
Putri masih menangis didalam kamarnya bersama jeon dan mama rani yang menemaninya.
Drrrttt... Drrttt..
Getaran ponsel putri yang terletak diatas kasur. Putri pun beranjak untuk meraihnya.
"Nomor baru?." Ia pun menjawab telpon itu.
"Halo. Apa ini dari keluarga tuan steven jhonas?. Kami dari pihak rumah sakit xx, kami ingin menyampaikan bahwa tuan steven sedang dalam keadaan kritis setelah kecelakaan yang dia alami cukup parah, mohon pihak keluarga segera kemari untuk mengurusi beberapa surat."
"Apa.?? Stev.??." Putri langsung duduk lemas, tak terasa air matanya mengalir begitu deras, dia menangis tanpa suara, ponselnya pun jatuh begitu saja dari tangannya.
"Nak, ada apa? Siapa yang telpon?." Tanya mama kebingungan sembari menyambangi putri.
"Ma. Stev.. Dia kritis karna kecelakaan. Hikss.." Ujarnya dengan suara serak.
"Gak mungkin... Anak ku.!!! Stev.!!!" Teriak mama menangis histeris.
"Ma. Baiknya kita kerumah sakit sekarang, aku harus menemaninya, mama tolong siapkan botol dot dan susu buat jeon, aku akan menyiapkan pakaiannya, aku akan meminta shine untuk mengantar kita, aku gak mungkin bisa nyetir dalam keadaan begini." Ucap putri terisak tangis.
Mama dan putri pun langsung bergegas menyiapkan keperluan, tidak lama kemudian shine datang,
"Put, ada apa kau menyuruhku kesini buru-buru." Tanya shine bingung.
"Shine.. Stev kecelakaan, dia kritis shine.. Hikss. Aku gak nyangka ini beneran dia." Tangisan putri makin kencang.
Shine terdiam lemas mendengar kata itu. "Nggak.. Nggak!!.. Gak mungkin stev!!" Teriak shine dengan kuat.
"Put, ayo kita pastikan kerumah sakit sekarang, bibik, ayo kita cepat kesana." Shine menarik tangan putri dan membawa tas mereka masuk mobil.
Mereka langsung menuju rumah sakit , setibanya disana, putri harus menyaksikan stev yang tengah ditangani beberapa dokter, putri hanya bisa melihat melalui kaca dari luar pintu ruangan itu, dia hampir tidak mengenali suaminya itu karna berlumuran darah.
Seluruh tubuh putri langsung lemas seketika, dia pun duduk tertegun dengan isak tangisan didepan pintu ruangan IGD itu. Mama rani hanya duduk diam dikursi sambil menggendong jeon, dia tidak sanggup untuk melihat stev.
Shine mendekati putri dan membantunya berdiri.
"Put, mari duduk dikursi." Ucap shine sambil mengangkat tubuh putri yang lemas itu. Putri hanya diam dan menuruti kata shine.
__ADS_1
Shine duduk disebelah putri dan merangkul bahunya. Hatinya sangat teriris melihat kesedihan dan penderitaan yang dialami putri, terlebih jika dia melihat jeon, dia pun turut meneteskan air mata dan berharap semoga stev bisa diselamatkan.
Dari kejauhan, seehan sedang memandangi mereka, tidak sengaja shine melihat seehan yang sedang bersembunyi dan memantau mereka.
Seehan menyadari bahwa dia sudah dilihat oleh shine, diapun langsung melarikan diri.
"Tidak salah lagi, itu adalah seehan!, aku harus mengejarnya. Tapi aku gak mungkin meninggalkan mereka, biarkan saja dulu seehan bebas, nanti aku pasti akan membalasnya." Batin shine menatap tajam dengan geram dan penuh dendam.
Putri masih menangis tersedu-sedu dalam rangkulan shine, kemudian datang mama dan papa shine, beserta paman alex dan juga bianca dan mamanya.
Mereka langsung memeluk putri dan memberi semangat padanya. Mereka pun berdoa supaya stev bisa diselamatkan.
Seorang dokter keluar dari ruangan itu. Putri pun langsung berlari menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaan suami saya. Apa dia baik-baik saja?." Tanya putri gelisah dengan air mata yang masih berlinang.
"Maaf nyonya. Kami sudah melakukan yang terbaik, bahkan kami sudah mencoba melakukan oprasi. Karna terlalu banyak luka pada tubuhnya. Kepalanya terbentur cukup keras, tulang rusuknya patah, dan kakinya juga patah karna himpitan mobil.
Maaf.. Dengan berat hati kami menyampaikan ini, suami anda tidak bisa diselamatkan." Jelas dokter tertunduk.
