
Saat cindy dan jennie kembali setelah membeli es krim, mereka kaget dengan orang yang duduk dibangku mereka tadi.
"Eh!! Kak jeon?? Kakak lagi sama siapa?? Kenapa gak sama kak cindy?. Kakak ada waktu buat wanita lain? Tapi kakak mengabaikan kak cindy??" Ujar Jennie sangat marah pada kakaknya itu.
"Sayang, bukanya gitu,, ini hanya teman kakak, kamu masih kecil, belum mengerti masalah kakak." Jawab jeon berusaha meyakinkan jennie.
"Aku bukan anak kecil lagi kak." Teriak jennie penuh emosi.
"Dek, sudahlah,, lebih baik kita pergi saja." Cindy menghentikan amarah jennie dan menarik tangannya, lalu mengajaknya pergi dari taman.
Lucy berpura-pura untuk mengejar cindy dan jennie.
"Cindy tunggu.!!" Teriak lucy.
Jeon meraih tangan lucy. "Sudah!! Biarkan saja dia pergi, mungkin dia butuh waktu, untuk saat ini aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Aku tidak mengerti dengan sifatnya yang berubah tiba-tiba itu." Ucap jeon sembari menarik tangan lucy dan membawanya duduk kembali.
Lucy tersenyum lebar. "Hmm.. Memang ini yang kuinginkan."
"Emm.. Jeon, kamu bilang ada yang ingin kau sampaikan, ada apa?." Tanya lucy menatap jeon.
"Kamu kan tinggal satu rumah dengan cindy, dan kalian juga sama-sama remaja, apakah kamu tau apa yang sedang dialami oleh cindy sekarang, karna aku benar-benar bingung dengan dia. Kenapa dia bisa berubah secepat ini, sedangkan dia tidak memberitahuku apa alasan nya untuk menjauhiku." Jelas jeon.
"Aku juga gak tau sih, karna aku gak mau terlibat dalam urusan rumah tangga mereka. Tapi beberapa kali aku mendengar mereka cek-cok, gak tau soal apa. Aku pernah dengar orang tuanya cindy menyebut nama kamu, mungkin mereka gak setuju kalau kamu terlalu dekat dengan cindy." Jawab lucy mengarang.
"Ya, itu masuk akal. Karna cindy bilang, dia hanya butuh ketenangan.. Tapi kenapa orang tuanya gak suka sama aku, selama ini mereka selalu menyetujui apa pun yang aku lakukan bersama cindy." Timpal jeon kebingungan.
"Sepertinya kamu salah jeon. Mungkin mereka suka sama kamu hanya didepan kamu dan keluarga kamu saja. Kita kan gak tau isi hati orang." Sahut lucy menambah kebingungan jeon.
"Jika benar mereka seperti itu, maka aku gak akan tinggal diam, siapa tau kamu benar jika mereka hanya baik didepan kami. Aku takut jika masalah ini dibiarkan, maka mereka akan menjadi penghianat nantinya.
Aku akan membahas masalah ini sama mama dan papa, aku akan meminta mereka untuk mengusir keluarga cindy dari rumah mama, dan memecat papa cindy dari kantor papa."
Lucy kaget dengan tuturan jeon. "Emm.. Jeon! Kamu jangan mengambil keputusan dengan cepat, mending kamu selidiki saja dulu, jika memang mereka salah, baru kamu bisa mengusirnya." Sahut lucy ragu-ragu.
"Kamu benar juga, aku tidak boleh memutuskan sendiri. Terimakasih ya, aku sangat lega bisa curhat sama kamu." Ucap jeon tersenyum pada lucy.
"Aku seneng kok bisa dengerin cerita kamu. Aku bahagia berada disamping kamu. Eh. Udah sore nih, Kita pulang yuk."
"Sebelum pulang, aku traktir makan dulu. Mau gak?" Ucap jeon menatap lucy.
"Wahh. Kamu baik banget sih,, mau dong,, ayoo." Dengan semangat, lucy menggandeng tangan jeon sembari berjalan.
_
Disaat yang bersamaan, jennie mengajak cindy untuk ikut bersamanya pulang kerumah jennie.
Setelah sampai, mereka disambut hangat oleh stev dan putri.
