
Setiap pagi stev bangun lebih awal dari biasanya. Sebelum dia berangkat kerja, ia bermain dahulu bersama jeon, menggendongnya dan memberinya susu. Sedangkan putri masih tertidur dalam selimut.
Steven mendekat pada putri, dan membangunkannya pelan-pelan.
"Sayang, bangun yuk, bentar lagi aku mau berangkat kerja." Bisik stev ditelinga putri sembari menyiakan rambut yang menutupi wajahnya.
"Emm.. Sayang, jam berapa ini.?" Tanya putri dengan suara kecil sambil mengucek matanya.
"Ini sudah jam 6 pagi.. Ayo bangun, aku mandiin kamu dulu baru berangkat kerja. Kamu masih susah jalan, gak enak kalau nyuruh mama yang memapah kamu kekamar mandi." Ujar stev sembari membantu putri duduk.
"Hm.. Iya.. Ayo, makasih ya sayang."
"Emang perlu ya berterimakasih. apapun akan kulakukan untukmu dan jeon. ayo mandi."
Steven menggendong putri kekamar mandi, dan membantunya masuk ke bathup.
Beberapa menit, putri selesai mandi. sementara stev mengurus jeon.
"Sayang, ayo kita kebawah, nanti kamu dan jeon tidur dibawah aja ya, biar gak susah naik turun, tunggu aku pulang baru kekamar atas." Ucap stev sambil menggendong jeon.
"Iya, sayang, makasih ya." Tatap putri pada mata stev.
"Loh. Kok berterimakasih lagi?" Ucap stev heran.
"Stev, aku gak tau harus bilang apa lagi sama kamu, kamu terlalu sempurna untuku. Kebaikan dan kasih sayang kamu untuku dan jeon tidak bisa diucapkan dengan rasa terimakasih saja. Aku sangat bersukur punya suami pengertian sepertimu." Putri terharu sambil menatap mata stev.
Stev menaruh jeon kembali, lalu dia memeluk putri. "Sayang gak seharusnya kamu bilang kayak gitu. Harus nya akulah yang bersukur punya istri yang sempurna seperti kamu. Gak perlu berterimakasih pada suami, karna inilah kewajiban seorang suami, mengayomi dan menyayangi keluarganya. Yang kita lakukan hanyalah saling melengkapi dan saling berbagi, karna kita saling membutuhkan. Dan aku adalah kepala keluarga, akulah yang melindungi dan membantu kalian."
Stev mengecup kening putri dengan lembut. Kemudian putri membalas nya dengan mengecup pipi suaminya itu.
"Ya sudah kita turun yuk. Kasian jeon belum mandi, nanti minta bantu sama mama untuk mandikan jeon." Stev melepaskan pelukannya dengan putri, lalu kembali mengambil jeon dan menggendong nya.
"Iya, ayo kita turun." Putri berpegangan pada bahu stev, karna belum terlalu kuat berjalan.
"Sayang, kamu pegangan saja dipinggulku, itu lebih mudah untuk membantumu berjalan." Tutur stev.
"Baiklah."
Mereka bertiga turun, lalu stev memberikan jeon pada mamanya.
"Ma. Tolong mandiin jeon ya." Ujarnya sembari memberikan jeon pada mamanya.
"Duhh.. Cucu Oma ganteng nya.. Kita mandi dulu ya." Mama rani gemas mencubit pipi jeon dengan lembut. "Oh iya, stev, ajak putri sarapan dulu ya, makanannya sudah mama siapkan dimeja makan."
"Iya ma..Yuk sayang kita sarapan dulu." Stev menggandeng tangan putri yang berjalan perlahan itu. Diapun membantu putri mengambilkan makanan dan mengisikannya pada piring putri.
__ADS_1
"Sayang, makan yang banyak ya. Biar tubuh kamu berisi lagi kayak dulu." Goda stev sambil tersenyum.
"Stev. Aku bisa ambil sendiri kok. Kamu jangan terlalu manjain aku, ntar aku jadi kebiasaan, kalau aku sudah ketergantungan akan sulit bagiku kalau gak ada kamu."
"Aku bersedia kok kalau tiap hari manjain kamu seperti ini. Lagian aku gak akan kemana-mana, aku akan selalu disisimu setiap hari." Steven tetap mengambilkan putri beberapa makanan.
Putri hanya bisa tersenyum bahagia menatap suaminya itu. Tak lupa stev selalu menyuapi putri dengan manja.
Tidak lama kemudian, mama rani muncul dari kamar mandi setelah selesai memandikan cucunya itu.
"Nah. Sekarang cucu oma sudah wangi, tambah ganteng deh. Ayoo kita pakek baju dulu ya."
Steven dan putri mendekat pada bayinya itu setelah mereka selesai sarapan.
"Wah.. Anak papa wangi banget sih.. Bikin gereget deh." Steven tak hentinya menciumi jeon.
"Sayang. Udah siang. Berangkat sana gih." Cela putri ditengah keasyikannya menciumi jeon.
