
Hampir tiap hari, cindy meluangkan waktu untuk bertemu dengan jennie, karna sampai saat ini, cindy belom mempunyai teman selain jennie.
Dengan senang hati, jennie mengajari cindy cara menjadi model, dan berpakaian modis, tak jarang juga jennie terkadang membelikan beberapa baju untuk cindy yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.
Terkadang cindy juga menemani jennie untuk foto shoot, dan juga shooting iklan. Sampai saat ini, pengetahuan cindy sudah mulai luas mengenai dunia luar, diapun sudah mulai percaya diri.
_
Beberapa minggu kemudian, jeon dan cindy tengah berdiskusi mengenai perhiasan yang dirancang oleh cindy dikantor jeon.
"Aku gak salah pilih kamu sebagai perancang perhiasan untuk pengeluaran baru tahun ini, setelah dibuat, ternyata hasilnya lebih bagus dan lebih cantik." Ucap jeon memuji karya cindy yang baru saja selesai dibuat.
"Kamu sangat berlebihan, aku hanya melakukan yang terbaik, tapi aku sangat puas dengan hasil kerja kerasku, karna kamu sangat menyukainya, semoga nanti perhiasan ini akan laris terjual walaupun baru dibuat hanya 5 set saja." Sahut cindy sambil memperhatikan perhiasannya.
"Besok adalah hari pertunjukanya, dimana pameran ini akan dihadiri oleh banyak kalangan, dari artis, kolektor, dan juga perancang perhiasan dari penjuru dunia, biasanya tiap tahun mereka selalu datang untuk melihat hasil rancanganku, supaya mereka bisa mendapat inspirasi, tapi besok, aku akan mengenalkan kamu sebagai perancang perhiasan ini." Ucap jeon menatap mata cindy dengan senyuman.
"Aku tidak ingin mereka mengenalku, aku hanya mengutarakan karyaku saja, itu sudah cukup. Lagian aku tidak biasa berinteraksi dengan orang banyak." Jawab cindy malu.
"Aku akan ada disampingmu, kuatkan tekat dan keberanian kamu, berusahalah bicara didepan banyak orang, jangan terlihat gugup. Mereka akan memuji karyamu.
Jika mereka tau ini rancangan kamu, pasti banyak dari mereka yang akan meminta untuk membuatkan perhiasan, siapa tau, dari sinilah kamu bisa mengawali karier kamu." Ujar jeon menggenggam tangan cindy dan memberinya keyakinan dan kepercayaan.
Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba seorang sekretaris jeon mengetuk pintu.
"Tuan, apakah saya boleh masuk?" Ujar sekretaris itu dari luar."
"Silahkan."
Sekretaris itupun masuk, tapi dia tidak sendirian, dia mengajak seseorang bersamanya yang ingin menemui jeon.
Jeon dan cindy kaget melihatnya.
"Lucy??. Kok kamu kesini, apa ada keperluan?." Tanya jeon heran.
"Maaf tuan,, dia memaksa untuk kesini, tadi kami sudah melarangnya." Jawab sektretris itu menjelaskan.
"Tidak apa-apa. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu." Ucap jeon pada sekretarisnya.
Lucy berjalan mendekat, sambil menatap tajam wajah cindy. Diapun duduk ditengah mereka.
"Lucy? Apa yang membuatmu datang kemari?." Ujar jeon heran.
"Aku hanya ingin bermain saja, sudah lama sekali aku tidak kesini, kantormu tidak ada perubahan. Eh! Ini perhiasan yang kamu bilang beberapa waktu lalu? Wah ini bagus banget." Ucap lucy langsung mengambil perhiasan didepan cindy.
"Jelas bagus dong, karna yang buat ini orang yang cantik, dan dia adalah cindy, yang pernah aku bilang sama kamu waktu itu." Jawab jeon sambil tersenyum menatap cindy.
Cindy hanya diam tertunduk. "Ternyata dia mengenal jeon juga." Batin cindy dengan rasa takut.
__ADS_1
"Oh, ternyata namanya cindy, selamat ya, kamu berhasil membuat perhiasan yang cantik ini." Tutur lucy tersenyum paksa pada cindy.
"Eh! Sebentar ya, kalian ngobrol saja dulu, aku mau angkat telpon dari mama." Ucap jeon setelah hp nya berbunyi, lalu dia pergi keluar ruangannya untuk mengangkat telpon dari putri.
Disinilah lucy berkesempatan untuk ngobrol dengan cindy.
"Heh.! Sejak kapan kau mengenal jeon? Apa kau menyukainya?, jangan berpikir untuk memiliki jeon, karna hanya aku yang pantas untuk nya!." Tegas lucy sembari menyengkram dagu cindy dengan kuat.
"Uhh.. Sakit kak! Tolong lepaskan. Apa yang kakak lakukan? Kenapa kakak jadi berubah seperti ini. kemana saja kakak selama ini?, apa kakak tau, papa dan mama sangat menghawatirkan kakak." Ujar cindy.
Ternyata Lucy adalah kakak cindy, yang sudah lama tidak pulang itu, namun sifat lucy sangat berbeda dengan cindy, lucy orang yang ramah dan mempunyai banyak teman, tapi dia juga mempunyai sifat iri terhadap orang yang lebih kaya atau lebih cantik darinya, bahkan adiknya sendiri pun dia anggap musuh.
"Aku berubah seperti ini karna kalian!! Karna papa dan mama tidak bisa memenuhi keinginanku, aku lebih bebas hidup seperti ini, mencari uang sendiri untukku sendiri, aku tidak akan mau pulang, walaupun nantinya aku sukses aku tidak akan mengaggap kalian sebagai keluarga." Bentak lucy dengan lantang sembari menaikan sebelah alisnya.
"Apa kakak tidak tau?, hidup kita sudah membaik, papa sudah bekerja diperusahaan papanya jeon, aku juga sudah bekerja disini, dan kita tinggal dirumah tante putri, mamanya jeon, mereka mengizinkan kita tinggal dirumah mereka yang megah, apa kakak tidak mau pulang?. Hiks.. Kami semua merindukan kakak, papa sudah berusaha mencari kakak, tapi tidak bisa menemukan kakak, kami semua sayang sama kakak." Sahut cindy dengan tulus mengeluarkan air mata.
"Benarkah?? Kalau begitu aku mau pulang, tapi inget! Jangan beritahu jeon kalau aku adalah kakak kamu!." Kecam lucy pada cindy.
"Ba.. Baiklah.. Asalkan kakak pulang." Sahut cindy polos.
Tidak lama kemudian, jeon kembali masuk. Semuanya terlihat baik-baik saja, mereka tampak ngobrol sembari tertawa.
"Kalian ngobrolin apa?, kayaknya seru banget!" Ujar jeon sembari duduk disamping cindy.
"Kita cuma bercerita sedikit, sepertinya kami cocok berteman, cindy sangat baik, dan enak diajak ngobrol. Oh iya, jeon! Apakah aku boleh tinggal dirumah cindy?, tadi dia bilang kalau rumah itu milik mama kamu, tadi cindy memintaku untuk tinggal bersamanya karna masih banyak kamar yang kosong, supaya dia ada teman curhat dirumah, lagian aku juga masih ngekos didekat bar." Tutur lucy minta izin pada jeon.
"Eh. Jangan!! Emm.. Itu,, biar nanti aku saja yang telpon papa dan mama, biar aku yang membujuk mereka." Sahut cindy dengan cepat.
"Iya juga, kalau begitu, silahkan telpon sekarang aja." Ucap jeon pada cindy.
Cindy bingung apa yang harus dilakukannya, diapun terpaksa menelpon papanya.
Dengan cepat, rendy langsung menjawab telpon dari anaknya itu.
"Halo sayang, ada apa telpon papa.?"
"Papa sibuk gak,? aku hanya mau minta izin sama papa, ada temanku yang mau tinggal bersama kita, apakah papa mengizinkanya?" Tanya cindy ragu-ragu.
"Cindy, ini bukan rumah kita nak, kalau papa sih mau aja, tapi kita harus meminta persetujuan dari keluarga jeon."
"Saat ini aku sedang bersama jeon dan temanku itu pa, tadi jeon sudah mengizinkan nya, jeon juga yang menyuruhku untuk minta izin sama papa." Sahut cindy.
"Oh begitu, baguslah, kalau begitu papa izinkan temanmu itu tinggal disini, supaya kamu juga ada temennya, kapan kalian akan pulang, nanti papa jemput saja ya."
"Gak usah pa, nanti jeon yang antar kita pulang, udah dulu ya pa, aku mau lanjut kerja lagi. dahh pa."
Cindy langsung memutuskan panggilannya.
__ADS_1
"Yeyy.. Tuh kan, aku diizinin tinggal dirumah cindy, makasih banyakya." Ucap lucy girang.
"Eh jeon, bantu aku ambil pakaian aku dikosan dong, mau ya temenin aku." Ujar lucy sembari meraih tangan jeon.
"Kapan?" Tanya jeon singkat.
"Sekarang aja, supaya ntar gak kesorean pulang nya." Sahut lucy tersenyum.
"Oke deh,, mari berangkat, cindy mau ikut gak?." Tanya jeon menatapnya lembut.
"Em.. Aku disini aja deh, kepalaku agak pusing, aku mau beristirahat sebentar." Jawab cindy tertunduk.
Jeon berpikir sejenak. "Em, lucy, kamu silahkan tunggu aku dibawah ya, aku harus mengurus beberapa berkas dulu." Ujar jeon menyuruh lucy pergi.
"Baiklah, jangan lama-lama ya." Lucy pun pergi tanpa ragu meninggalkan mereka.
Jeon kembali berjalan dan duduk disamping cindy. "Apa kau tidak apa-apa.? Sini, biar aku pijit kepalamu sebentar." Ucap jeon sembari memegang kepala cindy.
Cindy menurunkan tangan jeon. "Aku gak apa-apa kok, aku hanya butuh istirahat, kamu silahkan antar lucy, jangan membuatnya menunggu." Sahut cindy dengan senyuman.
"Sini, ikut aku." Jeon menarik tangan cindy dengan lembut, diapun mendorong lemari buku yang lebar itu, terdapat ruangan yang besar dibaliknya. Dan mengajak cindy masuk kedalamnya.
"Eh, ternyata ada ruangan lagi didalam kantor ini. Bagus banget." Ucap cindy terperangah.
"Iya, ruangan ini khusus untuk aku istirahat, ruangan ini lengkap dengan kasur, tv, dan dapur kecil, ruangan ini sangat rahasia, tidak ada yang tau tentang ini kecuali kamu, ruangan ini aku buat karna terinspirasi dari ruangan kantor papa." Jelas jeon pada cindy.
"Berarti kantor papa kamu juga ada ruangan dibalik dinding seperti ini.?" Tanya cindy penasaran.
"Iya, dan itu masih rahasia sampai saat ini, hanya keluarga kita yang tau. Dan ruanganku ini, kamu pertama kali yang mengetahuinya. Nah, sekarang silahkan tidur disini, dikulkas ada makanan dan minuman, nanti setelah aku dan lucy kembali, aku akan memberitahumu, dan kamu harus sudah keluar dari ruangan ini. Oke." Tutur jeon sambil mengantar cindy ketempat tidur.
"Baiklah, terimakasih jeon."
"Oke,, aku pergi dulu ya." Jeon mengusap kepala cindy, lalu dia pergi mengantar lucy kekosannya.
Cindy kembali duduk dan mengambil hpnya. "Aku harus memberitahukan yang sebenarnya pada papa." Ucap cindy sambil menelpon papanya.
"Halo nak, ada apa lagi menelpon papa."
"Pa, saat ini aku sedang sendirian dikantor, aku ingin memberitahu papa yang sebenarnya. Teman yang aku bilang tadi, dia adalah kak lucy, tapi dia memintaku untuk merahasiakannya dari jeon, dia mengancam tidak mau pulang jika aku memberitahu jeon kalau dia adalah keluarga kita, jadi aku minta sama papa, tolong beritahu mama, kalau nanti kami pulang, jangan memperlihatkan sikap yang berlebihan pada kak lucy, anggap saja Kalian baru pertama kali bertemu, supaya jeon tidak curiga." Jelas cindy.
"Anak itu, dasar tidak berguna, bagaimana bisa dia menghianati keluarganya sendiri. Tapi bagaimana kalau suatu saat jeon mengetahui ini, pasti keluarga mereka sangat kecewa pada kita."
"Aku juga berpikir seperti itu pa, tapi papa tenang saja, aku akan mencari cara dan waktu untuk mengatakan yang sebenarnya pada jeon, supaya tidak ada kesalah fahaman. Jangan lupa bilang pada mama ya pa."
"Baiklah, papa mengerti, nanti papa akan memberitahu mama kamu, ya sudah, papa tutup dulu telponnya. Dah sayang."
"Haiis.. Baru saja merasakan bahagia, tapi sekarang ada aja penghalangnya." Gumam cindy kembali berbaring ditempat tidur.
__ADS_1
BERSAMBUNG...