"Cindy?? Kamu apa kabar? Sudah lama ya gak main kerumah tante, kamu makin cantik aja." Ucap putri sembari memeluk cindy dengan ramah.
"Maaf, aku sibuk tante, makanya baru sempat kesini. Tante dan om apa kabar.?" Timpal cindy kembali menyapa.
__ADS_1
"Kita sehat saja. Mari silahkan masuk. Malam ini tidur sini aja ya temani jennie." Ujar putri menahan cindy pulang.
"Em.. Lain kali aja tante." Jawab cindy singkat.
"Malam ini saja lah,, nanti tante yang bilang sama mama kamu. Udah lama loh kamu gak menginap disini." Timpal putri tersenyum.
"Iya deh.. Aku ngalah." Sahut cindy tersenyum.
"Nah gitu dong. Ya udah sekarang pergilah kekamar, cepat mandi, nanti kita makan malam bersama."
"Iya tante, kalau gitu, aku dan jennie kekamar dulu ya."
Setibanya dalam kamar jennie. Cindy langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Jennie pun turut duduk disamping cindy.
"Kak. Ada masalah apa antara kak cindy sama kak jeon? Apa kalian sedang berantem.lalu siapa cewek tadi?" Tanya jennie penasaran.
"Kita gak ada masalah apa-apa kok dek. Cewek itu tadi namanya lucy, dia teman kakak, dan tinggal dirumah kakak. Dia dan jeon hanya berteman. Kakak dan jeon juga cuma berteman, jadi, tidak ada yang harus dipermasalahkan." Jelas cindy pada jennie.
Tidak lama kemudian, jeon pulang dan langsung masuk kerumah.
"Jeon? Kamu sudah pulang? . Cepat mandi, sebentar lagi kita mau makan malam, ada cindy diatas, mama memintanya untuk tidur disini malam ini." Ucap putri pada anak sulung nya itu.
"Jeon sudah kenyang ma,, sebelum pulang tadi jeon sudah makan direstoran. Setelah mandi nanti, jeon mau langsung tidur aja, capek banget. Aku keatas dulu ya ma." Ujar jeon sembari berjalan menuju kamar nya.
Sesampainya dia diatas, dia mendengar suara cindy dari dalam kamar adiknya yang bersebelahan dengan kamarnya itu.
"Cindy?." Ucap jeon pelan, lalu dia pergi meninggalkan kamar adiknya itu.
Cindy hanya menurut tanpa bicara.
"Ayo duduk lah, mari kita makan." Putri menyiapakan hidangan diatas meja.
"Kak jeon gak ikut makan ma?" Tanya jennie.
"Katanya, dia sudah makan direstoran sebelum pulang, dia lagi istirahat dikamarnya." Jawab putri melanjutkan hidangannya
Cindy hanya tertunduk diam. Dan menyelesaikan makan malamnya tanpa banyak bicara.
Malam itu, saat semuanya tengah tertidur, cindy hanya duduk termenung diatas sofa dibawah cahaya lampu yang redup.
"Ya tuhan, aku bingung, apa keputusanku menjauhi jeon ini benar atau salah. Dulu aku bukanlah siapa-siapa, karna jeon dan keluarganya lah aku bisa jadi seperti sekarang.
Tapi aku bingung terhadap kak lucy yang juga menyukai jeon sejak lama. Aku tidak ingin dia pergi lama lagi setelah sekian tahun tidak bertemu." Cindy tertunduk sedih dan berlinang air mata.
Jeon sudah memperhatikan cindy sedari tadi, karna saat dia hendak turun, dia mendapati pintu kamar jennie yang tersingit sedikit, lalu diapun melihat cindy yang sedang duduk sendirian itu.
Jeon membatalkan niatnya untuk turun kebawah, dia pun kembali lagi kekamarnya. Dan langsung duduk dikursi didekat ranjang nya.
"Cindy!!! Sebenar nya apa sih yang ada dipikiran kamu, kenapa malam ini kamu terlihat sangat sedih. Masalah apa yang sedang kamu hadapi sekarang.
Jujur, aku gak tega melihat air matamu berjatuhan seperti itu. Tapi aku gak bisa menghapusnya." Ucap jeon sambil memukuli kasurnya. Jeon sangat terpukul memikirkan kesedihan cindy.
