
Keesokan harinya, steven dan putri terbang keparis dengan segala perlengkapan yang sudah mereka siapkan.
Mengenai perusahaan dijakarta, steven dan putri sudah menitipkanya pada shine, walau ada direktur dimasing-masing perusahaan, tapi mereka bisa lebih tenang jika shine mengawasinya.
Setibanya mereka diparis, mereka langsung dijemput oleh supir steven yang sudah menunggunya dibandara. Dan mereka langsung menuju rumah sakit tempat nenek dirawat.
Saat masuk keruangan, putri langsung menangis memeluk nenek nya ketika dia melihat nenek tengah terbaring diranjang rumah sakit dalam keadaan tidak sadar, dengan beberapa jarum infus ditangan nya, dan pernafasan dibantu dengan tabung oksigen,
Putri menangis tersedu-sedu, karna tubuh neneknya sudah mengurus, ia menggenggam dan menciumi tangan nenek nya.
Steven mendekati putri dan merangkul nya.
"Sayang, kamu sabar ya, kita do'akan yang terbaik untuk nenek, semoga dia cepat pulih." Tutur stev dengan iba sembari memeluk kepala putri yang tengah duduk disamping ranjang nenek.
"Stev, aku gak tega lihat nenek kayak gini, kenapa nenek harus merahasiakan penyakitnya dariku, kalau aku tau sejak dulu, pasti aku sudah mengobatinya. Hiks.."
"Jangan menyalahkan diri sendiri, itu tidak baik sayang, kita harus tegar supaya bisa melalui cobaan ini." Stev mengelus kepala putri membutanya lebih tenang.
Suara pintu terbuka. Kimberly datang untuk menjenguk nenek, selama nenek dirawat, hanya kim lah yg menemaninya.
"Kak stev?? Kakak ipar? Kapan kalian kesini?, kenapa gak bilang-bilang?" Kim kaget saat melihat kakaknya berada disana.
"Kim?? Kamu kok ada disini.? Atau jangan-jangan kamu sudah mengetahui ini sejak awal, tapi kenapa kamu tidak memberitahu kita??." Ujar stev.
"Em.. Anu.. Maafkan kim kak. Soalnya ini permintaan nenek, dia bilang jangan kasih tau kak putri karna nenek tidak mau kakak ipar khawatir, karna saat ini kakak ipar sedang hamil muda. Makanya aku yang menjaga nenek selama dirumah sakit." Jawab kimberly tertunduk.
Putri langsung beranjak dari duduknya dan memeluk kimberly. "Kim, terimakasih banyak kau sudah meluangkan waktu untuk menjaga nenek ditengah kesibukanmu."Tutur putri dalam pelukan kim dengan linangan air mata. .
"Kak, gak perlu berterimakasih, aku sayang sama nenek, selama kakak tidak ada, nenek selalu memintaku untuk menemaninya, dia sudah menganggapku sebagai cucunya sendiri, dan aku pun begitu, aku sudah menganggapnya seperti nenek sendiri, jadi aku sama sekali gak keberatan akan hal ini."
"Dek, terimakasih ya." Sahut steven sambil menepuk lembut kepala adik nya itu.
__ADS_1
"Iya kak sama-sama."
_
Dua bulan berlalu, hari demi hari dilalui putri dan steven dirumah sakit, tiap hari mereka berjaga disamping nenek, berharap dia cepat pulih dan kembali lagi seperti dulu.
Tak terasa perut putri pun mulai terlihat membesar, karna kandungannya saat ini sudah memasuki usia 4 bulan lebih.
Sore hari, putri dan steven pulang dari rumah sakit untuk mengambil beberapa perlengkapan, sedangkan kimberly yang berjaga menunggu nenek.
Setibanya dirumah, putri terlihat capek dan lemas. Selama dua bulan diparis dia sangat sibuk bolak balik dari rumahnya kerumah sakit, dan setiap hari juga dia menangisi nenek nya yang tak kunjung sembuh.
"Sayang, kamu terlihat lesu, akhir-akhir ini kamu tidak terlalu merawat diri dengan baik, aku khawatir dengan keadaanmu dan bayi kita. Sekarang perut mu mulai terlihat buncit." Steven memeluk putri yg sedang berdiri dikoridor luar kamar nya.
"Aku gak tau stev, aku gak kepikiran kesana, pikiranku tidak bisa lepas dari nenek. Aku merindukan nenek, hiks.." Putri kembali menangis.
