
Sore harinya, jeon masih tetap berada disamping cindy, menemaninya dan menunggunya sadar. Namun jeon merasakan gerakan pada jemari cindy saat ia menggenggam tanganya.
"Eh,, bibi, kayaknya cindy akan sadar, cepat panggilkan dokter." Ujar jeon pada mama cindy.
"Benarkah? baiklah, bibi segera panggilkan doker." Jesica, mama cindy itu langsung bergegas keluar ruangan untuk mencari dokter.
Tidak lama kemudian jesica kembali bersama seorang dokter. Dokter itu segera memeriksa cindy dengan cepat.
Jeon menghampiri jesica.
"Bibi, baiknya aku pergi saja, aku gak mau saat cindy sadar dia melihatku disini." Ucap jeon pelan.
"Kenapa? Bukankah itu bagus, karna dia bisa melihatmu. Jangan biarkan kesalah fahaman berlanjut terlalu lama." Jawab jesica.
"Bibi, saat ini cindy tidak ingin melihatku, aku gak mau kalau nanti dia makin membenciku, meskipun aku tidak tau alasannya apa. Tapi aku berusaha menghargai keputusannya. Aku pergi dulu. Tolong jangan katakan pada cindy kalau aku menemaninya disini." Jeon pergi begitu saja saat cindy akan sadar.
"Haiss,, bagaimana ini, aku tahu semua masalahnya, tapi aku menutupinya. Ini semua karna lucy. Kasian jeon." Gerutu jesica, lalu dia pergi menghampiri dokter.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?, apakah sudah membaik?." Tanya jesica pada dokter.
"Keadaannya sudah stabil. Sebentar lagi dia siuman, tolong jaga kesehatannya sampai dia benar-benar pulih. Saya permisi dulu"
"Baik dok, terimaksih."
Tidak lama kemudian, cindy membuka matanya, tidak ada orang lain yang dia lihat selain mamanya.
"Sayang,, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaan kamu? Apa masih ada yang sakit.?" Tanya mamanya cemas.
"Ma, dimana aku? Seingatku, aku sedang bersama jennie. Dimana dia?" Tanya cindy bingung.
"Sayang, kamu pingsan saat sedang bersama jennie, dialah yang mengantarmu kerumah sakit, tapi sekarang dia sedang bekerja, nanti sore dia akan datang kesini."
"Ma, apakah tidak ada orang lain yang menjenguku? Sudah berapa lama aku tidak sadar?" Cindy berharap jeon datang menjenguknya.
"Kamu tidak sadar sudah dua hari. Om stev, tante putri dan jennie. Beserta papa dan adik kamu yang menjengukmu. Mereka sangat menghawatirkan kamu."
"Oh.." Jawab cindy singkat dan memalingkan wajahnya.
"Mama tau, kamu pasti mengharapkan jeon kemari." Batin mama cindy tertunduk sedih.
Sore harinya, jennie beserta orang tuanya datang menjenguk cindy dengan membawakannya parsel buah dan beberapa makanan ringan. Mereka menemaninya sembari berbincang hingga malam datang.
Jennie dan yang lainya pulang karna hampir larut meninggalkan keluarga cindy yang sedang menemaninya.
"Ma. Aku capek, aku ingin tidur. Tolong jangan ganggu aku dulu." Ujar cindy sembari menarik selimutnya.
Setelah satu jam, mama cindy memeriksanya. Dia ingin melihat, apakah cindy sudah terlelap atau belum.
Tidak lama kemudian jeon datang saat cindy tengah terlelap.
"Bibi, apakah dia sudah tidur lelap." Tanya jeon berbisik pada mama cindy.
"Iya, sepertinya begitu."
__ADS_1
Jeon menghampiri cindy berjalan perlahan dan duduk dikursi disamping ranjang cindy.
"Paman, lebih baik paman dan dek rio pulang saja, besok paman harus kerja, dan rio akan sekolah. Biar aku dan bibi jesica yang jaga cindy disini." Ucap jeon berbicara pelan.
"Baiklah. Kalau gitu kami pulang dulu, terimakasih ya jeon, kamu baik sekali, maafkan atas sikap cindy yang membuatmu kecewa." Ujar rendy merundukkan kepala.
"Gak apa-apa paman, aku ngerti kok, pasti cindy mempunyai alasan dibalik ini semua." Sahut jeon.
"Sekali lagi terimakasih. Kalau gitu paman dan rio pulang dulu."
Jeon kembali menatap cindy, dimatanya terpancar ketulusan cinta yang mendalam untuk cindy, tapi itu tidak bisa dia utarakan untuk saat ini.
Jeon tertidur disamping ranjang cindy sembari mengenggam tanganya.
Saat subuh tiba, jeon segera meninggalkan rumah sakit sebelum cindy terbangun. Dan itu dia lakukan setiap hari sampai cindy sembuh dan pulang dari rumah sakit.
Ketika cindy keluar dari rumah sakit, dia merasa lega, tapi juga sedih karna dia tidak pernah melihat jeon selama dia berada dirumah sakit.
Tak lupa, jennie juga turut mengantar cindy pulang.
Setibanya dirumah, jennie menyuruh cindy berbaring disofa. Jennie pun memijat kepala cindy dengan lembut.
"Aku senang kakak sudah pulih, inget pesan dokter ya, jangan telat makan dan jangan lupa minum obatnya. Aku gak mau kakak kembali lagi kerumah sakit itu." Ujar jennie sembari memijat kepala cindy.
"Iya.. Makasih yaa. Kamu baik sekali, tiap hari kamu menyempatkan diri menjenguk kakak disela kesibukan kamu sebagai model." Sahut cindy tersenyum.
"Kakak tau gak,, aku bohongin cewek bernama lucy itu, aku bilang kalau kakak menginap dirumahku. Dia percaya aja. Dia juga gak tau kalau kakak sakit, aku sengaja melakukannya supaya dia tidak mengganggu kakak." Tutur jennie.
"Em.. Kak jeon baru saja pulang tadi pagi, mungkin dia belum sempat menjenguk kakak. Besok aku akan mengajak kak jeon kemari. Tapi apakah kak cindy menerimanya?. Aku takut kalau kak cindy mengabaikannya, kasian sama kak jeon nya kan!" Sahut jennie.
"Em.. Aku gak maksa kok dek, kalau dia mau kesini aku seneng, tapi kalau dia gak mau, gak masalah juga." Timpal cindy sedikit kecewa.
Jennie hanya tersenyum mendengar tuturan cindy.
Disaat yang bersamaan. Jeon sedang berada dikantornya. Dia meraih hp nya untuk menghubungi lucy.
"Halo lusy, aku sudah pulang dari paris tadi pagi. Besok kita ketemuan ya, aku ingin membahas soal foto yang kamu kirim kan itu."
"Ah jeon!! Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah tiba dijakarta. Aku sangat senang,, baiklah besok kamu kerumah saja ya, aku tunggu."
"Baiklah, makasih ya lusy. Aku tutup ya telpon nya."
"Oke.! dahh jeon."
"Aku baru tau lucy ini gadis yang seperti ini. Membuatku geleng kepala. Yahhh sampai ketemu besok." Gerutu jeon sembari memutar hp ditangannya.
Disisi lain, lucy begitu bahagia mendengar kedatangan jeon.
"Ahh.. Jeon ternyata sudah pulang, aku kangen sekali padanya. Udah gak sabar menunggu besok." Lucy selalu tersenyum sembari bergegas pulang.
Setibanya dirumah, dia kaget melihat cindy, jennie dan mamanya yang sedang ngobrol.
"Eh ada dek jennie. kamu kesini mengantarkan cindy ya. Oh iya, jeon sudah pulang ya dari paris?, tadi dia bilang, besok dia mau kesini, dia mau bertemu denganku." Lucy sengaja mengatakan itu untuk menyinggung cindy.
__ADS_1
"Terserah kalian, bukan urusanku!!" Ketus jennie cuek.
"Baiklah.. Kalau gitu aku kekamar dulu deh." Lucy pergi menuju kamarnya, senyum bahagia itu tak luput dari wajahnya.
Cindy hanya tertunduk diam, dengan perasaan yang campur aduk, tak tahu apa yang harus dia lakukan dan yang akan dia katakan saat dia melihat jeon besok. Atau memilih tidak menemuinya.
_
Keesokan paginya. Jeon dan jennie mengunjungi rumah cindy. Jeon membawakan parsel buah untuk cindy. Supaya cindy berpikir kalau jeon baru kali ini mengunjunginya.
Lucy yang sudah menunggu kedatangan mereka berdiri didepan pintu menyambutnya dengan ramah.
"Haii jeon!! Kamu apa kabar?, bagaimana perjalanan kamu keparis, apakah menyenangkan?" Sapa lucy dengan ramah.
"Aku baik-baik saja, disana biasa saja, tidak terlalu menyenangkan dibanding saat aku bertemu kamu." Sahut jeon tersenyum.
"Kamu bisa aja. Kau tau?, aku sangat merindukan kamu. Ayo silahkan masuk." Lucy membawa jennie dan jeon kedalam rumah.
"Oh iya, bibi jesica dan kak cindy mana?" Tanya jennie.
"Ada kok., bentar ya. aku panggilin.
tante!! Cindy!! Ada jeon dan jennie nih.." Teriak lucy memanggil mamanya dan adiknya itu.
Tidak lama kemudian jesica dan cindy turun dari kamar cindy. Sekilas wajah cindy masih tampak pucat. Mereka pun duduk bersama.
"Maaf aku baru bisa jenguk kamu, aku cuma bawa buah ini untukmu." Ucap jeon sembari memberikan parsel buah itu pada cindy.
Lucy langsung merampas parsel itu, dan meletakanya diatas meja. "Em.. Maaf, temanku ini gak suka makan buah, nanti biar aku aja yang makan." Sahut lucy sembari menjauhkan parsel itu dari cindy.
"Buah itu untuk kak cindy, kamu jangan coba menyentuhnya apa lagi memakanya." Ketus jennie dengan tegas.
"Eh.. Baiklah.. Aku gak akan menyentuhnya. Oh iya jeon, kamu bilang ada yang ingin kamu katakan kan, mau bahas tentang apa.?" Tanya lucy.
"Iya nih, beberapa waktu lalu, kamu mengirimiku foto dan vidio saat cindy bersama seorang cowok. Apakah itu memang benar?" Tanya jeon pada lucy.
"Iya dong, nih, aku masih nyimpen foto nya, masih banyak kok foto-foto mereka berdua. Mereka sangat romantis, aku jadi iri dengan cindy. Dia mendapatkan pacar yang baik." Jelas lucy sembari memperlihatkan foto cindy diponselnya pada jeon.
"Benarkah itu cindy??" Tanya jeon menatap cindy.
"Em. Iya, aku memang pernah makan berdua sama cowok itu, namanya febri, kita teman SMA, tapi aku gak ada hubungan apapun denganya. Kami bertemu tidak sengaja saat aku mengantar design kekator clien yang ternyata papa nya febri " Jawab cindy dengan tertunduk takut.
"Gak pacaran katamu? Tapi kok mesra banget ya. Aku teman kamu loh, jadi, aku tau semua tentangmu. tapi terserah jeon sih mau nanggapin nya gimana." Tambah lucy.
"Sudah diam!! Aku hanya percaya dengan apa yang kulihat, cindy maafin aku. aku percaya dengan yang kulihat, kamu sudah mengecewakan aku." Jeon terlihat marah dan kecewa pada cindy.
Cindy hanya tertunduk diam, tidak tau harus mengatakan apa lagi untuk membuat jeon percaya kalau dia dan neo hanya berteman, tapi cindy juga lega jika jeon membencinya, karna inilah yang dia inginkan, untuk menyatukan jeon dan kakak nya.
Supaya dengan begini, lucy bisa berubah. Lebih menghargai keluarganya. Ya.. Hanya keluarga yang dipikirkan oleh cindy, dengan mengorbakan perasaanya sendiri.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1