
Saat stev memandangi putri cukup lama, diapun beralih menuju shine yang sedang duduk bersama semua orang.
Steven berjalan mendekat pada shine.
"Shine??" Ucap stev heran, sambil melirik putri.
"Tenang." Jawab shine sembari menepuk pundak stev.
Stev pun mendekati putri kembali. "Sayang.. Kamu lagi sibuk ya? " Tanya stev perlahan.
Putri kaget mendengar suara stev yang sudah duduk disampingnya. Dia pun menutup majalahnya. "Eh, stev?, kamu sudah pulang dari jemput mama?" Timpal putri tersenyum.
"Iya, itu mama dan yang lainya." Stev menunjuk pada keluarganya yang sudah duduk beberapa menit yang lalu.
Lalu mereka berkerumun disamping ranjang putri.
"Nak, mama turut belasungkawa ya. kamu jangan terlalu bersedih. "Ucap mama rani sambil memeluk putri.
"Iya, kami semua turut berduka." Timpal tante shinta dan yang lainya bersamaan.
Putri melepaskan pelukan mama. "Ma, aku gak sedih lagi kok. Aku sudah mengiklaskan kepergian nenek, karna inilah takdir yang akan terjadi, kita tidak bisa melawannya." Sahut putri tersenyum.
Steven pun meraih tangan putri dan menggenggamnya erat. "Sayang, coba katakan, kenapa kamu bisa bangkit secepat ini, dan karena apa?" Tanya stev menatap mata putri dengan serius.
"Em, tadi shine bilang, saat aku belum sadar, bayi ini terus bergerak menendangku, tadi aku menangis saat ingat nenek kembali, tapi shine melarangku menangis, karna bayi ini bisa merasakan kesedihanku. Shine juga bilang, kalau aku gak mau makan, maka bayi ini terus menendang, karna dia kelaparan dan mau minta makan, makanya aku mencoba tidak bersedih lagi.
Dan aku tidak akan membiarkan perutku lapar lagi." Jelas putri dengan wajah polos.
"Ppfffff..." Mereka tertawa kecil mendengar cerita putri.
Shine terlihat malu dan dia memalingkan wajahnya dari tatapan mereka.
"Du du du du duu.." Gumam shine sambil menatap palfon kamar itu.
"Oh begitu.. Jadi kamu sudah makan sayang?" Tanya steven tersenyum.
"Iya, tadi shine yang menyuapiku, tapi sebelum itu aku sudah makan es krim terlebih dahulu.Kamu gak marah kan?." Sahut putri menatap steven.
"Gak dong sayang." Timpal stev tersenyum sembari mencium kening putri. "Shine memang bisa diandalkan."
"Kamu cocok jadi pengasuh, karna bisa membujuk orang, bahkan orang dewasa.. Haha." Ucap deniel dengan suara kecil sambil menepuk pundak shine.
"Apaan sih, aku hanya membujuknya supaya dia tidak menangis lagi."Jawab shine malu.
"Tapi kamu berhasil membuat putri tenang, terimakasih ya baby sitter." Sahut charlie terkekeh.
"Heii siapa yang baby sitter? belom kena tabok tuh mulut ya! aku hanya melakukan yang terbaik untuk putri." Ketus shine garang.
__ADS_1
Deniel dan charlie terbahak mengejek shine.
Sementara itu putri masih berbincang dengan yang lainnya.
"Ma, aku mau pulang, aku gak mau lagi dirawat disini, gak enak banget, aku mau balik kejakarta, aku kangen rumah dan kehangatan bersama kalian. Aku gak mau balik kerumah nenek, karna terlalu banyak kenangan disana." Tutur putri menatap mama rani.
"Iya sayang, sabar ya, tunggu kamu sehat dulu, nanti kamu kelelahan dipesawat. Atau pulang aja dulu kerumah nenek,, lusa atau besok kita balik kejakarta. Malam ini kita nginap tempat nenek kamu ya."
"Boleh juga, mumpung semuanya sedang ngumpul, kita bisa masak bareng, dan makan rame-rame." Timpal putri tersenyum.. "Aku minta kalian semua jangan nginap dihotel ya, nginap dirumah nenek aja semuanya."
"Baiklah, kami akan mengikuti maumu."
_
Sore hari menjelang, putri sudah diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Semua orang bergegas pulang kerumah nenek putri, tak lupa steven juga menelpon adik nya kimberly untuk datang dan bertemu dengan mama setelah lama tidak bertemu.
Malam hari itu mereka makan bersama setelah memasak cukup banyak, putri merasa bahagia melihat semua orang yang menyayanginya berkumpul dalam satu rumah, suara candaan dan tawa mereka membuat putri tersenyum. Makan bersama itu sangat berkesan dihati putri, sampai dia melupakan kesedihannya.
Sehabis makan malam bersama, mereka berkumpul diruang keluarga yang cukup besar sembari bercerita dan bercanda. Tidak lama kemudian shinta dan arman pergi menuju kamar untuk beristirahat. Sedangkan mama rani pergi keruang depan, disusul dengan paman alex,
Putri, kimberly dan yang lainya masih berada diruang keluarga.
"Wah, perut kakak ipar sudah besar ya, aku baru menyadarinya loh." Ucap kim sembari memegang perut putri.
"Iya, padahal baru dua bulan lebih dia disini, aku juga kaget melihatnya kemarin." Sahut shine.
"Anak apaan?? Emangnya kamu bapak nya,? dasar pe'ak!.Ngaku ngaku aja.. Dia itu anak aku.!!" Bantah shine melotot pada deniel.
"Anak kamu apaan.?? Kamu juga ngaku ngaku aja!!" Timpal deniel bersitegang.
"Walaupun bukan anak kandung, tapi aku sudah mengangkatnya sebagai anakku setelah dia lahir nanti." Jawab shine kembali.
"Sudah.. Sudah.. Kalian ini meributkan hal yang tidak penting, anak nya belum lahir juga, anggap aja itu anak kalian semua, biar adil, tapi yang jelas dia juga anak aku. Hehe.." Sahut charlie menyeringai.
"Waa.. Ngajak gelut dia.!! kamu juga sama o'on!" Ketus shine kesal.
"Eh!! Siapa yang kamu bilang o'on? Tua'an aku juga!" Jawab charlie.
"Iya ya.. Maaf deh. Kakak charlie yang terhormat." Sahut shine tersenyum palsu.
"Ngomong-ngomong, gak ada yang rebutin aku kah?" Cela kimberly ditengah perseteruan mereka.
"Eh, iya juga, kimberly makin dewasa dan makin cantik ya. Umurmu berapa dek.?" Ujar deniel.
"Umurku 19 tahun kak, aku baru aja masuk kuliah."
"Wah. Kamu masih muda ya,, boleh lah aku tunggu kamu sampai lulus. Hehe." Timpal deniel menggoda kim.
__ADS_1
"Hei. Apa apaan kamu? Kamu gak cocok buat adiku, jangan berpikir bisa memilikinya, cari saja cewek yang seumuran sama kamu!. Bisa rugi kimberly kalau pacaran sama kamu." Bantah stev dengan cepat.
"Aduh, abang stev ini sensitif amat. Aku kan cuma bilang mau menunggu. Kan belom tau juga mau menunggu apaan." Jawan deniel berbelok-belok.
"Serah lo deh.
Sayang kita keatas yuk, istirahat, kamu belum pulih, besok kita mau balik jakarta. Biarkan manusia gak waras itu ngomong gak jelas." Ucap stev sambil merangkul putri.
"Kim. Kamu pergilah kekamar, kalau gak ada kakak, takutnya mereka akan menggoda kamu." Ucap nya pada kimberly.
"Baik kak." Sahut kimberly.
_
Disaat yang bersamaan, mama rani dan paman alex tengah ngobrol berdua.
"Ran, aku sudah lama tidak melihatmu, saat melihat kamu kayak gini, hatiku jadi tenang, soalnya kemarin aku sempat cemas sama kamu saat dalam pesawat, kamu terlihat sangat khawatir sama putri."
"Kamu apaan sih lex, aku baik-baik saja, yang penting sekarang aku seneng melihat putri sudah membaik. Kamu sendiri gimana?, kamu juga cemas kan sama putri.?" Tanya mama rani
"Iya, aku khawatir dengan kandungannya. Ngomongin masalah kandungan putri, bentar lagi kita akan jadi oma dan opa ya.? Aku sudah tidak sabar menanti seorang cucu." Sahut paman alex.
"Iya, aku juga. Pengen banget gendongnya. si charlie itu kenapa belum menikah. Dia kan seumuran sama stev."
"Aku juga gak tau, dia sendiri belum punya pacar, dia sibuk mengurusi perusahaan, aku juga ingin dia menikah."
Tiba-tiba charlie muncul nimbrung obrolan mereka.
"Lagi ngomongin aku ya.? Papa tenang aja, aku sudah ada tambatan hati dijepang, nanti juga menikah kok, tapi belum waktunya.
Aku permisi dulu, papa lanjut saja ngobrol sama tante rani." Charlie langsung meninggalkan mereka yang masih melongo karna kehadiranya yang tiba-tiba itu.
"Dasar anak itu, ngagetin aja, tiba-tiba muncul kayak tuyul.
Ya sudah, rani, kamu istirahat lah, sudah hampir tengah malam, besok kita berangkat kejakarta bersama dengan putri dan yang lainya. Jangan sampai kecapekan." Tutur paman alex dengan lembut.
"Iya, kamu juga istirahat lah." Jawab mama rani tersenyum.
"Dari dulu kamu gak berubah lex, selalu peduli dan perhatian sama orang, kamu benar-benar baik, andai saja dulu kita tidak berpisah, mungkin kita sekarang sudah..."
"Hei ran!! Kok masih diem dan bengong disitu.? Kamu lagi mikirin apa.?" Ujar paman alex secara tidak sengaja menoleh kebelakang saat dia hendak pergi menuju kamar, namun dia mendapati mama rani tengah melamun dibelakang nya sambil menatap dia berjalan.
Rani tersadar dari lamunanya. "Eh,, gak kok.. Tadi aku lagi mikirin anak-anak. Ya sudah, aku permisi dulu." Mama rani langsung pergi dengan wajah malu.
"Apaan sih dia, aneh banget." Gumam paman alex dengan suara kecil sambil tersenyum tipis. Lalu dia melanjutkan berjalan menuju kamar yang telah disediakan.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG...