Pembalasan si Gadis Cantik

Pembalasan si Gadis Cantik
Kabar nenek


__ADS_3

Malam harinya, shine datang kerumah steven lebih awal, dia sudah tidak sabar untuk mencicipi makanan yang dimasak oleh putri. Dia pun disambut hangat oleh papa dan mamanya yang masih tinggal disana.


"Nak shine, mari duduk. Kebetulan putri sedang menyiapkan makanan." Ucap mama rani.


"Iya bibi, makasih. Aku gak akan sungkan lagi kalau gitu."


Steven juga turun dari kamarnya menuju ruang makan yang sudah ramai.


"Wah,, sudah kumpul semua ya. Jomblo ini juga datang lebih awal?." Tutur stev sambil menepuk bahu shine, lalu duduk disebelahnya.


"Apaan sih, gak usah ngejek mentang kamu sudah menikah, nanti aku pulang loh." Jawab shine santai.


"Oh pulang aja. Silahkan!!." Sahut stev sambil membuka tangan nya mempersilahkan shine pergi.


"Gak deh, aku mau makan masakan putri dulu, abis itu aku baru pulang." Jawab shine tersenyum.


"Hm.. Pengen dimasakin juga ya. Makanya cari istri. Haha." Timpal stev terkekeh.


"Sudah.. Sudah. Gak baik bicara didepan makanan, ayo semuanya kita makan." Ucap putri yang baru selesai menyiapkan hidangan diatas meja. "Sayang, sini aku ambilin kamu nasi." Ujar putri sambil mengambil piring stven.


"Eh, aku juga dong!." Shine memberikan piringnya pada putri, karna ingin diperlakukan seperti stev.


Steven langsung menarik piring shine dan meletakanya kembali dengan wajah yang muram.


"Apaan sih stev!!, aku kan cuma mau minta ambilin nasi aja sama putri, nih put, tolong ambilin ya, sekaligus sama lauk pauk nya. Hehe." Ucap shine kembali memberikan piringnya pada putri.


Steven kembali menarik piring shine. "Kamu tuh dikasih hati minta jantung ya.!" Ucap stev sambil melotot pada shine.


"Ya elah.. Santai dong, nanti kucolok mata kamu, gak usah melotot sama aku. Tamu itu adalah raja, jadi harus perlakukan dengan baik. Ntar abis minta jantung, aku juga minta ginjal ya. hehe." Shine terkekeh melihat wajah suram stev sambil mengangkat piring nya kembali dan memberinya pada putri.


"Iya deh, sini biar aku juga ambilin kamu nasi sama lauk." Sahut putri sambil mengambil piring shine.


"Sayang!!" Stev menahan tangan putri.


"Stev, gak boleh gitu ah, lagian shine makan disini nggak tiap hari juga." Timpal putri membantah stev. stev pun melepaskan tanganya yang memegang tangan putri.


"Baiklah." Ucap stev tertunduk.


"Ffttt..." Shine tertawa kecil sembari menutup mulut nya. Steven hanya diam melihat shine yang sedang senang itu.


Sedangkan mama rani dan tante beserta om nya, hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka.


"Andainya aku hadir lebih awal sebelumnya, mungkin aku bisa merasakan kehangatan ini dari dulu." Batin tante shinta sembari tersenyum melihat keseruan steven dan shine.


mereka makan bersama sembari tertawa dan saling mengejek antara steven dan shine. Sesekali shine minta diperhatikan oleh putri membuat steven jadi geram, tapi shine sangat suka saat melihat steven kesal.


Setelah selesai makan, dan bersantai sebentar, shine pamit untuk pulang.

__ADS_1


"Bibi, makasih ya atas makan malam nya, aku sangat suka dengan masakan putri, lain kali aku akan makan disini lagi." Ucap shine tersenyum.


"Jangan!! Cukup sekali saja, gak ada lain kali." Bantah steven dengan cepat.


"Apaan sih, gak ngomong sama kamu juga." Jawab shine santai. "Oh iya, nih kunci rumah, itu duplikatnya, kalau mau kerumah datang saja." Shine memberikan kunci rumahnya pada mamanya.


"Eh.. beneran nak!! Terimakasih banyak. Mama dan papa akan segera mengunjungimu, tapi apa boleh kami tinggal bersamamu, kami akan mengurusimu dengan baik." Jawab mama shine.


"Hm.. Terserah kalian.!" Jawab shine dingin. "Aku pulang dulu putri dan dedek bayi." Shine kembali memegang perut putri untuk membuat stev kesal.


"Shine! jangan sembarangan! mau kutonjok hah?!." Stev geram sambil menepis tangan shine.


"Dasar kecebong air.!! gitu aja ketawa!." Timpal shine.


"Aku marah weii.. bukan ketawa! kamvret!!. Kamu kali yang kecebong!." Sahut stev emosi.


"Hm.. aku udak jadi katak! udah ah! aku mau pulang, bisa gila aku lama-lama disini." Shine melanjutkan langkahnya keluar rumah.


"Pergi sana! dari tadi kek! bikin emosi aja!."


Putri terkekeh melihat tingkaj stev dan shine yang kayak bocah itu.


_


Dua bulan berlalu, hari ini waktunya putri pergi kerumah sakit untuk cek kandunganya. Usia kandunganya sudah memasuki 10 minggu.