Mendengar tuturan sang dokter, hati putri tak kuat untuk menerima tekanan itu, diapun langsung jatuh pingsan. Shine langsung sigap menangkapnya dan merangkulnya.
Mama rani memberikan jeon pada adiknya, shinta, karna tubuhnya gemetar, dia sudah tidak sanggup menggendong jeon.
"Stev.!! Anaku.. Jangan tinggalkan kami nak, kasian sama putri dan jeon, kenapa kau pergi secepat ini. Huuhuu.."
Tangisan itu sungguh menyesakan dada, tubuh mama rani gemetaran seakan mau pingsan, tapi dia masih bertahan, cukup putri saja yang pingsan, karna terlalu banyak merepotkan orang,. Shinta memeluknya sambil terisak tangis.
Dokter pun langsung membawa putri untuk segera ditangani. Tekanan itu cukup berat buat putri. Dia sudah tidak sanggup menahan kesedihannya hingga membuatnya nge-drop.
"Ma, kalian tolong jaga bibik dan jeon, biar aku yang menjaga putri." Ucap shine dengan cemas.
"Shine, aku ikut."Sahut bianca.
"Baiklah ayo."
_
__ADS_1
Dalam ruangan itu, putri dipasang infus setelah diperiksa oleh dokter.
"Dok, bagaimana keadaanya." Tanya shine cemas.
"Dia stres berat, dia sangat tertekan. Tubuhnya akan stabil karna sudah diinfus, setelah dia bangun nanti, tolong berikan semangat padanya. Dan jangan membuatnya lelah atau stres." Jelas si dokter. "Baiklah, saya permisi dulu."
"Baik dok, terimakasih."
Shine langsung menarik kursi dan duduk disamping ranjang putri. Dia menggenggam erat tangan putri, shine tertunduk, menaruh keningnya pada genggaman tangannya dan tangan putri.
Air matanya mengalir begitu deras membasahi tangan putri dalam genggaman tangannya, shine hanya diam tanpa sepatah kata pun.
Bianca berjalan mendekati shine.
"Shine, kita harus sabar, kita harus iklas dengan apa yang terjadi, jangan sampai kita terlihat sedih didepan putri, karna kitalah yang harus memberikan semangat padanya." Ucap bianca sambil memegang pundak shine.
"Bi, kita sudah lama mengenal putri, bahkan kau mengenalnya sejak kecil, kau tau betul apa yang sudah dia alami selama ini, dari kecil dia sudah menderita karna kehilangan kedua orang tuanya. Tapi dia masih bisa bangkit, dia kuat dan tegar menjalani hidupnya sampai dia dewasa dan berhasil sukses."-
"Tapi kenapa..?? Kenapa saat ditengah kebahagiaannya sekarang, malah direnggut lagi sama tuhan. Sebenarnya apa salah dia..?? Ini sangat tidak adil buat putri. Aku saja tidak kuat dengan semua ini, apa lagi dia.!"-
"Aku tidak yakin dia bisa bangkit kembali. Karna hidupnya adalah suaminya. Hatiku sangat hancur melihat keluarganya seperti ini. Aku tidak bisa menerima takdir yang diberikan pada putri.
Aku bersumpah.!! Aku akan menghancurkan siapapun yang telah membuat putri seperti ini, aku akan membalasnya tanpa ampunan.!"
Shine sangat marah, tatapan mata nya begitu tajam, dendam dalam hatinya makin membesar, dia akan menumpas siapa saja yang menyakiti orang yang dia sayangi itu. Dan dia juga akan membalaskan kematian steven.
Air mata nya menandakan bahwa dia benar benar masih mencintai putri. Dia sungguh tidak tega melihat hidup putri hancur seperti itu.
Shine kembali menggenggam tangan putri.
"Put, mulai saat ini, aku berjanji padamu dan jeon, aku yang akan bertanggung jawab atas hidup kalian, untuk menggantikan posisi stev, aku tidak berharap kalau kau mencintaiku, tapi aku hanya ingin melindungi kalian dan membuat kalian bahagia. Aku tidak akan membiarkan siapapun lagi mengusik hidup kalian. Aku jamin itu.. Ingat lah janjiku ini." Ucap shine sungguh-sungguh dalam tangisanya sambil mencium tangan putri.
Mendengar shine berkata seperti itu, bianca pun turut menangis, pupus sudah harapannya untuk bisa kembali berasama shine, tapi dia mencoba untuk tidak egois, karna putri lebih membutuhkannya dari pada dia. Bianca menghargai keputusan shine. Walau bagaimana pun, mereka adalah orang yang penting bagi bianca, diapun memilih mundur dan akan melupakan shine.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1
(Stev?😢)