam perjalanan kekantor. Tolong siapkan mobilku, aku akan mengambilnya disana."


"Kenapa nyonya tidak memberitahu saat baru tiba disini, biarkan staf yang menjemput nyonya."


"*Tidak masalah, sekarang aku sudah hampir sampai, tolong cepat siapkan mobilnya."


"Baik nyonya*."


Beberapa menit kemudian, putri tiba dikantornya yang sudah dua tahun tidak dia kunjungi.


Mereka berempat langsung masuk dan membawa koper masing-masing.


Salah satu karyawan wanita menghampiri putri yang baru saja masuk kekantor itu.


"Maaf nyonya. Ada apa kalian kemari. Kenapa kalian membawa koper, apakah ingin mencari penginapan? tapi maaf, ini bukan hotel, silahkan kalian tinggalkan kantor ini." Ujar karyawan tersebut.


"Maaf tante. Apakah kamu karyawan baru disini?" Tanya jennie dengan bahasa korea.


"Sayang biarkan saja. Mungkin dia masih baru dan belum mengenal mama." Putri menghampiri jennie dan merangkulnya.


"Ada apa ini ribut-ribut." Tuan nam yoon muncul dihadapan mereka. "Eh maaf nyonya lee sudah sampai. ayo duduk disini." Sapa direktur nam yoon dengan ramah.


"Hei kau.. Cepat beri salam pada nyonya lee dan keluarganya., dia adalah ceo pemilik perusahaan ini. Kamu sudah tidak sopan padanya." Tutur direktur itu pada karyawan tersebut.


"Ah, benarkah?? Kalau begitu saya minta maaf, karna saya baru kerja disini, saya benar-benar tidak tau. Maafkan saya nyonya." Karyawan itu membungkukan badanya berkali-kali.


"Tidak masalah, karna kamu tidak mengetahuinya." Jawab putri dengan senyuman.


Lalu mereka berkumpul dilobi, berbincang sebentar mengenai perusahaan sebelum putri mengambil mobilnya.


"Maaf tuan, kami tidak bisa lama-lama, karna masih ada kepentingan yang akan kami urus, saya percayakan perusahaan ini pada anda, tolong jangan kecewakan saya. kami permisi dulu, apakah mobilnya sudah diluar.?" Putri dan yang lainya berdiri dan berjalan keluar diantar oleh tuan nam yoon.


"Nyonya lee tenang saja. Saya akan bekerja keras untuk perusahaan ini. Oh iya, itu mobilnya sudah kami siapkan. Kalian hati-hati dijalan." Tuan nam yoon mengantar mereka sampai mereka masuk mobil.


Shine yang mengemudikan mobil itu langsung menuju apartemen milik putri. Memang sudah lama tidak menginjak tanah korea, tapi shine masih ingat betul dengan jalan itu.


Setelah mengantar stev, putri dan jennie ke apartemen, shine memutarkan mobilnya kembali menuju rumah yogi yang sudah ia ketahui tempatnya.


Dengan menggunakan kekuatan jaringan internet, shine berhasil menemukan rumah itu. Dia hanya memantau dari seberang jalan.


"Ternyata tempatnya disini, jalanya lumayan sepi. Penjagaanya cukup ketat. Tunggu anak buahku dari jepang tiba, baru pikirkan caranya untuk menyelamatkan cindy. Yang penting sekarang aku sudah mengetahui keberadaan dan seberapa besar kekuatan mereka." Gumam shine mengintai dari jendela mobilnya.


Setelah mengetahui keberadaan rumah itu. Shine kembali memutar mobilnya untuk pulang keapartemen sambil menunggu anak buahnya datang dan menyusun siasat untuk menyelamatkan cindy.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2