Putri tidak terlalu sering muntah atau mual, dan juga tidak mengidam yang aneh-aneh, hanya saja dia selalu ingin berada disisi stev, tak jarang dia menghabiskan waktu berama stev dikantor nya.


Setelah pulang, steven memberitahu mama nya tentang keadaan kandungan putri. Mama rani pun turut gembira dan makin memanjakan menantunya itu.


Kemudian steven membawa putri kekamar untuk menyuruhnya istirahat.


"Sayang, kamu istirahat dulu ya, kamu baru sudah minum vitamin." Ucap steven dengan lembut.


"Aku gak ngantuk, jangan suruh istirahat terus, gak baik juga kalau gak banyak gerak. Aku mau kekoridor aja, lagian belum terlalu siang, aku mau menikmati angin dulu." Jawab putri sambil berjalan menuju koridor diluar kamarnya.


"Oke, baiklah, biar aku temenin." Steven menyusul putri yang sudah berjalan didepan nya, sesampainya dikoridor, steven memeluk putri dari belakangnya.


"Sayang, bentar lagi perut kamu akan terlihat buncit, aku udah gak sabar melihat badanmu yang akan membesar, kamu harus jaga diri baik-baik ya sayang. Jangan sampai sakit." Ujar stev sambil mencium rambut putri.


"Iya bawel, aku gak akan cemas kalau ada kamu disisiku.


Oh iya, aku sudah lama tidak menelpon nenek setelah kita memberi tahunya saat aku hamil dua bulan lalu, gimana ya kabar nenek."


"Ya udah, kamu telpon aja sekarang, biar aku ambil ponsel kamu ya." Stev masuk kekamar untuk mengambil hp putri. kemudian memberikannya kembali.


"Nih, ponselmu."

__ADS_1


"Makasih ya sayang." Tutur putri tersenyum. Kemudian dia menelpon nenek nya yang berada diparis itu, tapi tidak ada jawaban, berulang kali putri nelpon tetap tidak dijawab.


Putri merasa sangat cemas. "Stev, kenapa ya nenek gak angkat telpon dariku, apa dia marah karna aku jarang menghubunginya,?aku jadi cemas." Ujar putri murung dan khawatir.


Steven merangkul putri dan mendekap kepalanya. "Sayang, mungkin nenek sedang sibuk, atau lagi tidur, coba kamu hubungi ketelpon rumah aja, siapa tau pembantunya yang angkat."


"Iya juga, aku gak kepikiran, aku telpon dulu deh." Putri langsung menelpon ketelpon rumah neneknya, tidak lama kemudian telpon itu dijawab, putripun tersenyum lega.


"Halo nenek,, nenek apa kabar?, kenapa gak jawab telpon lee. Nenek kemana saja? (dlm bhs paris) .


"Nyonya lee, maaf, saya adalah asisten rumah tangga."


"Oh, dimana nenek.?."


"Maaf nyonya,, nyonya besar tidak ada dirumah."


"Kemana dia? Tolong katakan, dimana nenek, aku merindukan nya, aku juga menghawatirkanya." Ujar putri tergesa-gesa.


"Nyonya besar, dia.. Mohon maaf nyonya, sebenar nya aku tidak diizinkan untuk memberitahu anda, karna ini adalah pesan dari nyonya besar."


"Katakan saja ada apa?, nanti biar aku yang menjelaskanya pada nenek, atau aku akan memecat kamu kalau kamu tidak memberitahuku." Ucap putri dengan kesal karna sudah sangat khawatir.


"Baik.. Baik.. Nyonya besar sebenarnya dia sedang dirawat dirumah sakit. Dia sengaja merahasiakan ini dari anda, supaya nyonya gak khawatir dengan nyonya besar."


"Apa?? Ya ampun nenek.. Kenapa harus merahasiakannya dariku.. Hiks..


Sudah berapa lama nenek dirumah sakit, dan penyakit apa yang menyerang nenek?."


"Nyonya besar mengalami komplikasi, jantung, ginjal, darah tinggi, dan lainya, aku juga belum tau betul nyonya, tapi nyonya besar sudah dirawat satu minggu ini."


Putri langsung menutup telpon nya lalu menangis tersedu-sedu membuat tubuh nya lemah dan terkulai, steven yang berada disisinya langsung memeluknya dan menggendongnya kembali kekamar dan membaringkanya.


"Sayang, kamu jangan terlalu banyak berpikir ya, nanti kamu sakit, doakan saja yang terbaik untuk nenek." Ucap steven mencium kening putri.


"Stev, apa kau bersedia menemaniku keparis, aku sangat mencemaskan nenek, aku janji, aku akan menjaga diri dan bayi ini dengan baik, aku takut kalau nanti aku sudah tidak bisa lagi bertemu dengan nya.. Hikss.." Putri menangis tiada henti.


"Baiklah sayang, tapi tunggu keadaan kamu stabil dulu ya. Besok atau lusa kita berangkat, aku akan memberitahunya pada mama dan juga om dan tante.


Sekarang kamu istirahat dulu, jangan terlalu tertekan." Stev mengusap kepala putri, dan memberinya semangat.


"Hm,, iya, makasih ya stev."


"Iya sayang." Steven menyelimuti putri dan tidur sembari mendekap putri untuk menenagkan rasa gundah dan khawatir dihatinya.


•••


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2