__ADS_1
"Aku gak bisa diam saja seperti ini, aku harus mencari tau apa yang terjadi pada cindy. Aku harus bergerak sendiri dengan caraku sendiri." Tegas jeon bertekad kuat
_
Keesokan paginya, putri meminta jeon untuk mengantar cindy pulang. Mereka pun bersikap manis saat didepan putri dan stev. Lalu jeon mengantar cindy pulang.
Selama diperjalanan, cindy hanya diam dan hanya melihat keluar jendela mobil.
"Cindy?? Apa kau sudah membenciku sekarang?" Tanya jeon menatap cindy.
"Aku tidak membencimu, tidak membenci siapapun. Aku hanya ingin menjauhimu saja." Jawab cindy cuek.
"Tapi kenapa?? Ada masalah apa denganmu?." Tanya jeon penasaran.
"Jeon!! Tolong hentikan mobilnya aku naik taxi saja. Aku gak mau kau mengantarku sampai depan rumah, aku gak mau lucy melihatku bersamamu." Ujar cindy.
"Lucy lagi.. Lucy lagi.! Apa hanya perasaan dia yang kau pedulikan? Tapi kau mengabaikan perasaanku? Apa kau cemburu saat aku bersamanya.?" Sahut jeon yang masih melajukan mobilnya.
"Aku tidak cemburu, karna kau tidak mencintai kamu. Aku sudah bilang, kalau lucy sangat mencintaimu sudah sejak lama. Kau lebih cocok untuknya dari pada denganku. Tolong hentikan mobilnya, aku mau turun!."
Jeon terbawa emosi. "Oke.!!! Cindy?! Ingat!! Kau yang meminta ini. Dengar ya, mulai sekarang aku tidak akan mempedulikan apapun lagi tentang kamu. Jika kau membenciku silahkan!! Aku tidak ingin lagi bertemu denganmu mulai saat ini.!! Saat kau mulai menyesal suatu saat, maka kau jangan pernah menyalahkan aku. Silahkan turun!!! Turun sekarang!!!." Jeon membentak cindy dan menyuruhnya turun dari mobilnya. Jeon pun ikut turun.
"Terimakasih jeon." Cindy langsung berlari ketepi jalan untuk mencari taxi, ia berjalan tertunduk.
"Dia nangis.??." Jeon baru sadar dengan apa yang sudah dia ucapkan pada cindy, diapun mengejar cindy.. "Cindy!! Tunggu!! Tolong maafin aku. Tadi aku hilaf aku terbawa emosi."
Jeon tidak berhasil mengejar cindy karna cindy sudah masuk kedalam taxi. Jeon pun kembali lagi kemobilnya.
"Ahh..!! Sialan!! Brengsek!!" Jeon memukul mobil nya dengan kuat hingga membuat jemarinya berdarah. Lalu dia pergi meninggalkan tempat itu.
Jeon pergi ke bar tempat biasanya dia nongkrong bersama temannya yang juga tempat dimana lucy bekerja.
Setibanya disana. Lucy kaget dengan kedatangan jeon, diapun langsung menghampirii jeon.
"Heii jeon!! Ada apa kemari pagi-pagi. Disini masih sepi." Sapa lucy dengan ramah sembari duduk didekat jeon.
"Lucy, bawakan aku anggur tiga botol. Cepat!" Ucap jeon bernada tinggi.
"Baikah.. Tunggu ya.." Dengan sigap, lucy langsung membawakan tiga botol anggur itu untuk jeon.
Dengan cepat, jeon menghabiskan tiga botol alkohol itu. Hingga membuatnya pingsan karna tak kuat mabuk.
"Hah?? Dia pingsan?? Kasian sekali kamu jeon, pasti kamu sedang patah hati karna si bocah udik itu." Ucap lucy sambil membelai wajah jeon.
Lucy berniat membawa jeon ke kosan yang pernah dia huni dulu, dia ingin mengambil foto jeon dan melucuti bajunya, karna dia ingin membuat orang tau kalau dia dan jeon sudah pernah bersetubuh.
Tapi rencana yang dia susun itu gagal seketika pemilik bar Itu datang, diapun kaget melihat temannya yang sudah pingsan itu. Dia pun menyuruh bawahannya untuk menggotong jeon menuju ruangan pribadinya. Dan membaringkannya dikasur.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1