"Hm. Iya,, aku hampir lupa ngantor kalau udah liat jeon. Ya sudah aku berangkat kerja dulu ya sayang." Steven mendekat pada putri dan mencium kepalanya.
"Ma. Aku berangkat ya." Ucapnya berpamitan pada mamanya sambil berjalan keluar.
"Iya stev, hati-hati." Sahut mama.
mamanya pun dengan senang hati mengajari putri.
_
"Kantor perusahaan steven group"
Setibanya dikantor, stev kaget melihat shine yang sedang duduk dilobi kantor nya.
"Shine?? Ngapain kamu disini pagi-pagi.?" Tanya stev heran.
"Hm.. Kita keruangan kamu dulu." Jawab shine dengan serius.
"Oke.. Tapi kok serius amat.!" Ucap stev bingung.
"Banyak nanya!! Ayo kita keatas." Shine berjalan lebih dulu.
"Nih orang! gak ada sopan-sopannya sama orang yang lebih tua." Gerutu stev mengiringi shine berjalan menuju ruangan stev menggunakan lift.
"Baiklah, kita sudah diruanganku, sekarang katakan apa yang ingin kau sampaikan." Tutur stev dengan serius.
"Oke. Semalam aku melacak berita media korea. Aku mendapatkan informasi bahwa saham putri di 'JD Queen kiim' hanya tinggal 50 persen lagi. Aku khawatir sahamnya akan menurun terus jika tidak segera ditangani." Jelas shine.
__ADS_1
"Sial.! Sebenarnya apa yang diinginkan orang ini. Bagaimana cara kita mengatasinya tanpa diketahui putri. Aku gak mungkin kasih tau dia soal ini." Timpal stev khawatir.
"Benar juga. Hm.. Gini aja, aku akan intip terus perkembangan berita mengenai saham putri, sambil aku mencari tau pelaku nya."
"Ide bagus,, terimakasih banyak shine."
"Baiklah, itu saja yang ingin aku sampaikan, aku pergi dulu. Aku akan mencari tau keberadaan seehan dan kantornya, supaya aku bisa menonjoknya langsung!." Ucap shine geram.
"Emangnya kamu bisa pastiin kalau pelaku nya itu seehan?? " Tanya stev ragu.
"Iya lah.. Siapa lagi kalau bukan si bejat itu. Ya sudah. Aku pergi dulu." Shine meninggalkan ruangan stev dengan tatapan dingin dan kesal karna pikiranya tertuju pada seehan.
"Dimana sih ******** itu berada. Awas aja kalau ketemu gak bakal aku kasih ampun.!" Gerutu shine dalam lift saat turun dari ruangan stev. Kemudian sampailah dia dibawah dan langsung keluar menuju mobil nya.
Setelah shine pergi. Stev menyandarkan kepalanya dikursi kerjanya dengan pikiran kacau.
"Haiss..Aku harus ngelakuin apa ya. Aku bisa saja mengurusnya sendiri dan pergi kekorea. Tapi apa alasanku kekorea?, pasti putri bertanya-tanya nantinya. Aku gak bisa mengatakan ini padanya, bisa-bisa dia nge-drop. Aku juga gak bisa melihat perusahaannya bangkrut gitu aja, sedangkan dia susah payah membangunnya. Ahh!!! Aku pusing.. Mending balik kerja dulu deh." Stev membuka laptopnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk.
Sore hari menjelang.. Stev langsung pulang kerumahnya walau pekerjaannya belum selesai.
"Sayang.. Aku pulang.!" Stev masuk kerumah dengan wajah ramah, dia menyimpan semua masalah dibalik senyumannya.
"Sayang, tumben pulang sore, biasanya pulang malam." Jawab putri sambil mengambil tas kerja dan jas stev.
"Hm.. Aku lelah, aku kangen kalian." Stev mendekap putri dan mencium keningnya, itu membuat pikiran stev menjadi tenang.
"Oh. Baiklah.. Mari kita masuk, jeon sudah menunggu." Putri menggandeng tangan suaminya itu membawanya masuk.
"Sayang apa kamu sudah baikan? Kamu sudah bisa jalan sendiri?" Tanya stev menatap wajah putri.
"Sudah mendingan sih, dan gak sakit lagi. Karna rutin minum obat dari dokter." Jawab putri tersenyum.
"Sukurlah.." Stev dan putri berjalan masuk bergandengan tangan dan menemui jeon.
"Wah.. Anak papa sudah mandi ya.. Wangi banget." Stev menggendong dan menciumi jeon dengan gemas.
"Dia tau banget ya kalau papanya pulang, tadi dia tidur, saat mendengar suara kamu langsung bangun dia." Ucap putri tersenyum menatap bayinya.
"Iya dong, kita kan punya kontak batin, jeon main sama mama dulu ya. Papa mau mandi." Stev memberikan jeon pada putri. Lalu ia pergi kekamarnya.
Putri agak heran dengan tingkah stev, tapi dia tidak mau menduga-duga, dia hanya berpikir mungkin suaminya itu sedang lelah dan butuh perhatian.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1