"Sayang sudah dong, jangan terlalu sering menangis, hampir tiap hari kamu menangis, lihat mata kamu sudah bengkak, wajah kamu pucat dan terlihat agak kurus. Aku tau perasaan kamu, karna nenek keluarga kamu satu-satunya, tapi kamu harus sabar ya, masih banyak keluarga yang lain, yang sayang sama kamu." Tutur steven sambil mencium kening putri.
"Iya stev, aku gak akan sedih lagi, makasih ya kamu selalu menghiburku, aku minta maaf selama disini aku gak peduliin kamu." Sahut putri menatap mata stev.
"Hm,, makasih sayang, malam ini biarin kimberly dulu yang jaga nenek, aku mau tidur nyenyak dipelukan kamu, aku rindu pelukan kamu." Tutur putri sambil memeluk steven, merebahkan kepalanya dalam dekapan stev.
"Iya sayang, biar aku telpon kim nanti. Ya sudah, kita mandi dulu ya, biar aku mandiin kamu pakek air hangat, rasanya sudah lama banget gak manjain istriku. Ayo masuk, jangan terlalu lama diluar, banyak angin, kasiahan dedek bayi." Stev merangkul putri dan masuk bersama. Kemudian mereka mandi bersama seperti yang sering mereka lakukan sebelumnya.
Putri merasa sedikit tenang dan nyaman setelah mandi, selama disana hatinya selalu tegang dan cemas, namun hanya suaminya lah yang selalu membuatnya tenang.
"Sayang, kamu pergi ganti pakaian dulu ya, abis itu kita makan malam dibawah, bibik sudah menyiapkannya untuk kita." Ucap steven pada putri yang baru saja selesai mandi.
Steven duduk disofa didalam kamar, sambil meraih ponselnya untuk menelpon shine.
Stev memberitahu kabar mengenai nenek putri yang sampai saat ini belum sadarkan diri. Ia juga memberitahu bahwa saat ini seehan menepati janjinya untuk tidak mengganggu hubungan putri dan stev lagi.
__ADS_1
"Sayang, apa shine yang nelpon?" Ujar putri sambil berjalan menuju suaminya itu.
"Iya, aku menanyakan kabar perusahan kita, dia bilang baik-baik saja. Aku pikir seehan tidak akan mengusik kita lagi sayang." Jawab stev sembari meraih tangan putri.
"Bagus lah kalau begitu, aku lega mendengarnya. Sepertinya dia sudah menyerah."
"Hm., aku juga lega sayang, sini.. Duduk sini." Stev menarik tangan putri, lalu duduk dipangkuanya.
"Stev, kenapa tiba-tiba, katanya mau makan malam.?"
"Sebentar lagi sayang, aku rindu saat seperti ini bersamamu." Stev memeluk istrinya itu, menaruh dagunya diatas bahu putri.
"Iya, aku juga kangen dimanja kamu. Aku pengen cepat balik kejakarta, aku juga sudah rindu sama mama.. Ya udah kita makan dulu yuk sayang, dedek bayi nya sudah lapar."
"Oh.. Baiklah,, bayi kita sudah terlihat besar ya, dan sudah mulai menendang nih.. Aku gak sabar pengen lihat wajah nya." Ujar stev sambil mengelus perut putri.
Mereka pun turun dari kamar untuk makan malam. Selesai makan malam, mereka ngobrol dan nonton dikamar sambil duduk santai diatas sofa dengan beberapa cemilan yang menemani.
Stev menarik putri dan merangkulnya tiba-tiba.
"Stev! kau mengaggetkanku!."
"Maaf sayang, aku lagi kangen, apa kau mau kita menyatu? tapi jika kamu tidak lelah. kalau kamu belum bisa gak apa-apa, aku bisa menahanya."
"Hm,, aku rasa aku bisa, sudah lama juga kita tidak melakukannya. Tapi jaga bayi kita ya." Sahut putri tersenyum.
"Baiklah. Kalau begitu, aku gak akan sungkan lagi. "Steven langsung menggendong putri dan meletakanya diranjang.
Malam itu menjadi malam kebersamaan mereka. Setelah sekian lama mereka tidak melakukan itu sejak mereka berada diparis, dan saat ini putri memberi kesempatan pada suaminya itu.
Malam itu berlalu dengan tenang dan nyaman, putri sangat terlelap tidur dipelukan stev. Bahkan dia sama sekali tidak terjaga dari tidurnya. Mungkin dia terlalu lelah karna tiap hari disibukan mengurus neneknya.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG...