Pembalasan si Gadis Cantik

Pembalasan si Gadis Cantik
Damai itu indah


__ADS_3

Ketika stev tengah bersandar Dipelukan putri. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang mereka.


"Ehem..!!."


Suara itu melepaskan pelukan putri dan steven, mereka menoleh kebelakang, melihat siapa yang datang.


"Shine?? Ngapain kamu kesini.?" Tanya stev heran.


"Em.. Gak apa-apa sih, aku hanya suntuk dan ingin bermain bersama jeon, tapi aku harus menyaksikan pemandangan yang romantis ini." Jawab shine tanpa menatap mereka.


"Loh,, memangnya kalian ini gak kerja,? kok pada pulang sih. Sebenarnya ada apa sama kalian, aneh banget." Tanya putri penasaran.


"Gak ada apa-apa. Aku juga gak tau kalau stev juga pulang, aku sih hanya ingin menemui jeon." Timpal shine menghiraukan pertanyaan putri.


"Hais.. Kalian ini. Ya udah mari masuk dulu, aku akan masak buat makan siang kalian."


"Yeah.! Makasih ya put, aku suka masakanmu." Shine girang dan hampir memeluk putri, namun stev menghadangnya.


"Heii.. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan ya." Ujar stev menahan tubuh shine.


"Iya maaf.. Tadi aku hilaf karna aku senang. Udah ah aku mau masuk, dimana jeon?" Shine berjalan masuk duluan dengan santai seakan masuk kerumahnya sendiri.


"Dia ada diatas sama mama.


Sayang kamu tolong panggilin mama sama jeon kebawah ya." Tutur putri sembari berjalan kedapur.


"Baik sayang." Sahut stev menuju kekamarnya.


"Put, kamu mau masak apa? aku mau ikut dong, biar aku bantu." Shine menawarkan diri untuk membantu putri.


"Emangnya kamu bisa masak?. Udah, kamu duduk manis aja disana sambil menunggu jeon turun. Biar aku sendiri yang masak." Timpal putri menolak dibantu shine.


"Oke.. Baiklah."


Saat tengah bersantai. shine dikagetkan dengan suara bel pintu.


"Shine.. Tolong bukain pintu dong." Teriak putri dari dapur.


"Iya.!!" Sahut shine dengan kuat. "Siapa lagi sih yang datang, jangan-jangan deniel sama charlie. Ganggu aja!." Gerutu shine sambil membuka pintu.


Shine kaget setelah membuka pintu, ternyata ada bianca dan mamanya bernama riana itu.


"Shine??. Kamu kok disini?" Tanya bianca heran.


"Kenapa nanya-nanya?? Aku mau dimana saja terserah aku dong, kamu sendiri ngapain kesini.?" Tanya shine cuek.


"Shine.. Siapa yang datang?!" Ucap mama rani dari dalam setelah turun dari kamar stev.


"Ada tamu gak diundang bik." Jawab shine singkat. "kalian, ayo masuk." Ajaknya dengan tatapan dingin.


"Bianca?? Tante riana??" Ucap stev heran karna sudah lama tidak bertemu mereka.


Mama rani hanya diam, karna dia belum bisa melupakan bahwa riana adalah selingkuhan suaminya dimasa dulu. Dia tidak menyapa ataupun melihat kedatangan mereka, mama rani hanya cuek dan bersikap dingin.

__ADS_1


Putripun muncul dari dapur karna penasaran dengan tamu yang datang.


"Eh.. Bianca.?? Tante riana.?? Silahkan duduk." Sapa putri dengan ramah.


"Em. Tante,, ini ada sedikit buah tangan dari aku dan mama untuk bayi putri." Bianca menyodorkan kotak berisi oleh-oleh untuk jeon pada mama rani, namun mama rani hanya diam.


Putri langsung mengambilnya dari tangan bianca. "Untuk jeon kan?? Sini biar aku aja yang menerimanya." Putri berusaha mencairkan suasana, karna dia tau apa yang sedang dirasakan mama rani saat ini.


Putri berpikir bagaimana caranya supaya mama rani dan ibu tirinya itu bisa bicara berdua dan memperbaiki hubungan mereka.


"Shine, bianca, ikut kita keruang keluarga aja yuk." Putri mengajak mereka untuk meninggalkan mama rani dan tante riana berdua saja diruangan tamu itu.


Stev langsung mengerti apa yang dimaksud putri. "Iya. Kita kesana saja, biar oma-oma nya jeon ngobrol dulu." Sahut stev sembari berjalan kebelakang dengan menggendong jeon.


"Oke.. Baiklah." Sahut shine dan bianca bersamaan, lalu mereka semua menuju keruang keluaraga yang lebih tertutup.


"Nama nya jeon ya.? Boleh aku gendong gak?? " Ucap bianca.


"Boleh dong. Tapi biar putri yang memberikannya, soal nya aku masih takut." Jawab stev. Kemudian putri mengambil jeon dari gendongan papanya itu, lalu memberikannya pada bianca.


"Duh.. Kamu ganteng banget sih.. Mirip banget sama papa kamu.. Uuh.. Lucunya." Bianca begitu gemas dengan jeon.


"Kalau aku yang jadi papanya, pasti dia lebih ganteng dari itu." Sahut shine dengan sombong.


"Diih.. Narsis.. Haha.. Gantengan juga jeon dari pada kamu." Timpal bianca mengejek. Mereka berseteru kecil walau belum terlalu akrab setelah bianca berubah menjadi baik.


Putri lega melihat shine bersama bianca."Em.. Sayang,, bantuin aku masak ya, biar jeon bersama mereka." Ucap putri mengedipkan mata pada stev.


"Sayang, kita mau masak apa. Aku harus bantuin kamu apa.?" Tanya stev bingung setelah tiba didapur.


"Kamu bantu cuci beras saja ya. Tujuan aku ngajak kamu kesini tuh biar shine dan bianca bisa ngobrol berdua, siapa tau mereka bisa balikan, ya kan?." Sahut putri sambil masak.


"Oh gitu!! Yaa siapa tau mereka bisa saling cinta lagi. Dan semoga mama sama tante riana juga bisa menjadi teman. Sayang, semenjak ada jeon, rumah kita jadi ramai ya." Ujar stev sambil mencuci beras.


"Iya,, dia memang anak pembawa kebahagiaan. Eh. Mana berasnya? kalau sudah dicuci taruh sini ya."


"Udah nih, aku mau lap tanganku dulu." Stev menaruh beras yang sudah dicucinya keatas meja.


"Sayang, perlu aku bantu gak." Stev memeluk putri dari belakang saat putri tengah mengaduk masakannya.


"Hm. Gak ada sih, tapi aku gak bisa gerak loh kalau kamu peluk kayak gini." Ucap putri menoleh pada stev dibelakangnya.


"Baiklah.. Akan aku lepaskan kalau kamu menghadap padaku." Bisik stev.


"Hais.. Dasar!" Putri menghadap stev dengan paksa karna lagi memasak. Kemudian stev mencium keningnya dengan lembut.


"Stev, udah dong, ntar masakan aku gosong." Putri mendorong dan melepaskan stev.


"Okelah."


"Dasar suami gaje." Gerutu putri lalu kembali memasak.


Sementara itu. Shine dan bianca tengah berdebat bersama jeon.

__ADS_1


"Kamu udah cocok tuh gendong bayi." Ucap shine membual.


"Aku sih pengennya cepat-cepat punya bayi. Tapi belum ada calon ayahnya. Aku masih menunggu kamu." Sahut bianca melirik shine.


"Hah?? Haha.. Sejak kapan kamu bisa gombal. Aku gak mungkin mau lagi sama kamu. lagian aku belum bisa move on." Timpal shine tersenyum sinis.


"Dih.. Apa lagi yang kau harapkan?. Dia sudah jadi istri orang, kenapa gak mencari yang lain saja. Oh iya shine, kita sudah lama banget ya gak ketemu, sepertinya kamu sangat sibuk."


"Ya.. Aku memang selalu sibuk. Aku bahkan penat bekerja. Makanya aku kesini untuk menemui jeon, karna dia sebagai penghilang rasa lelahku. Kau tau, dia sudah aku angkat sebagai anak, dan sudah disetujui oleh putri dan stev." Jelas shine.


"Oh ya!! Ahh kalau gitu aku mau jadi ibu angkatnya deh. Aku mau dipanggil bunda sama dia, ntar aku minta izin sama stev dan putri." Timpal bianca sambil mencium jeon.


"Dih.. Ngikut aja,! coba deh sini aku gendong jeon, kemarin aku mau gendong tapi gak jadi karna ada deniel dan charlie."


Bianca memberikan jeon pada shine. Tak sengaja mereka berdua saling tatap dengan dalam. Lalu shine tersadar dan langsung mengambil jeon.


"Sayang, kamu ikut ayah dulu ya." Ucap bianca tersenyum.


"Huuh.. Aku sangat berharap suatu saat aku memiliki keluarga seperti ini, kayak putri dan stev, mereka sangat bahagia. Aku iri melihat nya." Ratap bianca tertunduk.


"Tinggal nikah aja kok repot." Ketus shine cuek.


"Iya sih, tapi aku masih menunggu kamu.. Shine kau tau, aku masih menyimpan perasaan untukmu." Ucap bianca menatap mata shine dengan serius.


"Heh. Kayak gak ada orang lain aja." Jawab shine singkat.


"Bukankha kamu juga begitu?.


Ya. Aku tau kamu gak akan bisa mencintaiku lagi, karna perbuatanku dulu sangat tidak baik, tapi kan sekarang aku sudah berubah, aku sudah berusaha menjadi wanita yang baik, kalau kamu masih belum bisa mencintaiku, maka aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku, walaupun dihatimu hanya ada putri." Tutur bianca dengan penuh harapan.


Disaat yang bersamaan, mama rani dan tante riana masih saling diam.


"Emm.. Ran,, apa kau masih membenciku? Aku minta maaf atas kesalahanku dimasa lalu, aku benar-benar menyesali perbuatanku itu, dan sekarang aku sudah berusaha menjadi orang yang baik, aku sangat berterimakasih pada putri karna dia sudah mau mempercayaiku lagi.


Ran, apa kita bisa saling memaafkan dan berteman.?" Tutur riana dengan tatapan sedih.


"Kalau putri sudah memaafkanmu, kenapa dia masih memanggilmu tante.?" Sahut mama rani singkat.


"Dari dulu dia memang tidak ingin memanggilku mama atau ibu, karna baginya ibunya hanya satu. Tapi dia tetap menghormatiku. Ran, tolong maafkan aku ya, kita sudah tua, kita sudah punya cucu, untuk apa kita masih saling berseteru dan bermusuhan. Lebih baik kita berteman, aku janji, aku akan melakukan yang terbaik untuk mu, percaya padaku, aku tidak akan berbuat kejahatan sedikitpun. Karna aku benar-benar sudah sadar, bahwa berbuat jahat itu maka akan mendapatkan kejahatan juga. "Tante riana menggenggam tangan mama rani, sangat berharap dia bisa memaafkannya.


Mama rani terdiam berpikir sejenak.


"Baiklah, aku akan mencoba memaafkanmu, tapi aku belum percaya sepenuhnya padamu. Jangan sampai kau mengulangi kejahatan lagi." Timpal mama rani dengan hati yang luluh.


Riana sungguh terharu. "Terimakasih rani, kau memang baik. Aku sangat bersukur bisa mendapatkan maaf darimu yang pernah aku sakiti. Sekali lagi terimakasih." Tante riana menangis sambil memeluk mama rani. Sedangkan rani, bisa merasakan kesungguhan hati dari riana.


Pemandangan yang indah, hati yang nyaman jika bisa saling memaafkan.


•••


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like & komen🙏

__ADS_1


__ADS_2